Untuk DOM Aceh Zaman Old, Belanda Punya Marsose

Oleh: Petrik Matanasi - 12 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Korps Marsose, pasukan elite Belanda zaman kolonial, dibentuk untuk memenangkan Perang Atjeh. Ribuan orang Aceh terbunuh.
tirto.id - Setelah Mayor Jenderal J.H.R Köhler tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman, Kutaraja, pada 1873, Aceh sudah menjadi daerah operasi militer dari negara besar untuk kali pertama. Berkali-kali ekspedisi militer dikirimkan ke Aceh. Tiap tahun, ribuan serdadu dari tentara kerajaan Hindia Belanda yang dikenal sebagai KNIL keluar-masuk Aceh.

Namun, sejak agresi pertama menundukkan Istana Sultan Aceh pada 1873 berakhir kematian si orang Yahudi Mayjen Köhler itu, pasukan kolonial Belanda selalu kerepotan menghadapi perlawanan bangsa Aceh.


Dari sanalah pihak Belanda mengatur siasat. Paul van ‘t Veer dalam Perang Aceh (1985) menyebut bahwa Belanda sadar atas kelemahannya: gerak pasukan dalam jumlah besar, yang juga didukung logistik, dianggap lamban. Pasukan-pasukan ini tak bisa berlama-lama bergerak jauh dari basis militer. Taktik tempur kuno, melibatkan banyak pasukan yang bergerak kaku, menjadi biang keroknya.

Maka, tulis van ‘t Veer, “Tahun 1889 dibentuk dua detasemen pengawalan mobil."

Satu detasemen militer Belanda saat itu kira-kira berjumlah 160 orang. Mereka dijuluki Korps Marsose Jalan Kaki alias Korps Marechaussee te Voet.

Marechaussee (orang Indonesia kerap membaca: Marsose) di negeri 'kaphe' Belanda adalah Polisi Militer. Sementara peran Marsose di Aceh lebih seperti infanteri (pasukan jalan kaki) dengan kemampuan kontra-gerilya. Strategi ini cocok untuk melawan gerilyawan Aceh.

Dalam keterangan yang diperoleh Henri Carel Zentgraaff dari Kapten Struijvenberg, dalam buku legendarisnya yang berjudul Atjeh (1930)—diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Aceh pada 1983—sersan juru tulis Belanda itu menyebut pasukan Marsose terbentuk berkat saran dari seorang bumiputra.

“Dulu ada seorang jaksa di Kutaraja yang menunjuki jalan bagaimana memecahkan kesulitan […] Ia mengusulkan supaya dipilih sejumlah tentara yang mempunyai keberanian pribadi sehingga tak segan melihat mata lawan. [Mereka] adalah anggota-anggota tentara yang mempunyai rasa percaya diri [...] tak hanya mempercayai senapan-senapan mereka, tetapi bahkan berani menghadapi pihak lawan dengan menggunakan senjata-senjata tajam,” tulis Zentgraaff.

Si pengusul, yang bernama Muhammad Arif, adalah jaksa kepala di pengadilan Kutaraja, Banda Aceh. Menurut van ‘t Veer, usul itu diserahkan kepada Gubernur Militer Aceh Henri Karel Frederik van Teijn, yang punya staf bernama JB van Heutsz.

Korps Marsose semula terdiri satu divisi atau 12 brigade. Masing-masing brigade terdiri 20 orang dari suku Ambon dan Jawa, yang dipimpin seorang sersan Eropa dan seorang kopral bumiputra. Pada 1897, jumlah pasukan meningkat menjadi 2 divisi, lalu 5 divisi pada 1899. Total, Korps Marsose berjumlah 1.200 orang.

Paul van ‘t Veer menulis dengan nada romantis tentang Perang Aceh bahwa "1.200 orang inilah yang membereskan apa yang tidak dapat dilakukan oleh balatentara yang sepuluh kali lipat dulu.”

Serdadu-serdadu pilihan ini ditempatkan pada detasemen-detasemen yang bukan menunggu musuh, melainkan bergerak mencari musuh. Dan banyak orang Aceh yang menjadi korban Marsose.

“Pada paruh kedua tahun 1908 ada 137 orang Aceh yang terbunuh di tangan pasukan Marsose,” tulis Ibrahim Alfian dalam Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah (1999).

Di bawah pimpinan Sersan Mosselman, satu brigade Marsose berhasil menewaskan pahlawan nasional Tjut Meutia pada Oktober 1910.


Infografik HL Indepth Marsose

Dipakai untuk Menundukkan Pemberontakan

Di tubuh Marsose ada unit pilihan bernama Kolone Matjan atau Tijger Colonne, yang dibentuk oleh Hans Christoffel. Perwira KNIL asal Swiss ini membentuk pasukan inti tersebut di Cimahi. Jumlahnya 12 brigade. “Pasukan ini tersohor karena kekejamannya. Tembak di tempat biasa dilakukan. Pasukan ini tukang eksekusi yang mengerikan," tulis Zentgraaff.

Mula-mula Kapten WJBA Scheepens yang ditunjuk untuk memimpin, tapi tidak jadi. Meski Scheepens dinilai mampu berkelahi dan memimpin orang-orang yang paling keras, Hans Christoffel dipilih karena Kapten Scheepens, menurut Aubertin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII (1979), "tidak akan bersedia sebagai algojo yang mahir karena ia masih dianggap mempunyai perikemanusiaan.”


Marsose kemudian tak hanya diterjunkan di Aceh, melainkan juga dipakai untuk menghadapi pemberontakan di beberapa daerah. Tindakan mereka terekam dalam majalah pensiunan bernama Trompet.

Majalah Trompet nomor 70 (November 1939) bercerita tentang Kopral Simon Leiwakabessy, yang kelahiran Tual, Maluku Tenggara, pada 25 Januari 1870. Ia beraksi di Cot Bamboton, Pidie, pada 24 Agustus 1903. Meski kurang orang, Leiwakabessy tak kurang bengis.

Majalah itu menulis: “Ia lari ke muka dengan melewati dua temannya dan sekonyong-konyong berada di tengah-tengah dari musuh yang lari. Dua orang ditembak mati oleh Leiwakabessy." Ketika melihat "musuh-musuh lari ke bawah, maka dengan beberapa temannya [...] ia mengambil jalan pendek dan potong jalan pas. [...] Ia tembak lagi empat musuh. Maka, di tangan dia, 6 musuh jatuh dengan senjata-senjatanya, 3 beamont dan 3 senapan voorlaad."

Kopral Stephanus Melfibossert Anthony, yang lahir di Ambon pada 3 Juni 1872, juga dikisahkan dalam majalah Trompet nomor 81 (November 1940). Anthony bergabung ke Korps Marsose pada 13 April 1897. Majalah itu menggambarkan aksi Anthony menyerbu benteng Sala Banga, Mandar, Sulawesi Barat pada 20 Oktober 1914. “Waktu menyerbu benteng tersebut, naiklah kopral Anthony, biarpun musuh tahan dengan begitu kuat,” tulis majalah itu. Anthony bersusah payah membuka jalan bagi pasukan di belakang untuk bisa memasuki benteng.

Leiwakabessy dan Anthony berasal dari Ambon. Orang-orang Ambon dicap sebagai serdadu yang berani dan diandalkan militer Belanda.


Ada juga serdadu-serdadu Marsose dari Jawa. Salah satunya Redjakrama. Laki-laki kelahiran tahun 1867 di Kedungwaru, Bagelen (Purworejo sekarang) ini dikirim ke Aceh saat berumur 19 tahun. Kariernya cukup bagus. Pada 21 Desember 1888, saat ia masih 21 tahun, sudah jadi kopral dan naik jadi sersan pada 2 Oktober 1890. Sejak 2 Oktober 1901, Redjakrama dimutasi ke Korps Marsose.

Sebagai sersan Marsose, Redjakrama diterjunkan untuk memimpin sebuah brigade pada 26 Juni 1904. Pasukannya beroperasi di daerah Beureuleueng, Pidie. Waktu pasukan Aceh bertahan di dua rumah, Sersan Redjakrama menyerbunya.

“Sersan Redjakrama yang pertama kali masuk rumah, ada sebegitu rupa sehingga dituruti oleh brigade, yang bikin kalah musuh dan sesungguh-sungguhnya,” tulis majalah Trompet nomor 73 (Februari 1940). Digambarkan Redjakrama adalah serdadu yang sabar dan tiada hilang akal sehat.


Sersan Marsose dari Jawa yang terkenal dalam sejarah militer Indonesia adalah Gatot Subroto (1907-1962). Menurut Moh Omar dalam Jenderal Gatot Subroto (1976), Gatot, yang sejatinya baik hati itu, pernah ditempatkan sebagai Marsose di Bekasi dan Cikarang. Gatot Subroto dikenal sebagai Pahlawan Nasional dan petinggi TNI yang masih dikenang personel-personel TNI zaman now.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
Dari Sejawat
Infografik Instagram