Menuju konten utama

Melumpuhkan Teuku Umar hingga Cut Nyak Dhien di Bulan Puasa

Perang Aceh berlangsung selama 30 bulan puasa, salah satu perang terlama dalam sejarah kolonialisme Belanda terhadap negeri merdeka Bangsa Aceh.

Melumpuhkan Teuku Umar hingga Cut Nyak Dhien di Bulan Puasa
Lukisan tentang perang Aceh tahun 1899. FOTO/G Kepper

tirto.id - Ketika Teuku Umar masih bekerja sama dengan Belanda, sekitar Februari-Maret 1896, yang bertepatan dengan bulan Ramadan 1313, ia menolak berperang karena umat Islam tengah menjalankan ibadah di bulan suci.

"Gubernur Belanda kemudian mengundurkan perang sampai sehabis Hari Raya Idulfitri,” tulis Mardanus Sofwan dalam Teuku Umar (1982). Sesudahnya, Teuku Umar kembali ke barisan Aceh dan berperang melawan Belanda.

“Bulan Januari 1899 Jenderal van Heutsz datang sendiri ke tempat paling utama di pantai barat Meulaboh. Di sekitar sinilah disinyalir Teuku Umar berada,” tulis Paul van t'Veer dalam Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985).

Medio Januari 1899 adalah bulan Ramadan 1316 H. Di akhir puasa, jelang lebaran, Teuku Umar di ujung tanduk. “Tanggal 10 Februari, suatu detasemen diberi perintah untuk menyergap perkemahannya. Umar telah mengetahuinya ... pada malam itu juga dia berangkat dengan para legiun menempuh jalan putar ke Meulaboh dan gilirannya menyerang kota ini.”

Sialnya, sepasukan militer Belanda yang dipimpin Letnan Verbrugh telah menyebar pasukannya di dekat pantai. “Beberapa jam kemudian," tulis van t'Veer, "tiba-tiba dia melihat dalam gelap, banyak kerumunan orang Aceh muncul. Tembakan dilepaskan.”

Pasukan Aceh itu panik. Sementara pasukan Belanda, karena kalah jumlah, memilih mundur. Di hari-hari berikutnya, diketahui bahwa yang tewas pada 11 Februari 1899, atau sekitar tanggal 30 Ramadan 1316 itu, di antaranya adalah Teuku Umar.

Tak hanya Teuku Umar yang dilumpuhkan pada bulan puasa. Salah satu istrinya, seorang pahlawan bangsa Aceh, Cut Nyak Dien, juga dilumpuhkan di tahun-tahun sesudahnya pada bulan Ramadan.

Pada tengah malam, 6 November 1905, bertemulah Panglima Laot dengan sepasukan serdadu patroli Kompeni. Mereka harus bergerak cepat melalui jalur hutan di Beutong Le Sageu (Nagan Raya) yang becek karena hujan. Jelang fajar, barulah serdadu-serdadu itu tiba ke lokasi tujuan.

Itu sebuah wilayah perkemahan yang agak lapang. Terlihat oleh serdadu-serdadu itu bahwa segerombolan orang Aceh tengah duduk melingkari api unggun. Mereka melihat senjata yang sudah kuno. Pakaian mereka compang-camping.

“Dengan tidak sengaja, senjata yang ada di tangan seorang anggota patroli meletus. Orang-orang yang sedang duduk mengelilingi api unggun itu terperanjat. Mereka langsung berdiri dan memegang kelewang yang terhunus,” tulis Madelon H. Székely-Lulofs dalam Cut Nyak Dien: Kisah Ratu Perang Aceh (2007).

Cut Nyak Dien berusaha menghindari pengepungan tak terduga itu. Ia sudah buta dan sulit bergerak cepat. Ia pun tertangkap. Dalam kondisi terkepung, ia menarik rencongnya.

“Ya Allah, Ya Tuhan! Inikah nasibku? Di dalam bulan puasa, aku diserahkan ke tangan kaphee (kafir)?” ratap Cut Nyak Dien.

Panglima Laot telah mengkhianatinya karena kasihan dengan kondisi Cut Nyak Dien yang sudah tua. Ia mendekati Cut Nyak Dien dan berusaha menenangkan. Cut Nyak Dien menanggapi Panglima Laot dengan cacian dan minta dibunuh.

Penangkapan Cut Nyak Dien pada 6 November 1905. Penangkapan itu terpaksa membuatnya menjalani sisa masa puasa dan lebaran sebagai tawanan di sekitar Kutaraja. Setelahnya, Cut Nyak Dien dibuang hingga meninggal di Sumedang pada 1908.

Ketika Cut Nyak Dien ditangkap, Perang Aceh sudah tiga dekade berlangsung, yang dimulai pada 1873. Di babak awal perang itu, seorang jenderal Belanda harus jadi tumbal. Perang ini setidaknya melewati lebih dari 30 kali bulan puasa.

infografik hl peperangan di bulan puasa perang aceh saat puasa

H.C. Zentgraaff dalam buku legendarisnya, Aceh (1983), mencatat sekitar bulan puasa 1910, “Pihak lawan turun dari gunung-gunung pada bulan puasa. Anggota-anggota pasukan lawan mendapat cuti besar. Mereka kemudian berpencar menuju kampung halaman masing-masing guna mengunjungi sanak saudara untuk menunaikan ibadah puasa dan sesudahny merayakan Hari Raya Puasa. Para pemimpin pun ikut juga. Mereka mempunyai kewajiban dan kepentingan yang sama.”

Zentgraaff seolah berusaha menggambarkan bahwa bulan puasa adalah cuti panjang bagi laskar Aceh di masa peperangan melawan tentara Belanda. Dengan kata lain, laskar Aceh enggan bertempur kecuali dalam kondisi terpojok.

Lepas dari menahan hawa nafsu, termasuk nafsu membunuh lawan, banyak hal yang harus diurus pada bulan puasa.

“Kuburan-kuburan harus mereka ziarahi. Mereka bertamu dan menerima tamu. Ini ditentukan oleh adat. ... untuk mengurus berbagai hal yang berhubungan dengan perlawanan ... (diadakan) pertemuan-pertemuan yang hanya dihadiri oleh orang-orang yang sangat dipercayai,” tulis Zentgraaff.

Biasanya, puasa di Aceh tak lepas dari meriam dan petasan. “Di Aceh, bulan puasa diawali dan diakhiri dengan suara dentuman yang keras dari meriam,” catat Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global (2011).

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan lainnya dari Petrik Matanasi

tirto.id - Humaniora
Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam