"Pembunuhan Aceh" Bikin Gentar Marsose Belanda

Oleh: Petrik Matanasi - 12 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Usai Perang Aceh, beberapa perwira Belanda menjadi target serangan individu yang dikenal "Atjeh Moorden".
tirto.id - Jumat, 10 Oktober 1913. Wilhelm Bernhard Johann Antoon Scheepens agak terlambat pulang ke rumah. Waktu itu istrinya sedang bunting besar. Komandan divisi Marsose merangkap kepala pemerintahan di Sigli ini harus menghadiri meusapat (pengadilan adat). Sebuah putusan tidak menyenangkan harus diambil.

Seorang rakyat jelata memukul putra uleebalang (kaum bangsawan) yang terpandang bernama Titeue. Anak uleebalang telah berlaku tidak senonoh pada istri si jelata. Demi kehormatan istrinya, si jelata berani memukul anak bangsawan.

Dalam pandangan masyarakat feodal, memukul anak bangsawan adalah kesalahan, betapapun bersalahnya anak itu. Meski sebenarnya si jelata yang jadi korban, ia mesti menerima hukuman sangat berat.

Soal kasus pemukulan ini, seperti ditulis H.C. Zentgraaff dalam buku legendarisnya, Atjeh (1983), “seorang rakyat biasa dianggap sangat bersalah jika ia berani menggunakan tangannya terhadap seorang putra uleebalang” (hlm. 85-87).

Scheepens, selaku perwira Marsose yang terlibat Perang Aceh (termasuk ikut dalam Ekspedisi berdarah Gayo-Alas), bisa dikatakan sebagai musuh orang Aceh yang dianggap jahat. Tapi, sebagai kepala pemerintah yang ditugasi melindungi orang-orang sipil, wajib baginya untuk menegakkan keadilan.


Sebelum pergi, Scheepens berkata kepada istrinya, “tikus ini ada ekornya.” Maksudnya, si anak yang kena pukul adalah putra pembesar. Scheepens pun pergi ke meusapat. Pertemuan itu adalah untuk terakhir kali Nyonya Scheepens melihat suaminya dalam kondisi gagah.

Di meusapat itu, sang uleebalang begitu bernafsu menuntut hukuman seberat-beratnya kepada si jelata. Scheepens sempat mengingatkan sang uleebalang bahwa hukuman seperti yang diinginkannya itu sudah ketinggalan zaman.

“Tiga bulan hukum krakal (kurungan) sudah lebih dari cukup,” vonis Scheepens, setelah berkonsultasi dengan Kepala Ajun Jaksa yang pribumi.

Dasar bangsawan gila hormat, uleebalang tidak terima dan bilang: “Itu saya tidak terima.”

“Tetap tiga bulan. Habis perkara,” kata Scheepens yang kekeh pada putusannya agar perkara yang ia rasa sudah diputus seadil-adilnya tak berlarut-larut.

Si uleebalang mengamuk. Ia mencabut rencongnya dan menghujamkannya ke perut Scheepens. Beberapa orang Aceh yang jadi pesuruh pun angkat kelewang. Dengan penuh amarah, mereka pun mencabut kelewang masing-masing dan berhasil merobohkan uleebalang.


Scheepens berusaha bersikap tenang. Bahkan berusaha meredakan kemarahan pesuruh-pesuruh tersebut. Scheepens, yang dikenal sebagai komandan tangguh, tahu betul apa yang akan terjadi pada orang yang perutnya kena tusuk rencong begitu dalam: mati.

“Tenang-tenang ia pulang ke rumahnya,” tulis Zentgraaff. Waktu dia sampai rumah, hanya sedikit darah yang terlihat di mata istrinya.

“Tak apa-apa, hanya goresan kulit yang tak berarti. Mari kita minum segelas sampanye untuk hasil yang baik,” kata Scheepens menenangkan.

Setelah botol dibuka dan sampanye dituang, istrinya, juga kawan dekatnya, van Galen Last, minum bersama. Istrinya dan Galen tahu luka Scheepens serius. Hingga Scheepens pun dilarikan ke rumah sakit. Ahli bedah terkenal Dokter Dubinsky bahkan didatangkan dari Kutaraja. Dari Sigli, Scheepens dibawa ke Kutaraja dalam keadaan sekarat. Ia akhirnya tewas beberapa hari kemudian.

Disebabkan oleh Dendam Perang Aceh

Scheepens bukan satu-satunya orang Belanda yang mampus disambar rencong Aceh setelah Perang Aceh berlalu. “Kendati perlawanan (besar) bersenjata rakyat tampak bisa dipadamkan oleh Belanda, namun serangan terhadap militer dan pegawai Belanda berlangsung terus,” tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, Volume 1 (2004: 70).

Inilah yang disebut Belanda sebagai Atjeh Moorden atau "Pembunuhan Aceh." Antara 1910 hingga 1920, ada 75 kasus dan setelahnya, dari 1920 hingga 1930, ada 51 kasus.

R.A. Kern pernah menyelidiki soal Pembunuhan Aceh. Simpulan sederhananya, ini terjadi karena balas dendam terhadap orang-orang Belanda yang disebut kaphe alias kafir. Pembunuhan ini terkadang dilakukan juga di tempat-tempat yang ramai.


Infografik HL Indepth Marsose


Pada Juli 1933, hampir 20 tahun setelah Scheepens mati, komandan Marsose lain kena tusuk. “Kapten Ch. E. Schmid, Komandan Divisi V Marsose, ditikam oleh seorang Aceh bernama Amat Leupon di Lhoksukon, Aceh Utara,” tulis Teuku Ibrahim Alfian dalam Perang di Jalan Allah: Perang Aceh, 1873-1912 (1987: 134).

Menurut catatan Rosihan Anwar, Amat tak terlihat sebagai orang yang sangat benci kepada Belanda. Tapi, Amat adalah orang yang tidak akan lupa bagaimana militer Belanda membunuh ayahnya waktu ia berumur 10 tahun.

Tak hanya Scheepens dan Schmid yang jadi korban dari kalangan Marsose. Kapten Joannes Paris juga terbunuh pada 3 April 1926 di Sape (Bakongan). Begitu juga Letnan Satu W. A. Molenaar yang terbunuh pada 11 Agustus 1926 di Teureubangan (Bakongan) dan Kapten Antonie Joris Haga di Glé Breuëh (Lhöng) pada 19 Desember 1933.


Buku Gedenkboek van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onderhoorighed (1941:295) menyebut, Scheepens yang kelahiran Ambon, 13 April 1868, itu dinyatakan meninggal dunia pada 17 Oktober 1913, seminggu setelah penusukan. Istrinya pun jadi janda.

Scheepens punya anak bernama Willem Jan Scheepens (lahir di Nijmegen, 13 Mei 1907). Seperti sang ayah, Scheepens junior alias Wim masuk Marsose. Sebelum Perang Dunia II, anak itu sudah jadi letnan satu dan pernah melintasi Gunung Leuser dari Bakongan ke Blang Kejeren.

Dalam pasukan komando Belanda Korps Speciale Troepen, Kapten Wim Scheepens pernah jadi komandannya. Kemudian ia digantikan sahabatnya, Kapten Westerling, yang pernah memimpin pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Baca juga artikel terkait PERANG ACEH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan