Menuju konten utama

Wim van Beek: Pengganti Westerling Pimpin Penyerangan ke Yogyakarta

Letnan Kolonel Wim van Beek adalah mantan komandan Batalyon Gadjah Merah dan pasukan khusus Belanda. Ikut dalam Operasi Gagak menduduki Yogyakarta.

Wim van Beek: Pengganti Westerling Pimpin Penyerangan ke Yogyakarta
Kiri ke Kanan: Sutan Syahrir, Letnan Kolonel Van Beek (Komandan Korps Speciale Troepen), Bung Karno, dan Bung Hatta. FOTO/ Zijlstra, J. / DLC / wikipedia / Nationaal Archief

tirto.id - Setelah aksinya di Sulawesi Selatan 1946-1947 yang penuh darah, Kapten Raymond Paul Pierre Westerling seakan jadi legenda hidup di jajaran pasukan khusus Belanda. Meski citranya begitu buruk di mata kaum Republikan, Westerling adalah komandan yang dicintai anak buahnya. Komandan tertinggi tentara Belanda di Indonesia—sekaligus komandan Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL)--Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor bahkan sangat percaya dan mengandalkannya.

Menurut catatan Maarten Hidskes dalam Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya (2018, hlm. 57), Westerling yang tak pernah makan bangku akademi militer atau sekolah perwira itu bukan tipe perwira otoriter. Dia juga dikenal perhatian terhadap anak buahnya.

Karena itulah, di dihormati oleh banyak orang yang pernah bekerja di bawah komandonya. Dia bahkan pernah disebut tak segan turun berkelahi bersama anak buahnya dari kesatuan baret hijau untuk melawan marinir Belanda.

Pada 1948, Kapten Westerling sudah jadi perwira penting di markas pasukan khusus Belanda di Batujajar. Dalam autobiografinya Challenge to Terror (1952, hlm. 139), Westerling mengaku memimpin 1.200 prajurit pilihan di sana. Pasukan itu terdiri dari kesatuan baret merah (penerjun) dan kesatuan baret hijau (komando) yang disatukan dalam Korps Speciale Troepen (KST).

Namun, keterangan itu cukup meragukan. Pasalnya, pangkat Westerling terlalu rendah untuk memimpin pasukan sebanyak itu. Seorang kapten biasanya memimpin sebuah kompi yang diisi sekira 100-an prajurit. Kalau pun bisa lebih dari itu, tetap saja ada batasan tidak bisa lebih dari sebuah batalyon. Lagi pula reputasinya di luar militer sangat buruk gara-gara aksinya di Sulawesi Selatan.

Westerling juga mengaku dia diperintahkan memimpin serangan ke ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta. Tapi, dia menolak perintah yang datang dari Jenderal Spoor tersebut. Setelahnya, sebagai konsekuensi atas penolakan itu, dia mundur dari kemiliteran.

Mencari pengganti Westerling tentu bukan perkara sulit bagi Jenderal Spoor. Ada banyak banyak perwira menengah di KNIL yang berpengalaman memimpin pertempuran. Salah satunya adalah Letnan Kolonel Willem Cornelis Alexander van Beek (1901-1981) alias Wim van Beek.

Seperti halnya Spoor, Wim van Beek adalah lulusan Koninklijk Militaire Academie (Akademi Militer Kerajaan Belanda) di Breda. Wim van Beek kemudian ditugaskan jadi komandan KST sejak November 1948. Di bawah Wim van Beek, KST jadi memiliki komandan yang sesuai besarnya pasukan.

Letkol Wim van Beek menjadi pion penting dalam rencana Spoor untuk menduduki ibu kota Yogyakarta. Wim van Beek turut menyiapkan pasukan penerjun baret merah yang akan disusul dengan masuknya pasukan komando baret hijau. J.A. de Moor dalam Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia (2015, hlm. 407) menyebut dari pesawat yang melayang di atas Kota Yogyakarta pada pagi 19 Desember 1948, Spoor menyaksikan kerja daripada pasukan Wim van Beek dalam merebut ibu kota Yogyakarta.

Wim van Beek sendiri tidak ikut terjun ke Yogyakarta dalam Operasi Gagak tersebut. Pasukan penerjun yang akan masuk ke Lapangan Udara Maguwo itu dipimpin oleh Kapten Eekhout. Setelah pasukan penerjun mengamankan Maguwo, pesawat angkut Belanda akan mendarat untuk menurunkan pasukan baret hijau yang akan menerobos masuk Kota Yogyakarta.

Pasukan Belanda setelahnya hanya perlu hitungan jam untuk menduduki Kota Yogyakarta dan lalu menahan para pejabat tinggi Republik Indonesia. Kerja anak buah Wim van Beek terbilang sukses. Peristiwa pendudukan Yogyakarta itu kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II oleh pihak Republik, sementara Belanda menyebutnya sebagai Aksi Polisionil II.

Ibu kota memang diduduki Belanda pada 19 Desember 1948, tapi Republik Indonesia masih ada dan belum hancur. Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat lalu pegang kendali dalam masa-masa darurat itu. Pun begitu, masih banyak kombatan Republik yang bergerilya di Jawa.

Beberapa bulan setelah Agresi Militer Belanda II itu, Indonesia justru mendapat kemenangan diplomatis dan membalik keadaan. Operasi Gagak yang dijalankan pasukan Wim van Beek pun seakan sia-sia saja.

Sebelum Operasi Gagak

Memimpin KST serta terlibat dalam Operasi Gagak bukan satu-satunya kerja Wim van Beek di Indonesia. Sebelum menggantikan Westerling, Letnan Kolonel Wim van Beek adalah komandan Batalyon Infanteri Gadjah Merah KNIL di Palembang. Pada tahun baru 1947, selama lima hari (dari 1 Januari hingga 5 Januari 1947), pasukan itu terlibat pertempuran melawan pihak Republik di Palembang dalam pertempuran yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Lima Hari Lima Malam.

Kala itu, Batalyon Gadjah Merah berada di bawah komando Brigade Y yang dipimpin Kolonel Molinger. Pasukan ini terlibat pula dalam Agresi Militer Belanda Pertama (Operasi Product) di Sumatra Selatan yang kaya hasil bumi dan punya nilai ekonomis bagi Belanda.

Infografik mild letkol van beek.

Infografik mild letkol van beek. (tirto.id/Fuad)

Sebelum di Palembang, Batalyon Gadjah Merah pernah berada di Bali. Pasukan ini berhadapan dengan pasukan Republik Indonesia di bawah Letnan Kolonel Gusti Ngurah Rai. Di Bali, Wim van Beek bersama Batalyon Gadjah Merah mendarat di Pantai Sanur pada 2 Maret 1946.

Dari Sanur, mereka bergerak ke Gianyar. Mereka berada di Bali hanya hitungan bulan. Setelahnya, Batalyon Gadjah Merah dikirim ke Palembang.

Batalyon Gadjah Merah, seperti disebut buku Gedenkschrift Koninklijk Nederlandsch Indische Leger 1830-1950 (1990, hlm. 56), dibentuk di Thailand. Sejatinya, ada dua batalyon yang memakai nama ini, yaitu Batalyon Infanteri ke-10 dan ke-11 KNIL yang dibentuk pada Oktober 1945. Personelnya kebanyakan adalah para bekas tawanan Jepang yang dikirim ke Thailand selama Perang Dunia II.

Wim van Beek termasuk salah tawanan perang juga. Kartu tawanan perangnya menyebut dia lahir pada 7 April 1901—beberapa bulan lebih tua dari Jenderal Spoor. Wim van Beek berasal dari Rotterdam. Anak dari Cornelis Alexander van Beek dan Anna Maria van Steenbergen ini tengah jadi kapten di kesatuan infanteri batalyon garnisun Kalimantan Timur-Selatan kala Jepang menyerbu Indonesia.

Wim van Beek memulai kariernya di KNIL pada 31 Juni 1923 dengan pangkat awal letnan kelas dua infanteri.

Setelah mengomandani Gadjah Merah dan KST, seperti disebut Indische Courant voor Nederland (30/04/1949), Letnan Kolonel Wim van Beek ditunjuk menjadi panglima tentara Belanda di Sumatra bagian utara. Selama bertugas di Sumatra itu, dia pernah bertemu dengan Panglima Tentara Indonesia di Sumatra Utara Letnan Kolonel Alex Kawilarang. Dalam autubiografinya Untuk Sang Merah Putih (1988, hlm. 172), Kawilarang menyebut setelah gencatan senjata, Wim van Beek pernah meminjamkan celana kepadanya.

“Sekarang aku musti meminjamkan celanaku kepada musuhku,” kata Wim van Beek yang merasa suram dengan masa depan Belanda di Indonesia. Alex Kawilarang yang dipinjami celana Wim van Beek ini belakangan turut mendirikan kesatuan pasukan khusus RI.

Baca juga artikel terkait AGRESI MILITER BELANDA II atau tulisan lainnya dari Petrik Matanasi

tirto.id - Politik
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi