Menuju konten utama

Ciri-Ciri Anak Durhaka Kepada Ibu

Ciri-ciri anak durhaka mencakup perbuatan, perkataan, dan sikap. Simak penjelasan ciri-ciri anak durhaka dan hukum azabnya di artikel berikut.

Ciri-Ciri Anak Durhaka Kepada Ibu
Ilustrasi ciri-ciri anak durhaka kepada ibunya: memasang muka masam dan sinis. foto/IStockphoto

tirto.id - Islam melarang anak berlaku durhaka kepada orang tua, baik ibu maupun ayah. Dalam Islam, hukum menyakiti hati ibu atau ayah termasuk dosa besar.

Azab anak durhaka kepada ibunya sangat besar. Hal ini berkaitan dengan peran seorang ibu dalam membesarkan anak. Tidak hanya ibu, melainkan juga ayah.

Oleh karena itu, Islam memerintahkan kepada umatnya untuk memuliakan orang tua. Sebaliknya, umat muslim harus menghindari laku durhaka, dalam Islam disebut juga dengan istilah ‘uqûqul wâlidain.

Lantas, apa saja ciri-ciri anak durhaka? Contoh anak durhaka seperti apa?

Ciri-ciri Anak Durhaka dan Contohnya

Perintah untuk patuh kepada orang tua, terutama yang berkaitan dengan kebaikan dan selaras dengan perintah agama, terdapat dalam berbagai hadis dan Al-Qur'an. Salah satunya hadis riwayat Bukhari dan Muslim berikut:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu bertanya: “Wahai Rasûlullâh, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perbuatan kebaikanku ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ibumu,” lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ibumu,” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ibumu,” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa ?” Beliau menjawab, “Bapakmu”. [HR al-Bukhâri, no. 5971; Muslim, no. 2548]

Berikut penjelasan ciri-ciri anak durhaka kepada ibu dan ayah:

1. Tidak menemani kedua orang tua yang membutuhkan

Meninggalkan orang tua saat memasuki masa tua atau membutuhkan perhatian merupakan bentuk kedurhakaan. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Muslim, yang mengatakan:

Dari Abdullâh bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Allâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Aku berbai’at kepadamu untuk hijrah dan jihad, aku mencari pahala dari Allâh.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup ?’ Dia menjawab, “Bahkan keduanya masih hidup.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah kamu mencari pahala dari Allâh ?” Dia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Kalau begitu pulanglah kepada kedua orang tuamu, lalu temanilah keduanya dengan sebaik-baiknya.” [HR Muslim, no. 2549]

2. Membentak orang tua

Membentak orang tua, meskipun dalam keadaan sangat marah, tidak diperbolehkan dalam Islam. Itu termasuk sebagai ciri-ciri anak durhaka. Larangan membentak orang tua, yang termasuk ciri-ciri anak durhaka, salah satunya terdapat dalam Surat Al-Isra ayat 23. Berikut isinya:

“Hendaklah berbuat baik kepada Ibu Bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

3. Mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang tua

Perbuatan atau perkataan yang menyebabkan kedukaan atau bahkan membuat orang tua menangis juga merupakan bentuk kedurhakaan. Contoh anak durhaka dicontohkan dalam Surat Al-Isra, yakni ketika mengatakan, "Ah!"

4. Bermuka masam dan cemberut kepada orang tua

Bermuka masam dan cemberut kepada orang tua, terutama ketika di rumah. Hal ini termasuk sebagai perilaku yang merugikan. Seharusnya, seseorang memperlakukan orang tua dengan baik, sama seperti ketika bersama teman-teman di luar.

5. Mencela orang tua

Mencela orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk dalam dosa besar. Ciri-ciri anak durhaka ini disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari. Berikut isinya:

Dari Abdullâh bin ‘Amr bin al-‘Ash, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar, (yaitu) seseorang mencela dua orang tuanya,” mereka bertanya, “Wahai Rasûlullâh, adakah orang yang mencela dua orang tuanya ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, seseorang mencela bapak orang lain, lalu orang lain itu mencela bapaknya. Seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang lain itu mencela ibunya.” [HR al-Bukhâri, no. 5 628; Muslim, no. 90. Lafazh hadits ini milik Imam Muslim]

6. Memandang sinis kepada orang tua

Ciri-ciri anak durhaka yang berikutnya adalah memandang sinis kepada orang tua. Pandangan yang dimaksud di sini adalah yang bersifat merendahkan atau menghina.

7. Malu menyebut mereka sebagai orang tua

Merasa malu menyebut mereka sebagai orang tua, terutama ketika orang tua berada dalam keadaan ekonomi atau sosial yang rendah, adalah tindakan yang tidak pantas. Misalnya, dalam dongeng Malin Kundang yang menceritakan tentang azab anak durhaka kepada ibunya.

8. Memerintah orang tua

Perilaku memerintah orang tua secara seenaknya sendiri, terutama jika orang tua dalam keadaan lemah atau sakit, tidaklah layak dilakukan. Hal ini termasuk ciri-ciri anak durhaka kepada ibu dan ayah.

9. Memberatkan orang tua dengan banyak permintaan

Memberatkan orang tua dengan permintaan yang berlebihan, terutama jika orang tua tidak mampu memenuhinya, adalah perbuatan yang tidak bijaksana.

10. Lebih mementingkan istri daripada orang tua

Lebih mementingkan istri daripada orang tua, bahkan hingga bersikap kasar terhadap orang tua, adalah perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Hukum Menyakiti Hati Ibu dalam Islam

Allah memerintahkan umatnya untuk bersyukur kepada kedua orang tua. Bahkan, Allah tidak menerima syukur seorang hamba yang selama hidupnya tidak bersyukur kepada kedua orang tuanya. Hal tersebut juga disampaikan Rasulullah dalam hadisnya.

“Ridha Allah berada pada ridho kedua orang tua, murka-Nya ada pada murka keduanya.” (Lihat: Syekh Zainuddin al-Malibari, Irsyadul-‘Ibad, halaman 91).

Hadis di atas menegaskan pentingnya taat kepada orang tua. Oleh karena itu, dosa durhaka kepada orang tua tergolong sangat besar. Nabi Muhammad bersabda melalui pesan yang ditulis untuk penduduk Yaman dan dikirim lewat Amar bin Hamzah sebagai berikut:

“Sesungguhnya dosa yang paling besar di sisi Allah pada hari kiamat adalah syirik, membunuh mumkn tanpa alasan yang benar, lari dari perang ketika melawan kafir, durhaka kepada kedua orang tua, menuduh wanita suci dengan tuduhan perzinahan, mempelajari sihir, memakan harta riba dan memakan harta anak yatim.” (HR Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).

Saking besarnya dosa durhaka, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al Hakim. Di dalam hadis tersebut disebutkan, orang yang durhaka kepada orang tua termasuk tiga dari golongan yang diharamkan masuk surga. Berikut redaksi hadis lengkapnya:

“Tiga golongan yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pecandu khamr, orang durhaka kepada orang tua, dan orang yang dayyuts,” (HR An-Nasa'i dan al-Hakim).

Apa Azab Anak Durhaka kepada Ibu?

Perintah birrul walidain merupakan wujud terima kasih pada kedua orang tua yang sudah merawat kita semenjak dari bayi sampai dewasa. Dikutip dari NU Online dalam artikel berjudul "Balasan Mendurhakai Ibu dalam Hadits-hadits Nabi" (2022), balasan anak yang durhaka kepada orang tua akan disegerakan di dunia sebelum kematiannya.

Azab anak durhaka kepada ibunya ada banyak, seperti disempitkan jalan rezeki, dijauhkan dari keberkahan, diliputi berbagai petaka serta kesedihan, dan sebagainya.

Hal tersebut juga disampaikan Rasulullah dalam hadis Riwayat Al-Hakim.

"Semua dosa diakhirkan balasannya oleh Allah sesuai kehendak-Nya kecuali dosa durhaka kepada orang tua. Dia akan menyegerakan balasan tersebut kepada pelakunya di dunia sebelum kematiannya." (HR Al-Hakim).

Untuk itu, selagi orang tua masih hidup, perbanyaklah berbuat baik dan menyenangkan mereka. Jika orang tua sudah meninggal, seorang anak bisa berbuat baik kepada orang tua nya dengan mendoakan.

Baca juga artikel terkait HARI IBU atau tulisan lainnya dari Ruhma Syifwatul Jinan

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Ruhma Syifwatul Jinan
Penulis: Ruhma Syifwatul Jinan
Editor: Fadli Nasrudin