tirto.id - Chief Economist Danantara, Reza Yamora Siregar, mengungkapkan bahwa banyak rencana investasi perusahaannya dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mengerek harga saham di bursa.
Menurut Reza, setiap kali Danantara berencana masuk ke sektor atau proyek tertentu, harga saham terkait kerap melonjak meski perusahaan tidak pernah mengumumkan rencana tersebut secara publik.
“Banyak sekali isu-isu yang kadang-kadang sudah muncul, dimunculkan, kami enggak tahu dari mana. Dan setiap kali misalnya Danantara mau masuk ke sektor A atau ke perusahan A, langsung itu kena jadi kenaikan di stock exchange. Sedangkan kami tidak pernah ngomong publik tentang itu,” ujar Reza dalam diskusi bertajuk "Arah Danantara Kedepan untuk Kemandirian Ekonomi: Sovereign Fund atau Agent of Development", Senin (11/8/2024).
"Jadi kami dipakai untuk menggoreng stock yang ada di stock exchange," imbuhnya.
Karena itu lah, menurut Reza, Danantara cenderung menahan informasi di dalam lingkup direksi dan pengurus internal perusahaan. Termasuk, soal melakukan transformasi besar-besaran yang sedang dilakukan, yakni pemangkasan jumlah perusahaan pelat merah hingga anak cucu-nya sekitar 1.000 menjadi hanya 200 yang dinilai kompetitif.
Perampingan ini diiringi penguatan tata kelola, desain ulang model bisnis, hingga efisiensi struktur manajemen. "Nah ini yang tidak bisa kita share unfortunately ke publik.Proses ini mesti pelan-pelan kami matangkan di dalam dan proses ini dijalankan di dalam," jelasnya.
Ia juga menyoroti langkah berani manajemen dalam mengurangi hampir 50 persen jumlah komisaris di BUMN, terutama sektor perbankan, serta melakukan peninjauan ulang sistem bonus bagi pejabat tinggi BUMN.
Meski begitu, Reza menegaskan sebagian proses transformasi tersebut tidak bisa dibuka ke publik demi menjaga strategi perusahaan. Ia optimistis, jika transformasi berjalan lancar, Danantara dapat lebih berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. "Kalau kita berhasil mengejarkan ini.Kita, saya pikir 5, 6, 7 persen (pertumbuhan ekonomi) itu nggak sulit," tegasnya.
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id


































