Pembantaian yang Dilakukan Belanda di Pedalaman Aceh

Oleh: Iswara N Raditya - 12 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Belanda memulai ekspedisi militer ke Gayo dan Alas pada 8 Februari 1904. Lalu terjadilah genosida: ribuan rakyat Aceh di dua daerah itu dibantai.
tirto.id - Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh siang itu mendadak riuh. Tiga kapal Belanda berukuran besar merapat, membawa ratusan orang yang diangkut dari tanah seberang. Tak kurang dari 10 orang perwira, 13 bintara, serta ahli geologi dan tenaga medis berkebangsaan Eropa turut dalam rombongan tersebut.

Itu termasuk 473 orang mandor, puluhan kuli paksa, penunjuk jalan, serta 208 anggota Marsose alias Korps Marechaussee te Voet, satuan militer yang bernaung di bawah Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Sebagian besar anggota Marsose berasal dari orang lokal. Mereka adalah para pemuda dari Jawa hingga Maluku untuk dijadikan sebagai prajurit kolonial, termasuk menjalankan misi penting di Tanah Rencong.

Hari itu, 8 Februari 1904, Belanda memulai operasi militer untuk mengakhiri Perang Aceh yang telah berlangsung selama tiga dekade sekaligus menangkap Cut Nyak Dien yang masih melakukan perlawanan dengan cara bergerilya.

Yohannes Benedictus van Heutsz selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu sangat berambisi menguasai seluruh wilayah Aceh. Maklum, van Heutsz pernah terlibat langsung dalam Perang Aceh, bahkan sempat menjadi gubernur di wilayah tersebut, tetapi selalu gagal.

Misi Penaklukan Total

Dari Banda Aceh, rombongan pimpinan Letnan Kolonel Gotfried Coenraad Ernst van Daalen bertolak ke Lhokseumawe, tujuan akhir pelayaran. Berikutnya, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang trem menuju Bireuen yang ditempuh dalam tempo 4 jam.

Ratusan orang itu harus berjalan kaki dari Bireuen. Jalur satu-satunya untuk mencapai pedalaman Gayo memang hanya jalan darat dengan medan pegunungan yang sulit. Long march menuju Gayo dijalani dengan memakan waktu hingga 163 hari (Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, 1999: 229).

Ekspedisi ke tanah Gayo dan Alas itu bermula dari laporan hasil riset Snouck Hurgronje bertajuk "Het Gajolan en Zijn Bewoners" atau “Tanah Gayo dan Penduduknya” kepada van Heutsz. Sang Gubernur Jenderal pun merespons dengan menunjuk van Daalen sebagai pemimpin operasi militer ke Aceh.

Dipilihnya van Daalen bukan tanpa alasan. Keluarga van Daalen sudah sangat berpengalaman di Aceh. Ayah Gotfried, van Daalen Sr., pernah menjabat kapten dalam Perang Aceh periode kedua (1874-1880), tapi gagal menyelesaikan misinya. Van Daalen muda pun menerima penunjukan tugas militernya sekaligus menuntaskan tugas bapaknya.

Belakangan, Hurgronje muak atas aksi van Daalen yang dinilai "melampaui batas" dalam ekspedisi ke Aceh pada 1904 itu. Namun, tidak demikian van Heutsz, yang bahkan menyebut van Daalen sebagai sosok yang “terkadang kasar dan keras, sangat ketat dan semena-mena dalam aksinya, tapi juga dapat melindungi dan memaafkan.”

Setelah melalui berbagai rintangan, dari kondisi medan yang sulit, kian menipisnya cadangan logistik, hingga serangan-serangan mendadak yang dilancarkan oleh kaum gerilyawan Aceh, rombongan van Daalen akhirnya sampai di tanah Gayo. Misi penaklukan total pun dimulai.


Infografik HL Indepth Marsose

Aksi Pembantaian Massal

Sesaat setelah tiba, van Daalen langsung mengirimkan surat kepada raja-raja Gayo agar mereka segera menghadap. Van Daalen menghendaki para pemimpin rakyat itu menandatangani perjanjian takluk seperti yang telah dilakukan oleh banyak pemimpin rakyat di wilayah Aceh lain (Dien Madjid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh, 2014:280).

Respons para pemimpin Gayo ternyata di luar dugaan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memenuhi undangan itu. Van Daalen yang murka kemudian menggerakkan pasukan untuk menyisir satu demi satu perkampungan di wilayah tersebut. Raja-raja dan pemuka masyarakat dipaksa datang. Jika tetap enggan, moncong senjata yang akan berbicara.

Rakyat Gayo bersikukuh menolak takluk dan memilih melawan. Orang-orang Gayo punya ciri khas dalam berperang atau mempertahankan diri. Semua penghuni desa tanpa kecuali berkumpul di benteng-benteng dari bambu dan semak berduri untuk menahan gempuran musuh.

Sebagian besar dari mereka memakai pakaian serba putih untuk menandakan bahwa inilah perang suci melawan kaum kaphe alias kafir. Meskipun dengan senjata seadanya ditambah munajat kepada Sang Pencipta, rakyat Gayo memilih lebih baik mati di jalan Tuhan ketimbang menjadi tawanan.

Van Daalen tidak menerapkan taktik khusus. Ia hanya memerintahkan agar seluruh musuh dibasmi tanpa ampun. Deli Courant (1940) menyebutkan, dalam suatu penaklukan di salah satu desa di Gayo, ratusan warga dibantai. Korban tewas terdiri 313 pria, 189 wanita, dan 59 anak-anak.

Tak hanya di Gayo, aksi pembantaian ini berlanjut ke wilayah Suku Alas di Aceh Tenggara. Salah satu insiden itu terjadi pada 14 Juni 1904 di Kuta Reh.

Menurut Asnawi Ali, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka, ada 2.922 orang tewas dalam tragedi itu: 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan, termasuk anak-anak dan orang tua.


Fakta yang mengejutkan telah diungkap oleh ajudan van Daalen, J.C.J. Kempees. Dalam laporan berjudul "De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden" (1904), Kempees menyebut ekspedisi militer Belanda di pedalaman Aceh itu setidaknya menelan korban nyawa hingga 4.000 orang.

Masih dalam laporannya, Kempees menyertakan foto-foto yang menjadi bukti telah terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang dari Suku Gayo maupun Alas. Setiap kali usai penyerbuan, van Daalen memerintahkan ajudannya untuk memotret tumpukan-tumpukan mayat dengan para Marsose yang berpose di sekitarnya (Dien Madjid, 2014: 282).

Ekspedisi militer Belanda ke pedalaman Aceh yang berlanjut hingga ke tanah Karo di Sumatera Utara itu boleh dibilang menjadi babak akhir Perang Aceh. Dalam rangkaian aksi tersebut, Cut Nyak Dhien akhirnya tertangkap dan kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, hingga wafat.

Meskipun Cut Nyak Dien sebagai pimpinan terakhir telah ditangkap, tetapi para pejuang dan rakyat Aceh terus melakukan perlawanan terhadap Belanda kendati dalam skala lebih kecil. Itu berlangsung bahkan hingga Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942.

Berbeda dari kasus Westerling dan sejumlah luka sejarah lain, hingga saat ini pihak Belanda belum meminta maaf secara resmi terkait pembantaian di pedalaman Serambi Mekkah yang berlangsung selama tiga bulan pada 1904 tersebut.


======

Artikel ini kali pertama dirilis pada 8 Februari 2017. Dirilis ulang dengan penyuntingan minor karena satu topik dengan tema artikel mendalam mengenai Korps Marsose dan Perang Aceh.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Maulida Sri Handayani