tirto.id - Perjalanan antarkota dapat memakan waktu berjam-jam, bahkan lebih dari setengah hari. Bagi supir, perjalanan seperti ini bukan hanya membawa mobil dari satu kota ke kota lain. Ada banyak hal yang harus dihadapi di sepanjang jalan, seperti kemacetan yang lama, perubahan cuaca, jalan baru, dan perlahan menjadi lelah ketika perjalanan menjadi bosan.
Bekerja sebagai supir lepas yang sering disewa keluarga untuk perjalanan antarkota, Pak Aan (32) lebih sering berada di jalan selama musim mudik, ketika banyak orang pulang untuk berkumpul dengan keluarga mereka.
“Kalau musim mudik biasanya pekerjaan lebih banyak,” katanya.
Pendapatan pada periode ini bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. Bahkan, ia kerap disewa selama beberapa hari hingga setelah Lebaran untuk perjalanan mudik dan balik.
Konsekuensinya, ia jarang ikut mudik bersama keluarga. Istri dan anaknya biasanya tetap tinggal di rumah.
“Kadang mereka ingin ikut mudik juga, tapi ya saya yang justru mengantar orang lain mudik,” ujarnya.
Tantangan dari Balik Kemudi saat Perjalanan Jarak Jauh

Aspal panas jalur Pantura bukan sekadar jalanan biasa bagi Pak Aan. Baginya, itu adalah garis perjuangan. Sebagai supir mobil carteran antarkota yang sudah bertahun-tahun mengantar pemudik, momen Lebaran adalah waktu di mana konsentrasinya diuji hingga batas maksimal.
Di saat jutaan orang memejamkan mata dalam lelap di bangku penumpang, ada sepasang mata yang tetap terjaga, menatap tajam ke depan, memastikan setiap nyawa sampai ke pelukan keluarga.
Menurut Pak Aan, kemacetan di jalan raya adalah salah satu masalah terbesar selama musim mudik. Perjalanan sering berlangsung jauh lebih lama dari yang diharapkan karena arus kendaraan yang sangat padat.
Fenomena ini sudah lama ada. Sebuah survei yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan tahun 2024 menunjukkan bahwa masyarakat dapat melakukan lebih dari 190 juta perjalanan dalam satu waktu selama mudik Lebaran. Sebagian besar perjalanan tersebut dilakukan dengan mobil atau bus.
Lonjakan mobil ini membuat jalan raya dan arteri jauh lebih padat dari biasanya. Kemacetan berjam-jam menambah waktu tempuh dan membuat pengemudi lelah lebih cepat.
Perjalanan panjang sering menimbulkan masalah lain selain kemacetan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) di Amerika Serikat, kelelahan pengemudi bertanggung jawab atas sekitar 13 persen kecelakaan lalu lintas serius. Kelelahan yang disebabkan oleh berkendara dalam waktu yang lama tanpa istirahat yang memadai adalah penyebab utama dari masalah ini.
Supir sering kali harus tetap fokus sendirian saat penumpang tertidur. Pak Dananjoyo (45), supir antar kota yang sudah bertahun-tahun mengemudi perjalanan jarak jauh, juga merasakan hal ini.
Dia menyatakan bahwa mengantuk biasanya menjadi masalah saat mengemudi jauh.
Mengantuk bisa datang lebih cepat saat berkendara di jalan raya yang panjang dan lurus. Ada istilah khusus untuk kondisi ini, yakni ‘hypnosis jalan raya, yaitu saat pengemudi terus mengemudi, tetapi tidak fokus karena perjalanan yang monoton.
Tantangan perjalanan mudik jarak jauh yang lain adalah pengemudi harus menghadapi kondisi jalan yang belum pernah dilalui sebelumnya. Sering kali ketemu perbaikan jalan, hingga medan yang cukup menantang.
Dalam kisahnya, Pak Dananjoyo pernah mengalami perjalanan menuju kawasan pegunungan melalui jalur yang belum familiar. Kondisi ini ia temui di malam hari. Lebih-lebih lagi, jalan yang gelap membuat perjalanan terasa lebih menegangkan.
Kondisi jalanan yang berkelok tajam dan hal-hal menantang lainnya tentu menuntut kewaspadaan visual yang luar biasa, yang mana setiap pantulan lampu sorot pada marka jalan menjadi satu-satunya panduan navigasi yang tersisa.
Kondisi khusus pemudik di jalur pegunungan itu mengajarkan kita bahwa ‘fokus’ adalah aset paling berharga bagi seorang pengemudi. Sekali saja fokus itu terputus oleh rasa lelah atau dehidrasi, risiko besar taruhannya.
Yang Sebaiknya Dilakukan Supir Selama Perjalanan
Pernahkah kita bertanya-tanya, apa yang terjadi di balik kemudi saat kita tertidur lelap di kursi penumpang? Bagaimana mereka melawan gravitasi kelopak mata yang memberat di pukul tiga pagi? Ternyata, rahasianya bukan pada suplemen berlebihan, melainkan pada ritme dan hidrasi.
1. Jaga Kondisi Tubuh sebelum Perjalanan
Bagi seorang supir bus antarkota atau supir travel, mudik adalah periode "High Season" yang menuntut segalanya: fisik, mental, dan intuisi. Mari kita ambil contoh kisah Pak Aan. Menurutnya, menjaga kesehatan tubuh sebelum perjalanan adalah hal yang harus dilakukan supir sebelum perjalanan.Senada dengan Pak Aan, Pak Dananjoyo pun mnegaskan, perjalanan panjang bagi supir jarak jauh sebenarnya dimulai sebelum kendaraan bergerak.
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah persiapan fisik. Dananjoyo mengatakan bahwa supir harus memastikan bahwa mereka mendapatkan cukup istirahat sebelum berangkat.
"Kalau mau nyetir jauh, tidur cukup sebelumnya."
Sebagaimana dikutip dari laman kesehatan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang dewasa harus tidur sekitar 7-9 jam setiap malam. Hal ini dikarenakan kurang tidur dapat memperlambat refleks dan menurunkan konsentrasi, yang keduanya sangat penting untuk berkendara.
2. Pastikan Kondisi Kendaraan sebelum Berangkat
Memastikan kendaraan sebelum berangkat adalah hal yang wajib dilakukan untuk keselamatan bersama. Hal ini yang selalu dilakukan Pak Dananjoyo. Ia biasanya memeriksa beberapa komponen kendaraan yang penting, seperti bahan bakar, oli mesin, minyak rem, dan tekanan ban.Jika oli kendaraan sudah habis, ia memilih untuk menggantinya sebelum perjalanan.
“Lebih baik mengganti oli sebelum perjalanan jauh jika sudah mendekati waktunya,” katanya.
Berbagai riset menyatakan, beberapa kondisi kendaraan yang tidak baik dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Hal ini seperti kondisi rem yang tidak berfungsi atau ban yang aus. Karena itu, pemeriksaan kendaraan sebelum perjalanan adalah tindakan penting yang sebaiknya tidak dilewatkan.
3. Menjaga hidrasi agar tetap fokus di balik kemudi
Supir berpengalaman tidak hanya melihat kendaraan di depannya, tapi juga memprediksi pergerakan tiga kendaraan ke depan. Ini membutuhkan kerja otak yang intens.Untuk tetap menjaga fokus, tubuh wajib untuk tetap terhidrasi. Selain makan, minum cukup air adalah hal yang sering dianggap sepele tetapi sangat penting.
Pengemudi sering lupa untuk minum saat bepergian jauh, meskipun sedikit dehidrasi dapat memengaruhi konsentrasi.
Menurut penelitian yang dilakukan di Loughborough University di Inggris, pengemudi yang mengalami dehidrasi ringan melakukan kesalahan yang lebih besar dalam simulasi mengemudi dibandingkan dengan pengemudi yang cukup minum air.
Oleh karena inilah, Pak Dananjoyo selalu menyediakan air mineral di dekat kursi pengemudi.
“Sekurang-kurangnya ada air mineral di dekat kursi,” katanya.
Untuk membuatnya mudah mendapatkan air, botol biasanya diletakkan di tempat yang mudah dijangkau. Ini memungkinkan dia untuk mengambilnya tanpa mengalihkan pandangan terlalu lama dari jalan.
Sebuah bus membutuhkan air radiator untuk mencegah overheat. Manusia pun demikian. Selama perjalanan mudik, suhu di dalam kabin bisa berfluktuasi. AC yang menyala terus-menerus sebenarnya menyerap kelembapan tubuh, membuat tenggorokan kering dan kulit dehidrasi tanpa disadari.
Untuk menjaga tubuh tetap segar selama perjalanan panjang, tegukan air kecil sering kali cukup. Banyak pengemudi membawa air minum kemasan seperti AQUA di mobil mereka. Praktis, dapat diakses, dan dapat dikonsumsi kapan saja selama perjalanan.
"Jika badan segar, nyetir juga lebih fokus," katanya.
4. Rest Area sebagai Titik Penyelamat Perjalanan

Ketika dia merasa lelah, Pak Aan dan Pak Dananjoyo biasanya mencari area istirahat seperti rest area atau SPBU untuk berhenti sejenak.
“Lebih baik berhenti dan tidur sebentar jika sudah benar-benar ngantuk,” katanya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh AAA Foundation for Traffic Safety menunjukkan bahwa tidur singkat selama 20-30 menit dapat membantu mengembalikan kewaspadaan pengemudi yang lelah.
Supir biasanya keluar dari mobil, berjalan sebentar, mencuci muka, atau hanya duduk dan minum air sebelum melanjutkan perjalanan di rest area. Mereka juga kadang-kadang tidur sebentar.
Keputusan untuk berhenti sebentar ini sering kali membedakan perjalanan yang aman dari yang berisiko.
“Bahaya jika dipaksakan nyetir saat ngantuk,” kata Pak Aan.
Bagi para supir seperti Pak Aan dan Pak Dananjoyo, perjalanan panjang bukan sekadar soal mengemudi. Ada banyak keputusan kecil yang harus diambil sepanjang perjalanan, mulai dari kapan berhenti, kapan beristirahat, hingga bagaimana menjaga tubuh tetap segar di balik kemudi.
Di balik kemudi itulah mereka memastikan satu hal yang paling penting: semua orang bisa sampai di tujuan dengan selamat.
Editor: Nanda Saputri
Masuk tirto.id
































