tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik chlor alkali – ethylene dichloride (CA-EDC) milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) di Cilegon, Banten.
Namun, menurut Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy TPIA, Edi Rivai, hingga saat ini kesempatan yang terjalin antara dua entitas ini masih dalam tahap menjajaki kesepakatan-kesepakatan yang akan dilakukan, termasuk nilai investasi.
“Masih dalam proses (deal-deal),” katanya saat ditemui di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Namun, Edi mengatakan bahwa total kebutuhan investasi untuk membangun pabrik petrokimia ini berkisar antara Rp13 triliun hingga Rp15 triliun.
Hanya saja, dia belum dapat menyebutkan berapa nilai investasi yang akan digelontorkan oleh Danantara dalam pembangunan pabrik tersebut.
“Kita punya Non-Disclosure Agreement (NDA) ya. Enggak bisa jawab ya. Apalagi kawan-kawan media. Itu terlalu sensitif,” ujarnya.
Akan tetapi, Edi memastikan bahwa pabrik CA-EDC ini sudah masuk tahap pembangunan. Bahkan progresnya hingga saat ini sudah mencapai 33 persen dan dipastikan beroperasi di awal 2027.
“Kalau update, kita lagi membangun pabrik Chandra Asri alkali. Saat ini sedang berjalan. Kita harap on time nanti. Di awal 2027 dia udah bisa on stream,” ucapnya.
Diketahui, pabrik milik Chandra Asri Group di Cilegon, Banten, telah mencapai 33 persen yang meliputi tahap awal pembangunan seperti perataan lahan, pemadatan tanah, serta persiapan konstruksi fasilitas jetty yang akan mendukung distribusi produk, baik untuk pasar domestik maupun kawasan Asia Tenggara.
Pabrik CA-EDC akan dikelola oleh PT Chandra Asri Alkali (CAA), anak usaha dari Chandra Asri Group. Proyek ini merupakan fase pertama yang mencakup pabrik dengan kapasitas produksi 400.000 ton soda kaustik padat per tahun serta 500.000 ton Ethylene Dichloride.
Kehadiran pabrik ini diproyeksikan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia strategis, dengan potensi kontribusi devisa mencapai Rp5 triliun per tahun.
Selain itu, substitusi impor soda kaustik juga diperkirakan mampu memberikan penghematan hingga Rp4,9 triliun per tahun.
Hasil produksi pabrik inj diharapkan dapat memperkuat hilirisasi nasional dengan menyediakan bahan baku penting bagi berbagai sektor industri nasional, mulai dari pengolahan air, pembuatan sabun dan deterjen, pemurnian alumina, hingga pengolahan nikel.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id


































