70 Tahun Aksi Westerling

Sebelum Westerling Ditimpuk Sepatu

Oleh: Petrik Matanasi - 11 Desember 2016
Dibaca Normal 3 menit
Betapa lucunya ketika pembantai macam Westerling dilempar sepatu saat bernyanyi di atas panggung. Memangnya ada yang berani?
tirto.id - Penyanyi opera yang grogi dan kacau itu pernah menerima lemparan sepatu penonton yang kesal. Raymond Paul Pierre Westerling, begitu nama sang penyanyi, harus dengan sabar menerima sepatu yang melayang tiba-tiba itu. Ia tak mungkin membalas, apalagi menembak si pelempar.

Jika sepatu itu melayang saat ia masih berpangkat kapten, entahlah nasib apa yang akan menimpa si pelempar. Sebab ia memang pernah menjadi serdadu hingga berpangkat kapten. Bukan sembarang kapten. Orang-orang Indonesia yang pernah membaca buku sejarah revolusi Indonesia mengingatnya sebagai pembunuh berdarah dingin.

Siapa tak kenal dia? Jika tak pernah dengar sebaiknya kembali ke bangku sekolah lagi. Namanya tertulis di buku pelajaran sejarah SD, SMP juga SMA. Orang-orang Indonesia tak lupa pada angka 40.000 jiwa yang dipercaya sebagai jumlah korban yang dibantainya di Sulawesi Selatan.

Dengan restu Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor, Panglima Tentara Belanda di Indonesia, Kapten Westerling berangkat ke Makassar. Dia tidak sendiri. Menurut Natsir Said dalam bukunya SOB 11 Desember 1946 sebagai Hari Korban 40.000 Sulawesi Selatan (1985), Westerling bersama 125 serdadu Baret Hijau, sebuah pasukan komando elit dalam tentara Belanda di Indonesia. Mereka terlatih untuk segala jenis perang dan tentunya bisa membunuh tentara lawan.

Westerling saat itu sangat disegani bawahan dan sekaligus sangat diandalkan atasan macam Spoor. Sebagai alumni pasukan komando Perang Eropa, Spoor memang sangat berharap kepada Westerling untuk bisa melemahkan, jika perlu menumpas, kekuatan Republiken di sekitar Makassar. Hal itu diperlukan karena van Mook hendak menegakkan negara boneka Indonesia Timur.

Sampai di Makassar, Westerling tak hanya beraksi dengan 125 pasukan elit Belanda yang dilatihnya. Dia juga dibantu tentara Belanda lain yang ada di sekitar Makassar. Dalam rentetan aksi yang dijuduli Kampanye Pasifikasi tersebut, Westerling menjadi komandan operasi. Dan ia memperoleh license to kill, surat izin membunuh, dari Spoor, khusus untuk mengatasi pejuang-pejuang Republik yang dicap ekstrimist.

“Mereka itu ekstremis dan pengikut Sukarno kaki tangan Jepang,” kata Westerling seperti ditulis Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi (2015).

Aksi dimulai sejak 11 Desember 1946, persis 70 tahun yang lalu jika ditarik dari hari ini. Desa Borong dan Batua adalah sasaran mereka. Desa Borong jadi tanggung jawab Sersan Mayor H. Dolkens dan Desa Batua menjadi tanggung jawab Sersan Mayor J. Wolff.

Didampingi Sersan Mayor Uittenbogaard, Westerling menunggu di Batua. Desa-desa itu dikepung. Setiap yang hendak melarikan diri boleh dibunuh. Setelah terkepung, pagi harinya, mereka dikumpulkan ke tanah lapang. Westerling menyimpan daftar nama yang disiapkan Sersan Vermuelen.

Setelah mengumpulkan orang-orang yang dituduhnya ekstrimist, Westerling akan segera mengeksekusinya di lapangan yang dipenuhi warga desa. Bagi Westerling, metode ini adalah pengadilan lapangan alias standrecht. Teror pun tercipta. Bahkan autobiografinya yang dirilis pada 1952 juga berjudul Challange to Terror.

Selain Batua dan Borong, ia juga beraksi di desa-desa sekitar Makassar seperti Kalukuang, Tanjung Bunga, Jongaya, dan tentunya Polongbangkeng. Tempat terakhir, Polongbangkeng, memang menjadi pusat gerilya Republik. Menurut intel Belanda, terdapat ratusan milisi bersenjata di sana.

Setelah Makassar dianggap beres, daerah lain yang jauh di utara kota Makassar pun menjadi sasaran juga. Bahkan hingga ke daerah Polewali, Mandar. Tentu saja pasukannya tersebar. Westerling hadir di beberapa desa.

Dalam beberapa eksekusi, Westerling tak segan mengotori tangannya. Sebagai komandan, dia tentu bisa saja ongkang-ongkang kaki dan membiarkan anak buahnya memberondongkan senapan mesin ringan ke arah target eksekusi. Westerling menikmati eksekusi brutal itu dengan sesekali ikut beraksi dengan pistol colt 38.

Suatu kali, Westerling juga pernah unjuk kebolehan. Dia suruh sasaran pelurunya berlari. Dari jarak sekitar 30 meter, pistolnya dia arahkan ke target. Dor! Korban pun tewas. Setelahnya terbayang salah satu lirik lagu Iwan Fals: “Westerling pun tersenyum.”

Di belakang senyum Westerling, muncul perdebatan soal jumlah korban kekejaman Westerling. Hasil penyelidikan pemerintah Belanda pada 1969 ditemukan angka 3 ribu korban. Atas perbuatan Westerling itu, Duta Besar Belanda Tjeerd de Zwaan meminta maaf kepada keluarga korban. Setidaknya, kepada 10 janda korban, Pemerintah Belanda memberi santunan uang sebesar Rp 301 juta.

Permintaan maaf atas pembunuhan yang dilakukan negara, atau militer, adalah hal langka terjadi di Indonesia. Bahkan walau jumlah korbannya jauh di atas Westerling.

Westerling sebagai pelaku utama, dalam Challenge to Terror, menyebut angka 600 orang. Anehnya, penyelidikan Angkatan Darat Republik Indonesia pada 1950an hanya menemukan angka 1.700 korban tewas. Dari angka itu, tak semuanya korban keganasan Westerling. Begitu yang dicatat Ramadhan KH dalam autobiografi Alex Kawilarang, Untuk Sang Merah Putih (1988).

Tentu saja angka 40 ribu adalah yang paling terkenal. Menurut beberapa sejarawan, termasuk Natsir Said, angka yang oleh sebagian kalangan dianggap bombastis itu muncul dari tokoh DI/TII Sulawesi Selatan Kahar Muzakkar. Kahar yang di masa revolusi sedang berjuang di Jawa sebagai bagian TNI begitu emosional hingga keluar dari mulutnya angka 40 ribu. Belakangan angka ini jadi angka yang paling sering disebut.

Sejarawan Anhar Gonggong, yang ayah dan salah satu abangnya menjadi korban keganasan pasukan Westerling, menyebut jumlah korban yang tewas mencapai sekitar 10 ribu orang. “Tapi, itu memang tidak semuanya korban Westerling,” terang Anhar.

INFOGRAFIK Korban-korban Westerling


Westerling beraksi sejak 11 Desember 1946 hingga 21 Februari 1947, sekitar 73 hari yang penuh darah. Tentu saja tak setiap hari Westerling dan pasukannya beraksi. Tidak semua desa di Sulawesi Selatan dan sekitarnya bisa dijangkau. Tak jarang, untuk bergerak dari satu desa ke desa yang lain butuh waktu berjam-jam. Sudah barang tentu, tentara juga butuh istirahat.

Pasukan yang digerakkan Westerling pun tak sampai seribu. Tentara Belanda di sekitar Makasssar dipimpin Kolonel De Vries, yang jika dilihat dari pangkatnya dia punya beberapa batalyon. Pasukan yang bisa dipimpinnya hanya beberapa ribu saja dan itu pun harus disebar di semua penjuru Sulawesi Selatan. Kepada Westerling yang berpangkat Kapten tentu hanya bisa diperbantukan sekitar 200an orang saja. Sebagai pasukan khusus, Westerling beraksi dengan pasukan dalam jumlah kecil.

Westerling sebagai pembantai dan komandan pasukan elit tentu punya reputasi sangar. Dia ahli membunuh dengan tangan kosong. Sejak sekolah ia sudah terlatih bermain gulat. Bahkan sejak belum sekolah pun dia sudah diajari membunuh burung merpati.

Menurut sejarawan Belanda asal Nijmagen, Fredrik Willem, mantan anak buah Westerling pernah cerita bagaimana Westerling menghajar dan merobohkan dua anak buahnya yang sedang mabuk. Tak semua orang berani berhadapan dengan orang mabuk. Kurang sangar apa?

Suara cempreng tentu tak masalah bagi pembantai macam Westerling, sebab yang dibutuhkan hanya keberanian dan darah yang dingin. Tapi suara cempreng bisa berbahaya bagi seorang penyanyi yang sedang beraksi di atas panggung. Penonton kecewa, dan mereka sah-sah saja menimpuknya dengan sepatu.

Entahlah jika si pelempar sungguh-sungguh tahu siapa penyanyi yang ia lempari sepatu itu. Mungkin ia tak akan berani. Melempari Westerling dengan sepatu tentu saja menjadi hal yang menyenangkan. Apalagi jika dilakukan sambil memaki: “Bajingan kau!”

Baca juga artikel terkait WESTERLING atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti