tirto.id - Contoh literasi tentang pahlawan bisa memberikan masyarakat dan siswa pemahaman terhadap sejarah perjuangan orang-orang terdahulu. Membaca tulisan tentang Hari Pahlawan juga menjadi cara untuk meningkatkan literasi bangsa.
Literasi tentang Hari Pahlawan tidak hanya berguna mengingatkan masyarakat atas pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan. Literasi Hari Pahlawan juga dapat menjadi medium pendidikan yang memperluas pengetahuan sejarah dan nilai-nilai kepahlawanan.
Contoh tulisan tentang Hari Pahlawan dapat berkaitan dengan latar belakang Hari Pahlawan, tokoh yang terlibat dalam peristiwa 10 November, serta makna Hari Pahlawan. Simak contoh literasi pahlawan nasional di dalam artikel ini.
Sejarah dan Latar Belakang Hari Pahlawan
Untuk memahami peristiwa masa lalu, masyarakat maupun siswa-siswi bisa menyimak sejarah singkat Hari Pahlawan 10 November 1945 dan literasi pahlawan nasional lainnya. Lantas, bagaimana sejarah beserta latar belakang Hari Pahlawan?
Sejarah Hari Pahlawan di Indonesia berakar pada pertempuran bersejarah di Surabaya pada 10 November 1945. Kala itu, rakyat Indonesia mengalami perselisihan dengan pasukan Sekutu dan Belanda setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa bersejarah di Surabaya pun menjadi simbol perlawanan dan perjuangan keras rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih. Pertempuran Surabaya merupakan konflik terbesar dalam sejarah revolusi nasional Indonesia.
Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pasukan Sekutu Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), yang terdiri dari pasukan Inggris, Belanda, dan Palang Merah Internasional, datang ke Indonesia. Dalih kedatangan pasukan Sekutu pada 25 Oktober 1945 adalah melucuti senjata pasukan Jepang setelah kekalahan mereka dalam Perang Asia Timur Raya.
Sebenarnya, situasi sudah memanas sejak insiden di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Kehadiran Sekutu selanjutnya pada akhir Oktober 1945 menambah ketegangan di Surabaya.
Pada 27-29 Oktober 1945, perang pertama terjadi antara para pemuda Surabaya dan pasukan Sekutu. Pertempuran tersebut berujung pada kematian Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, pemimpin pasukan Inggris di Jawa Timur.
Kematian Mallaby lantas memicu kemarahan pihak Inggris. Pasukan Inggris, di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Robert Mansergh, mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945. Mereka menuntut penyerahan senjata dan menandatangani pernyataan menyerah.
Akan tetapi, para pemimpin dan rakyat Surabaya menolak ultimatum dan bertekad mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lantas, pecahlah pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Pertempuran yang baru berakhir pada 2 Desember 1945 tersebut memakan puluhan ribu korban jiwa, baik dari pihak Indonesia maupun Sekutu, serta mengakibatkan kerusakan besar di Kota Surabaya.
Jumlah korban dari pihak Indonesia lebih besar karena pasukan Sekutu lebih unggul dari segi persenjataan. Namun, dalam pertempuran Surabaya, pihak Sekutu juga tak menganggap pasukan Indonesia sebagai lawan yang enteng.
Rakyat Surabaya sempat unggul dalam pertempuran hari pertama 10 November 1945 yang mengakibatkan salah satu petinggi Sekutu tewas, menyusul Mallaby. Bahkan setelah rakyat Surabaya dipukul mundur ke luar wilayah Surabaya, para pejuang tetap melakukan gerilya masuk kota untuk melawan pasukan Sekutu.
Sejak 1946, pemerintah menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan untuk menghormati perjuangan mereka yang gugur dalam pertempuran Surabaya.
Hari Pahlawan 10 November tercatat bukan hanya milik tentara, tetapi juga rakyat Indonesia yang berjuang mempertahankan kemerdekaan, menunjukkan semangat perjuangan, dan kegigihan dalam menghadapi penjajah.
Tokoh-Tokoh Pertempuran Surabaya
Peristiwa 10 November secara singkat melibatkan sejumlah tokoh, baik dari kalangan militer maupun pemuda Surabaya. Berikut ini para tokoh pertempuran Surabaya beserta perannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
1. Bung Tomo (Sutomo)
Bung Tomo merupakan sosok yang menyemangati para pejuang dalam Pertempuran Surabaya yang terkenal. Ia menggelorakan semangat perjuangan rakyat Surabaya melalui orasinya di Radio Pemberontakan. Pejuang bernama asli Sutomo tersebut juga berperan mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) sebagai respons terhadap kedatangan Sekutu.2. KH Hasyim Asy'ari
KH Hasyim Asy'ari memainkan peran penting dengan mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Isi Resolusi Jihad itu adalah fatwa agar para santri dan pejuang bangsa terus berjuang menghadapi Sekutu di Indonesia. Atas perannya, tanggal 22 Oktober kemudian menjadi peringatan Hari Santri.3. Sungkono
Sungkono merupakan seorang tokoh militer yang memimpin pasukan di Kota Surabaya selama Pertempuran 10 November. Meskipun pasukannya memiliki keterbatasan persenjataan, ia berhasil menahan pasukan Sekutu selama beberapa minggu.4. Doel Arnowo
Doel Arnowo adalah ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Karesidenan Surabaya. Ia berperan dalam perundingan antara pemerintah RI dan pihak Sekutu, yang akhirnya menghasilkan gencatan senjata sebelum pecahnya pertempuran Surabaya.5. Gubernur Soerjo (Raden Soerjo)
Gubernur Soerjo merupakan gubernur pertama Surabaya dan bertugas mengambil keputusan penting terkait keselamatan Kota Surabaya. Dia menolak ultimatum dari pihak Sekutu dan mengajak rakyat Surabaya untuk melawan mereka.6. K'Tut Tantri (Muriel Stuart Walker)
Seorang warga negara Amerika Serikat, K'Tut Tantri, bergabung dengan pejuang RI dan menulis kolom serta berita yang mendukung perjuangan rakyat Indonesia melawan Sekutu. Dukungannya pada pejuang Indonesia juga disiarkan melalui Radio Pemberontak Surabaya milik BPRI.7. Soemarsono
Soemarsono mengusulkan peringatan 10 November sebagai Hari Pahlawan dalam rapat Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) pada 4 Oktober 1946. Usulannya memperoleh pengakuan dari Soekarno, lalu diresmikan tepat setahun setelah Pertempuran Surabaya, 10 November 1946.8. Mohammad Mangoendiprodjo
Mohammad Mangoendiprodjo adalah bendahara Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan anggota Kontak Biro. Dia berperan dalam upaya pencegahan penembakan massal di Gedung Internatio oleh pasukan Sekutu.9. Abdul Wahab Saleh
Abdul Wahab Saleh adalah seorang fotografer yang bekerja di Kantor Berita Indonesia KBI, cikal bakal Antara. Dia berperan dalam mendokumentasikan peristiwa penting selama Pertempuran Surabaya, termasuk perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato.10. Soegiarto
Seorang pemain sepak bola bernama Soegiarto adalah bagian dari pasukan perjuangan dan turut memperkuat pertahanan Surabaya pada 10 November 1945.Makna Hari Pahlawan bagi Bangsa Indonesia
Hari Pahlawan bagi Bangsa Indonesia memiliki makna yang mendalam dan penting. Peringatan ini menjadi penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang dan mengorbankan nyawa demi kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Makna Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi juga momentum untuk mengingat perjuangan, semangat patriotik, dan pengabdian yang harus dijunjung tinggi oleh setiap warga negara Indonesia.
Hari Pahlawan adalah pengingat bagi masyarakat akan nilai-nilai keberanian, keadilan, patriotisme, dan semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan.
Melalui peringatan Hari Pahlawan 10 November, generasi sekarang dan yang akan datang bisa mengambil inspirasi dari perjuangan pahlawan masa lalu untuk membangun dan menjaga persatuan, keadilan, dan kebebasan di Indonesia.
Setiap tahun, peringatan Hari Pahlawan juga menjadi momen penting bagi masyarakat Indonesia untuk bersatu dalam menghormati jasa para pahlawan. Selain itu, peringatan ini juga menjadi pengingat untuk meneruskan semangat perjuangan pahlawan dalam membangun masa depan yang lebih baik bagi bangsa.
Cerita Singkat Perjuangan Pahlawan Nasional
Selain sejarah yang berkaitan dengan Hari Pahlawan dan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, literasi tentang pahlawan nasional lainnya juga dapat menjadi bahan pembelajaran. Berikut ini sejumlah cerita singkat perjuangan pahlawan nasional di Indonesia.
1. Perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam Bidang Pendidikan
Bapak Pendidikan Nasional Indonesia merupakan gelar yang diberikan kepada pahlawan nasional bernama Ki Hajar Dewantara. Pria kelahiran tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman (Yogyakarta) ini telah berjuang dalam memajukan pendidikan masyarakat Indonesia.Ki Hajar Dewantara berperan sebagai pendiri Taman Siswa. Melalui sekolah itu, masyarakat bisa mengenyam pendidikan tanpa dibeda-bedakan berdasarkan status sosial maupun golongan.
Perjuangannya masih menjadi inspirasi hingga sekarang, terutama lewat semboyan "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani". Artinya "di depan memberikan teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang memberikan dorongan".
2. Perjuangan R.A. Kartini untuk Emansipasi Wanita
Raden Ajeng Kartini merupakan sosok pahlawan yang pernah memperjuangkan emansipasi wanita. Sebagai anak dari keluarga bangsawan, ia sempat menjalankan pendidikan ketika kecil, meskipun akhirnya harus dibatasi karena dipingit saat usianya memasuki remaja.Kendati terbatas oleh adat daerahnya, R.A. Kartini tidak menyerah. Ia kerap mengirim surat kepada kawan korespondensinya yang tinggal di Belanda. Isi suratnya mengungkapkan keprihatinan Kartini terhadap ketidakadilan bagi perempuan di Jawa, termasuk bagi mereka yang terbatas secara kebebasan dan mengenyam pendidikan.
Ia mengkritik permasalahan itu hingga kumpulan suratnya diabadikan melalui buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Pendapat Kartini pun menjadi warisan bagi gerakan-gerakan perempuan di seluruh Indonesia, terutama dalam konteks memperjuangkan hak-haknya. Bahkan tanggal lahir 21 April tokoh ini menjadi salah satu peringatan penting, yaitu Hari Kartini.
3. Perjuangan Jenderal Sudirman dengan Taktik Gerilya
Jenderal Sudirman berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah. Nama Sudirman sebagai panglima besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama menjadi lebih terkenal karena taktik gerilya besutannya.Misalnya saat Agresi Militer Belanda II, ia aktif melakukan strategi ini dari hutan ke hutan lain bersama pasukannya. Perjuangan ini memperlihatkan keteguhan tokoh dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sikap dan cara memimpin Jenderal Sudirman hingga sekarang masih menjadi panutan. Ia membuktikan bahwa strategi dan keteguhan bisa berperan penting dalam menghadapi kekuatan-kekuatan besar.
Ingin membaca lebih banyak informasi literasi tentang pahlawan nasional dan sejarah singkat Hari Pahlawan? Pastikan untuk memantau artikel literasi tentang Hari Pahlawan selengkapnya di sini.
Penulis: Umi Zuhriyah
Editor: Fadli Nasrudin
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id





































