tirto.id - Ramadan tahun ini menghadirkan pengalaman baru bagi Anisa Saharia (16). Jika pada tahun-tahun sebelumnya ia menjalani bulan puasa di sebuah rumah kontrakan sederhana di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, Anisa menunaikan ibadah puasa di lingkungan Sekolah Rakyat.
Anisa tercatat sebagai satu-satunya murid beragama Islam di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang. Meski jadi minoritas, ia tak merasa tersisih. Justru teman-temannya yang mayoritas non-muslim menunjukkan sikap peduli dan toleransi.
Beberapa dari mereka terbiasa bangun lebih awal guna membantu Anisa agar tidak melewatkan waktu sahur. Mereka bahkan menemaninya makan sahur. "Anisa bangun, sudah waktunya sahur," ujar Anisa menirukan teman-temannya.
Selama bulan Ramadan, Anisa terbiasa bangun sekitar pukul 03.00 hingga 03.30 WITA untuk sahur. Makanan sahur sudah disiapkan di ruang makan atau diantarkan ke asrama. Tak jarang, ia ditemani teman-temannya saat menyantap sahur. Setelah sahur, Anisa melanjutkan aktivitas dengan menunaikan salat subuh.
Anisa juga mendapatkan pendampingan dari salah satu wali asuh untuk mengisi kegiatan pada bulan Ramadan. Ia sekaligus mengikuti pesantren kilat di salah satu sekolah di Kupang untuk mempelajari berbagai hal tentang ibadah, seperti tata cara salat, berwudhu, hingga berdoa.
Meski menjalani puasa, Anisa tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar dan aktivitas ekstrakurikuler di Sekolah Rakyat seperti biasanya. Jadwal yang cukup padat tidak mengurangi semangatnya untuk tetap aktif.
Menurut Anisa, dukungan dari teman-temannya membuatnya dapat menjalankan ibadah puasa tanpa kendala. Ia merasakan ada sikap saling menghargai yang kuat di antara para siswa. Teman-temannya, kata Anisa, selalu menghargai ibadah yang dijalaninya dan tidak pernah makan di hadapannya saat ia sedang berpuasa.
Selain sahur bersama, sesekali Anisa juga berbuka puasa bersama siswa lainnya. Salah satu momen yang paling berkesan terjadi saat pengurus OSIS SRMP 19 Kupang mengadakan buka puasa bersama khusus untuknya.
Pada momen buka bersama itu, Anisa berbagi cerita tentang pengalamannya berpuasa saat Ramadan sekaligus dipercaya memimpin doa. Suasana kebersamaan seperti itu menjadi wujud nyata toleransi di Sekolah Rakyat. Meskipun berbeda keyakinan, para murid hadir dalam kebersamaan yang tanpa sekat.
"Teman-teman selalu memberi semangat, mereka bilang: semangat puasa, Anisa," tuturnya.
Salah satu guru SRMP 19 Kupang, Maria Cindayani Rosari Limun (25), turut membagikan pengalamannya menyaksikan sikap toleransi yang ditunjukkan para siswa. Menurut dia, teman-teman satu asrama Anisa dengan sukarela mengambil inisiatif untuk membangunkannya saat sahur.
"Ada satu-dua anak yang bangun yang lebih pagi, sehingga berinisiatif membangunkan Anisa saat sahur," kata Maria.
Menurut dia, selama bulan Ramadan, Anisa tetap terlihat bersemangat mengikuti berbagai kegiatan di sekolah. "Teman-temannya sangat semangat, dia juga ikut semangat. Semua kegiatan kokurikuler, pembelajaran, bahkan sampai ekstrakurikuler, dia ikuti semua,” ujar Maria.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































