Hari Pahlawan 10 November

Sejarah Mengapa 10 November Diperingati sebagai Hari Pahlawan

Penulis: Iswara N Raditya, tirto.id - 8 Nov 2023 15:45 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Mengapa 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional? Simak informasi sejarah dan penjelasan selengkapnya di artikel berikut ini.
tirto.id - Tanggal 10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan karena berawal dari peristiwa pertempuran di Surabaya yang menjadi pertempuran pertama Indonesia dengan pasukan penjajah setelah Kemerdekaan.

Pertempuran Surabaya ini terjadi pada tanggal 10 November 1945. Tak hanya itu, pertempuran Surabaya juga menjadi salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia.

Hari Pahlawan memiliki latar belakang sejarah yang amat mendalam bagi perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, khususnya arek-arek Surabaya.

Lantas, mengapa Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November?


Ir. Sukarno dan Mohammad Hatta atas nama rakyat Indonesia telah menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Namun, tak lama setelah proklamasi kemerdekaan RI tersebut, pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda datang ke Indonesia dengan tujuan untuk melucuti senjata para serdadu Jepang.


Pasukan gabungan Sekutu telah mengalahkan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya yang menjadi rangkaian dari Perang Dunia Kedua. Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) yang berisikan tentara Belanda tiba bersama pasukan Inggris dan Palang Merah Internasional (Intercross) dari Jakarta di Surabaya.

Ketiga unsur tersebut, tulis Batara Richard Hutagalung dalam Sepuluh November Empat Puluh Lima (2001), terhimpun dalam Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI).

Tujuan RAPWI datang ke Indonesia adalah untuk mengurusi sisa-sisa prajurit Jepang, juga tentara Belanda yang ditawan, usai kekalahan Dai Nippon di Perang Asia Timur Raya.



Mengapa 10 november Diperingati sebagai Hari Pahlawan?


Jika ditarik jauh ke belakang, munculnya peringatan Hari Pahlawan bermula dari rangkaian peperangan dalam Pertempuran Surabaya melawan Sekutu yang mencapai puncaknya pada 10 November 1945.

Berikut ini kronologi sejarahnya:

31 Agustus 1945


Tanggal 31 Agustus 1945 atau kurang lebih setengah bulan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah menyerukan bahwa mulai 1 September 1945, bendera merah putih dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia.

19 September 1945


Para pemuda dan pejuang Surabaya menurunkan dan merobek warna biru dalam triwarna bendera Belanda yang dikibarkan di Hotel Yamato. Bendera tersebut kemudian dinaikkan kembali dengan menyisakan warna merah dan putih yang merupakan warna bendera Indonesia.


25 Oktober 1945


Rombongan pasukan Sekutu, termasuk Inggris dan Belanda yang sebelumnya telah tiba di Jakarta pada 15 September 1945, mulai memasuki Kota Surabaya tanggal 25 Oktober 1945.

Pasukan ini tergabung dalam Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) atau Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran untuk melucuti senjata tentara Jepang.

27-30 Oktober 1945


Perang pertama antara militer dan arek-arek Surabaya melawan pasukan Sekutu atau Inggris terjadi. Pemimpin pasukan Inggris di Jawa Timur, Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, tewas dalam suatu insiden, pada 30 Oktober 1945.

Posisi Mallaby sebagai pemimpin pasukan di Jawa Timur kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh yang juga Komandan Divisi 5 Inggris.

9 November 1945


Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya. Isinya antara lain bahwa:
  1. Seluruh pemimpin Indonesia di Surabaya harus melaporkan diri.
  2. Seluruh senjata yang dimiliki pihak Indonesia di Surabaya harus diserahkan kepada Inggris.
  3. Para pemimpin Indonesia di Surabaya harus bersedia menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.


10 November 1945


Para pemimpin perjuangan, arek-arek Surabaya, dan segenap rakyat tidak mengindahkan ancaman Inggris. Maka, terjadilah pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945.

Pertempuran ini menelan korban nyawa hingga ribuan jiwa, Kota Surabaya pun hancur lebur. Salah satu pejuang yang berperan besar mengobarkan semangat perlawanan rakyat Surabaya dalam pertempuran ini adalah Bung Tomo.

10 November 1946


Presiden Sukarno menetapkan bahwa setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan dan diperingati hingga saat ini.


Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 5: Gerak Maju Jalur Pemikiran Abad ke 21 Homo Sapiens Modern Kembali ke Benua Afrika (2009) menggambarkan Pertempuran Surabaya 10 November 1945 lewat tulisan sebagai berikut:

“Tiap kali kita merayakan Hari Pahlawan, 10 November, kita menyatakan supaya kita membangkitkan semangat seperti pada waktu 10 November 1945, di mana rakyat Kota Surabaya melawan tentara Inggris yang ingin menghukum dan menundukkan penduduk Kota Surabaya. Sebuah pertempuran besar yang terkenal secara internasional.”

“Rakyat kampung-kampung Surabaya telah mengorbankan 20.000 jiwa penduduknya dan Inggris kehilangan serdadunya dalam pertempuran dengan senjata modern pada waktu itu.”

__________________________

Referensi:
  • Asmadi, Pelajar Pejuang, 1985.
  • Batara Richard Hutagalung, Sepuluh November Empat Puluh Lima, 2001.
  • Hario Kecik, Pemikiran Militer 5: Gerak Maju Jalur Pemikiran Abad ke 21 Homo Sapiens Modern Kembali ke Benua Afrika, 2009.
  • Irna Hadi Soewito, ed., Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan, 1994.
  • Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Pertempuran Surabaya, 1998.

Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Addi M Idhom
Penyelaras: Dhita Koesno
DarkLight