Cilacap sebagai Daerah Pertahanan dan Pintu Belakang Belanda

Reporter: Irfan Teguh, tirto.id - 8 Mar 2018 16:29 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Karena secara geografis dan topografis kurang strategis, pesisir selatan Jawa kerap terabaikan
tirto.id - Sore medio 2017 di pantai Bubujung, Kabupaten Tasikmalaya. Sambil duduk menghadap deburan ombak, seorang kawan bertanya, “Kalau kita berenang lalu hanyut, kira-kira bakal terdampar di mana?”

“Australia,” jawab saya.

“Serius? Waduk siah! (bohong lu!)”

Saya tertawa, dan teringat guyonan masa kecil di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi. Dulu, kalau pasokan minyak tanah sedang seret, kawan masa kecil selalu bertanya, “Disuruh mama beli minyak tanah, tapi habis di warung-warung. Masa harus ke Kota Sukabumi, kan jauh. Paling dekat ke mana, ya?”

“Australia,” jawab saya. Dan kami tertawa.

Guyonan itu bukan tanpa alasan sederhana, kampung kami dekat dengan pantai Ujunggenteng di pesisir selatan, dan di Samudera Hindia negara tetangga terdekat adalah Australia. Jadi kalau ada kelangkaan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari karena lokasi kampung kami jauh dari pusat kota, maka Australia selalu dijadikan guyonan sebagai negara terdekat yang dapat memenuhi kebutuhan itu.

Lokasi geografis yang berhadapan dengan Samudera Hindia yang sepi, membuat pesisir selatan Jawa relatif tertinggal daripada pesisir utara. Wilayah perairannya, menurut Djoko Pramono dalam Budaya Bahari (2005), secara tofografis memiliki dasar laut yang curam sehingga arus lautnya menjadi berombak deras dan membahayakan kapal yang akan berlabuh.

“Sedangkan sepanjang pesisir utara Jawa memiliki topografi dasar laut yang landai sehingga arus permukaan relatif tenang dan memiliki kedalaman perairan sekitar 10-20 meter. Kondisi demikian sesuai untuk pelabuhan,” tambah Djoko.
Meski demikian, pesisir selatan Jawa sejatinya pernah mempunyai pelabuhan penting yang dijadikan sebagai jalur perdagangan sekaligus pertahanan militer, yaitu Cilacap.


Nino Oktorino dalam Di Bawah Matahari Terbit: Sejarah Pendudukan Jepang di Indonesia 1941-45 (2016), menyebut Cilacap sebagai satu-satunya pelabuhan yang baik di pantai selatan Jawa. Ia menambahkan bahwa apabila Laut Jawa di sebelah utara terancam oleh kekuatan musuh, Cilacap merupakan pintu gerbang bagi pulau Jawa untuk berhubungan dengan dunia luar, khususnya Australia.

Jauh sebelum diperuntukkan sebagai “pintu belakang” untuk melarikan diri dari gempuran balatentara Jepang, waktu zaman VOC Cilacap mula-mula tidak diperhatikan. Saat ada sebuah kapal Inggris mendarat di sana yang dicurigai bermaksud untuk membeli kopi, indigo, dan mutiara, barulah VOC menyadari bahwa perairan tersebut mempunyai arti strategis.

Tahun 1739 VOC kemudian mengirim satu armada beserta pasukannya untuk menyelidiki perairan Nusa Kambangan yang amat berdekatan dengan Cilacap. Meski akhirnya mereka mengetahui bahwa kapal Inggris ketika singgah di Cilacap hanya mengambil air, dan mereka yakin inggris tidak akan berani membangun loji di sana, tapi VOC mulai menaruh perhatian lebih kepada wilayah perairan di selatan Jawa tersebut.

Dalam Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa (2002), Susanto Zuhdi menerangkan bahwa setelah runtuh, pemerintah Hindia Belanda mulai serius memperhatikan Cilacap mulai tahun 1830. Mulai tanggal 4 Desember tahun tersebut, mereka menetapkan pos Nusa Kambangan masuk sebagai garnisun kecil di pulau Jawa.

“Untuk itu ditempatkanlah seorang letnan, dua sersan dan dua orang kopral Eropa, ditambah dua sersan, dua kopral, satu penabuh tambur, dan 53 prajurit bersenjata senapan,” tulisnya.


Lima belas tahun setelah itu, tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.J. Rochussen yang bertugas dari tahun 1845 sampai 1851, pembukaan Pelabuhan Cilacap dimaksudkan untuk dua hal, yaitu perdagangan dan pertahanan militer. Dalam aspek militer, keputusan ini terutama untuk memudahkan keperluan evakuasi ke Australia yang tidak harus melewati Selat Sunda atau Bali.

Tahun 1854, pemerintah Hindia Belanda mulai memperkuat Cilacap dengan melengkapi benteng yang berada di ujung Timur kota tersebut dengan meriam pantai. Dua meriam lain dipasang untuk melindungi jalan masuk ke pelabuhan.

Tak cukup hanya itu, pada 15 Februari 1855—atas permintaan Departement van Oorlog (Departeman Perang Hindia Belanda), di Cilacap didirikan tangsi pasukan artileri ke-17 di Jawa. Hal tersebut menurut Susanto Zuhdi dalam buku yang sama, berdasarkan atas Besluit 27 Februari 1855 No. 10 yang menetapkan kekuatan beberapa datasemen, yaitu: Surakarta 25 orang anggota, Yogyakarta 25 orang, Pacitan 12 orang, Ngawi 75 orang, dan Cilacap berkekuatan 90 orang.

“Pada tahun 1857, dibangun pula menara pengintai di Gunung Cimering di Nusa Kambangan, sebagai tempat untuk mengawasi kegiatan di daerah perairan Cilacap,” tambahnya.

Setelah itu beberapa petinggi pemerintahan dan militer Hindia Belanda bersilang pendapat ihwal pusat militer. Hingga kemudian ada kecenderungan menjadikan Bandung sebagai pusat kekuatan militer Hindia Belanda.

Sampai tahun 1860, Ambarawa dan Banyu Biru masih menjadi perhatian pertahanan di Jawa. Sementara Cilacap, meski dianggap lebih baik dari Surabaya karena lebih memudahkan kapal untuk bermanuver, tapi tetap punya kelemahan yaitu rentan kebakaran dan sempitnya jalan masuk pelabuhan menyulitkan pendaratan secara besar-besaran.

Namun kelemahan tersebut tak membuat pembangunan pertahanan militer di Cilacap menjadi surut. Benteng pertahanan yang dibangun mulai tahun 1846 berhasil diselesaikan pada 1860.

“Benteng tersebut dianggap mampu menangkis atau menyongsong serangan musuh bangsa Eropa yang datang dari arah timur,” tulis Susanto Zuhdi (hlm. 162).


Setelah itu pusat rencana pertahanan pantai di pulau Jawa dipusatkan di Batavia, Surabaya, dan Cilacap. Pertahanan pantai di kota pesisir selatan Jawa itu kemudian diperkuat dengan mendatangkan tiga meriam kanon Amstrong berukuran 24 cm yang didatangkan langsung dari Belanda. Lalu mendatangkan lagi meriam yang sama sebanyak sepuluh buah untuk mendukung kekuatan yang telah ada.

Kemudian lagi-lagi Departement van Oorlog meminta kepada Pemerintah untuk membangun sebuah dermaga dan gudang peluru di Pelabuhan Cilacap.

Dinamika di dalam tubuh militer Hindia Belanda, yaitu antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut sempat menghambat pembangunan kekuatan militer di Cilacap. Dalam kasus ini, kedua matra tersebut bersilang pendapat ihwal pusat pertahanan Hindia Belanda: antara Jawa dan luar Jawa, serta soal pilihan antara pertahanan pantai atau pedalaman.

Pada 11 Mei 1888, Binkes—Wakil Panglima Angkatan Laut, mengusulkan kepada pemerintah untuk memperkuat pertahanan Cilacap dengan berbagai persenjataan yang lebih lengkap, seperti torpedo, kapal perintang, kapal uap, meriam mortar, tempat pertahanan di utara Cilacap, dll.

infografik pertahanan cilacap


Saat Jepang Mulai Merangsek

Depresi ekonomi besar-besaran yang melanda seluruh dunia atau zaman malaise yang terjadi pada tahun 1930-an, membuat perkonomian Hindia Belanda kocar-kacir dan membuat penghematan anggaran secara besar-besaran.

Imbasnya, bujet untuk pertahanan pun ikut dipangkas. Namun ancaman Jepang yang mulai merangsek ke berbagai wilayah di Asia membuat pemerintah Hindia Belanda tidak tinggal diam.

“Ketika ancaman Jepang sudah tidak lagi ditafsirkan sebagai kepentingan bisnis belaka, melainkan ekspansi teritorial, pemerintah Hindia Belanda segera membenahi diri untuk urusan-urusan pertahanan,” terang Susanto Zuhdi (hlm. 167)

Prediksi atas agresifnya pasukan Jepang adalah serangan-serangan terhadap pantai utara Jawa yang akan melumpuhkan nadi perniagaan. Jika hal itu terjadi, maka pusat perdagangan di perairan laut Jawa dan Sumatera akan dipindahkan ke Cilacap.


Menyikapi hal tersebut, maka Pelabuhan Cilacap kembali mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Terlebih pada Mei 1940, saat Belanda diduduki Jerman, situasi semakin genting. Pada saat itulah pemerintah Hindia Belanada memutuskan untuk memperluas kemampuan Pelabuhan Cilacap, baik untuk perniagaan maupun untuk kebutuhan militer. Sekali itu—bukan hanya Cilacap, pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada di pesisir selatan Jawa yang sebelumnya terabaikan, mulai difungsikan lagi.

“Jika Laut Jawa diblokade musuh, maka Cilacap dan beberapa pelabuhan kecil lainnya di pantai selatan Jawa, seperti Pelabuhan Ratu (Wijnkoopsbaai), Genteng, Cilaut Eureun, Parigi Pacitan, Teluk Parigi, dan Teluk Popoh diharapkan dapat digunakan,” terang Susanto Zuhdi (hlm. 170).

Sementara Nino Oktorino dalam Di Bawah Matahari Terbit: Sejarah Pendudukan Jepang di Indonesia 1941-45 (2016), menerangkan bahwa strategi menjadikan Jawa sebagai pertahan terakhir dan Cilacap sebagai salah satunya, terpaksa mengorbankan pulau-pulau lain beserta kota-kotanya.

Nino menambahkan bahwa tujuan dari strategi tersebut adalah supaya mereka dapat menghadapi balatentara Jepang yang menyerang pulau Jawa. Untuk memperlambat gerak pasukan Negeri Matahari Terbit tersebut, dibebankan kepada pasukan KNIL yang bertugas di luar Jawa.

“Apabila pasukan Jepang yang ada di Jawa sudah dihancurkan, pasukan KNIL, dengan bala bantuan dan armada laut sekutu, akan merebut kembali pulau-pulau lain yang telah dikuasai musuh. Ini merupakan grand strategy pasukan Belanda. Akan tetapi, seiring dengan hancurnya armada laut Sekutu di Laut Jawa […] maka strategi Belanda tersebut berantakan,” tulisnya.

Jepang kemudian tiba di Jawa. Mereka mendarat di Teluk Banten, Eretan Wetan, dan Kragan. Satu divisi yang mendarat di Kragan kemudian dipecah, sebagian menuju Surabaya dan lanjut ke Malang, satu lagi menuju Cilacap. Selama tiga hari Cilacap dibombardir pesawat Jepang sebelum akhirnya Belanda menyerah.

“Rencana menjadikan Cilacap sebagai pintu belakang untuk tujuan evakuasi ternyata tidak sepenuhnya berhasil,” pungkas Susanto Zuhdi.

Setelah itu—meski belakangan mulai diperhatikan, Cilacap dan pelabuhan-pelabuhan kecil lainnya di pesisir selatan Jawa kembali terasingkan, bersama debur ombak dan gelombang tinggi Samudera Hindia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Politik)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS

DarkLight