Saat Belanda Menyerbu RI pada Bulan Puasa 1947

Oleh: Petrik Matanasi - 15 Juni 2017
Dibaca Normal 3 menit
Agresi militer Belanda pertama ke pulau Jawa dan Sumatera tatkala penduduk muslim Indonesia tengah menjalani ibadah puasa Ramadan.
tirto.id - Penduduk muslim Indonesia di Jawa dan Sumatera sudah menjalani hari kedua puasa pada Ahad, 20 Juli 1947, ketika pasukan Letnan Gubernur-Jenderal Hubertus van Mook memutuskan untuk mengakhiri gencatan senjata dengan kubu Republik.

Tepat ketika umat muslim bersiap menjalani malam ketiga bulan Ramadan, serdadu-serdadu Angkatan Darat Belanda (Koninklijke Landmacht/ KL) dan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger/KNIL) bergerak sekitar pukul 11 malam dengan menduduki gedung-gedung Republik di Jakarta. Ini termasuk rumah yang jadi tempat proklamasi kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur nomor 56.

Letnan van Mook menyudahi upaya diplomasi antara Belanda dan kubu Republik untuk sepakat gencatan senjata pada Oktober 1946 dan Persetujuan Linggarjati pada Maret 1947. Sejak adanya pergerakan serdadu Belanda itulah apa yang kemudian disebut Aksi Polisionil dimulai. Ia berlangsung pada 21 Juli hingga Agustus 1947 (Agresi Militer I) dan 19 Desember 1948 hingga 5 Januari 1949 (Agresi Militer II). Kedaulatan Indonesia sebagai negara baru diuji dalam perang fisik yang menewaskan puluhan ribu jiwa ini dan memiliki dampak-dampak politis mendatang.

Menurut Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia - Volume 5 (1978), serdadu-serdadu Belanda, di bawah komando Kapten Westerling, menduduki rumah Sukarno di Pegangsaan itu sejak pukul 23.05.


Untung saja, ketika diserang tentara Belanda, Sukarno sudah tinggal di Istana Gedung Agung Yogyakarta. Ibukota Republik sudah pindah ke Yogyakarta dengan pertimbangan bahwa kehadiran tentara Belanda di Jakarta membuat kedudukan Republik tidak aman. Tentu saja, Belanda tahu Sukarno tak di rumah itu lagi. Namun, di rumah itu Menteri Kemakmuran Adnan Kapau Gani ditangkap, yang dianggap hanyalah seorang penyelundup oleh militer Belanda.

Setelah melancarkan serangan-serangan bersenjata, pegawai-pegawai Republik Indonesia dibujuk untuk ikut Belanda. Namun hampir semuanya menolak. "Mobil-mobil RI bertanda X dibeslah alias disita. Koran-koran RI ditutup,” demikian kenang Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas (1990).

“Dengan segala keunggulan peralatan beroda, tank, dan meriam, pasukan KNIL dan KL menyerang dari darat, laut, dan udara. Letnen Jenderal Spoor, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia, ingin memanfaatkan sepenuhnya keunggulan angkatan bersenjata Belanda menyingkirkan tentara Republik secara ofensif,” tulis Jaap de Moor dalam biografi Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia (2015).

infografik hl peperangan di bulan puasa serangan belanda di bula


Angkatan darat Belanda memang belum menembus terlalu dalam ke jantung Republik di Yogyakarta, tetapi pesawat-pesawat tempurnya cukup sukses. Beberapa kali lapangan terbang Maguwo dihujani peluru. Pada hari ke-7 Ramadan 1366, atau 25 Juli 1947, dua kali Maguwo diserang pesawat-pesawat Belanda, pada siang dan petang hari. Serangan terakhir berhasil menghancurkan pesawat-pesawat Cikiu dan Curen milik Angkatan Udara Indonesia. Pesawat-pesawat itu adalah hasil rampasan Jepang di tahun-tahun sebelumnya.

Atas kerugian itu, pihak Republik tak tinggal diam. Dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 (2008) yang disusun Irna Hanny Nastoeti dkk, misi rahasia serangan balasan pun disusun sebelum Komodor Adisutjipto, Komandan Sekolah Penerbang, berangkat ke luar negeri pada 28 Juli 1947.

Untuk misi itu nekat itu, Adisutjipto tak setuju karena AU belum siap untuk misi berbahaya macam itu. Misi itu berisiko ditembak jatuh lawan. Sementara AU hanya punya sedikit pesawat, dan kondisi pesawatnya pun sudah kuno. Adisutjipto boleh tidak setuju, tetapi pilot dan juru tembak sudah dipilih, dan sekalipun Kepala Staf AU Komodor Surjadi Surjadarma menolak aksi nekat tersebut.

Sebelum berangkat, Komodor Muda Abdul Halim Perdanakusuma, yang berpengalaman dalam misi pemboman dalam Perang Eropa, menjelaskan rencana penyerangan ke Semarang, Salatiga, dan Ambarawa, yang sudah diduduki Belanda. Pesawat-pesawat AU itu lepas landas pada Selasa waktu Subuh, 29 Juli 1947. Sebelum siang, misi itu sukses menembaki wilayah tentara Belanda, lalu kembali ke Yogyakarta.

Sementara itu, militer Belanda tak tinggal diam. Sebelum sore, Pesawat Kittyhawk Belanda, diawaki Letnan B.J. Ruesink dan Sersan Mayor W.E. Erkelens, sudah mengangkasa dan bergerak ke Yogyakarta. Begitu juga pesawat-pesawat pemburu lain.

Pesawat-pesawat Republik yang pagi lalu menyerang tidak ditemukan oleh awak udara Belanda. Namun, mereka mendapatkan santapan empuk yang lain: sebuah pesawat sipil Dakota VT-CLA dari arah Singapura. Pesawat itu dikejar hingga ke Yogyakarta oleh Kittyhawk.

“Waktu menunjuk pukul 17.00 ketika tembakan dilepaskan beberapa kali, peluru mengenai pesawat angkut tanpa senjata tersebut. Sebuah motornya terbakar, dan usaha terakhir mengarahkan pesawat ke landasan, ternyata gagal,” demikian catatan Awal Kedirgantaraan di Indonesia.

Tentara AU di sekitar kejadian melihat Dakota itu semakin terbang rendah dan berasap. Setelah sebentar terpana, mereka bergerak ke arah jatuh pesawat di sekitar Desa Ngoto, Bantul.

Rupanya, di dalam pesawat nahas itu, terdapat obat-obatan dari India. Pesawat itu diterbangkan oleh Noel Constantine, mantan pilot Royal Australian Air Force, dengan rekanan pilot AU Britania Raya bernama Roy Hazlehurst. Komodor Adisutjipto, Komodor Abdulrahman Saleh, Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusuma, Zainal Arifin, Bidha Ram, dan Istri Noel Constantine yang ikut serta dalam pesawat ikut meninggal.

Hanya Abdul Gani Handonotjokro yang selamat. Dua peristiwa pada 29 Juli 1947 itu kemudian diperingati AU sebagai Hari Bakti. Esoknya, kolega Agustinus Adisutjipto, Uskup Romo Soegijapranata yang saat itu berada di Solo menerima berita atas kematian sahabatnya. Soegija, meskipun Katolik, ikut berpuasa dan, dalam catatan hariannya, Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang, ia menulis: “Adisutjipto tewas ketika menunaikan kewajibannya.”

Mischa de Vreede dalam Selamat Merdeka: Kemerdekaan yang direstui (2005), mencatat pengakuan Roeslan Abdulgani, menteri luar negeri era Sukarno, bahwa “Belanda telah membuat kesalahan besar." Alasannya, "Bulan Juli 1947 adalah bulan puasa, bulan suci bagi orang Islam. Jadi orang-orang sedang berpuasa dan saat itu mereka diserang.”

De Vreede, yang saat itu masih kecil dan tinggal di Indonesia, ingat apa yang dikatakan Presiden Sukarno: “Berperanglah terus, biarpun sat ini bulan puasa! Karena Nabi Muhammad juga berperang pada suatu bulan puasa."

Menurut Sukarno, militer Belanda tak dapat maju lebih jauh, dan orang-orang Indonesia berusaha bertahan meski harus puasa. Tentu saja, hari-hari itu adalah puasa yang berat bagi Republiken.

__________

Ralat: Artikel perdana yang dirilis menyebutkan: "Adisutjipto boleh tidak setuju, tetapi Kepala Staf Komodor Surjadi Surjadarma setuju bahkan sudah memilih pilot dan juru tembak. Adisutjipto pun tak bisa menghalangi." Keterangan ini dibantah dalam buku biografi Suryadi Suryadarma: Bapak Angkatan Udara (2017). Dalam buku ini, Surjadarma tidak setuju atas serangan 29 Juli 1947 tersebut.

Keterangan foto: Iring-iringan truk infanteri Belanda saat Operasi Produk, agresi militer Belanda pertama. FOTO/Wikimedia Common

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan