Bupati Bandung Naik Haji dan Dijamu Penguasa Mekkah

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan - Senin, 6 Maret 2017 20:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Memoar Wiranatakoesoema merinci pandangan personal di tengah naiknya purifikasi Islam di tanah kolonial dan pengaruh Wahabi di Tanah Suci.
tirto.id - Dari sekian banyak memoar perjalanan haji yang pernah ditulis di masa lampau, kisah perjalanan haji Bupati Bandung, Wiranatakoesoema V, punya tempat tersendiri dan menarik untuk dikaji.

Memoar ini terbit sebagai cerita bersambung di koran berbahasa Belanda, Algemeen Indisch Dagblad de Preangerbode, yang terbit di Bandung pada 1925. Cerita perjalanan haji ini diberi judul Mijn reis naar Mekka. Pada tahun yang sama, Balai Pustaka menerbitkan terjemahannya dalam bahasa Melayu berjudul Perjalanan Saya ke Mekkah.

Salah satu kisah yang menarik dari perjalanan Wiranatakoesoema adalah ia berkali-kali bertemu, bahkan diundang dan dijamu, oleh Syarif Hussein Ali, penguasa Mekkah. Privilese lain dinikmati oleh Wiranatakoesoema, misalnya diberi fasilitas mobil untuk keperluan-keperluan tertentu. Mobil ini menyelamatkan Wiranatakoesoema saat Mekkah diserbu oleh pasukan Bani Saud yang hendak mengambil alih Tanah Suci.

Dididik Langsung oleh Snouck Hurgronje

Raden Adipati Aria Muharam Wiranatakoesoema lahir di Bandung, 8 Agustus 1988. Nama kecilnya Muharam. Ia putra tunggal Raden Tumenggung Kusumadilaga, Bupati Bandung ke-10, yang bergelar Wiranatakoesoema IV. Sang ayah meninggal saat Muharam berumur 5 tahun.


Warisan ayahnya membuat ia dapat kehidupan dan pendidikan yang layak. Bahkan lebih dari itu, setelah ayahnya meninggal, orientalis kesayangan penguasa kolonial, Snouck Hurgronje, turun langsung menjadi wali. Berkat Hurgronje pula, Wiranatakoesoema bisa mencicipi pendidikan di HBS (Hogere Burgreschool) Gymnasium Willem II di Batavia

Baca juga: Nasihat Abdul Ghaffar kepada Pemerintah Kolonial Belanda

Wiranatakoesoema adalah seorang poliglot. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Dalam bukunya pun tersirat, saat berhaji ia bisa bahasa Arab meski tidak fasih. Semua ini didapat langsung dari Hurgronje yang rutin memberikannya les bahasa tiap Minggu dari jam 09.00-16.00.

Sosok cerdas ini tak menyelesaikan pendidikan di HBS karena menerima panggilan berdinas sebagai ambtenaar. Mulanya menjadi juru tulis di Sumedang pada 1910. Lalu jadi Mantri Polisi di Sukabumi pada 1911. Kemudian menjadi asisten Wedana di Sukapura pada Januari 1912.

Pada Desember 1912, ia diangkat sebagai Bupati Cianjur, menjadi bupati termuda di Hindia Belanda. Umurnya kala itu baru 24 tahun (Kehidupan Kaum Menak Priangan, 1800-1942, hlm. 100).

Setelah sembilan tahun menjadi bupati Cianjur, ia pun kembali ke Bandung pada 1920 untuk meneruskan karier ayahnya sebagai bupati. Pengaruhnya sebagai Bupati Bandung semakin kuat di antara komunitas priayi. Pada 1921, ia menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Sedio Moelio, perhimpunan para bupati Hindia Belanda.

Haji Propaganda Menekan Komunisme dan pan-Islamisme?

Pan-Islamisme dipelopori Muhammad Abduh dan Rashid Ridha di Timur Tengah, yang satu napas dengan kemunculan Syarikat Islam di Hindia Belanda. Ini membikin pemerintah kolonial khawatir. Sebab Pan-Islamisme menekankan pentingnya anti-kolonialisme.

Di sisi lain, gerakan kiri Persatuan Sosial Demokrat Indonesia (ISDV) yang dibentuk Henk Sneevliet pada 1914 semakin besar di Hindia Belanda. Meski Sneevliet diusir ke Belanda pada 1918, gerakan kiri yang berbasis massa buruh ini semakin kuat. Melalui pelbagai episode, ISDV pun bertransformasi jadi Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Semaoen dan Tan Malaka sebagai pionirnya.

Sejak era Sneevliet, gerakan kiri berperan penting pada Serikat Staf Kereta Api dan Trem (VSTP). Puncaknya setahun sebelum Wiranatakoesoema berangkat haji.

Pada 13 Mei 1923 pagi, propaganda PKI sukses menggerakkan pemogokan massal di beberapa kota. Sebanyak 10 ribu buruh, dari total 50 ribu buruh kereta api dan trem di Jawa, melakukan mogok massal.

Baca juga:

Lalu apa korelasi gerakan Pan-Islamisme dan komunisme dengan Wiranatakoesoema naik haji?

Banyak yang menilai, Belanda menjadikan Wiranatakoesoema sebagai alat propaganda. Ketika naik haji pada 1924, ia adalah pegawai pribumi pertama yang diizinkan pemerintah untuk berhaji. (The Making of Indonesian Islam: Orientalism and the Naration of a Sufi Past, hlm. 195-202)

Pada konteks menghadang gerakan kiri, dalam koran Sinar Hindia (milik Sarekat Islam Semarang yang cenderung kiri), pemberangkatan Wiranatakoesoema adalah propaganda kolonial membangun citra bupati di mata rakyat demi menentang komunisme. Pada era itu, para priayi memang menjadi sasaran empuk kritik orang-orang kiri.

Di sisi lain, pemerintah kolonial ditengarai ingin mendekat dan mengontrol kelompok kanan. Pada periode awal 1920-an, Sarekat Islam memang cenderung sejenak meninggalkan ingar-bingar politik dan fokus ke agama, apalagi setelah orang-orang progresif di tubuh SI keluar sesudah Agus Salim memberlakukan larangan keanggotaan ganda bagi anggota SI dengan organisasi lain pada Kongres SI ke-6 di Semarang pada 1921.

Muncul kekhawatiran pegawai tinggi pribumi akan terpengaruh propaganda pan-Islam dan anti-kolonial jika dibiarkan pergi ke tanah suci. Bagi pemerintah kolonial, memberangkatkan Wiranatakoesoema adalah pilihan tepat. Ia dikenal bukan sosok Islam abangan. Meski tidak pernah masuk pesantren, ilmu agamanya cukup luas di atas kebanyakan orang awam. Wiranatakoesoema dikenal dekat dengan ajaran tasawuf.

Ia dekat dengan K.H. R. Muhammad Isa Al-Kholidi, mursyid tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah, dan Haji Hasan Mustapa yang masyhur sebagai ulama penting di Priangan yang mengajarkan konsep wahdatul wujud.

Meski begitu, Wiranatakoesoema juga dekat dengan kalangan Islam progresif. Saat jadi bupati Cianjur, ia langsung mendukung SI dengan menyurati Gubernur Jenderal van Limburg Strium menjelaskan faedah perhimpunan SI. Ia pun ikut serta menjadikan pendopo Cianjur sebagai sarana menggelar rapat sidang persiapan kongres pertama SI yang rencananya digelar di Bandung pada 1916.

Tapi ia adalah sosok oportunis macam priayi lain. Ketika SI beralih haluan dari organisasi dagang jadi organisasi politik anti-pemerintah, ia mengambil jarak dan menentang SI. Ia ingin mencari masalah dengan pemerintah kolonial. Meski begitu ia tetap menjalin hubungan baik dengan para ulama dan kalangan Islam. (Naik Haji di Masa Silam 1900-1950, hlm. 554)

Keluhan Ningrat yang Berhaji

Belanda betul-betul mengekspos perjalanan Wiranatakoesoema ke Mekkah. Sebelum berangkat, ia sudah memberitahu akan menulis kisahnya dalam bahasa Belanda dan Sunda.

Meski begitu, agar sesuai kepentingan kolonial, Konsulat Belanda di Jeddah, Charles O. van der Plas, menganjurkan pemerintah menyortir dulu cerita Wiranatakoesoema sebelum terbit agar tak menimbulkan masalah dengan Syarif Husein, penguasa Mekkah.

Dalam memoar perjalanannya, tak banyak konsep ibadah dan ketauhidan yang ia ungkap atau tata cara ibadah haji. Tak ada juga pembahasan dalil.

Memoar perjalanan haji Wiranatakoesoema lebih cenderung bersifat personal sebagai ningrat yang biasa hidup mewah. Inilah yang jadi kelebihan Perjalanan Saya ke Mekkah ketimbang buku lainnya.

Ada banyak sudut pandang negatif diungkapkan Wiranatakoesoema saat berhaji. Ia begitu sering menyindir budaya di tanah Arab yang jorok dan kotor. Saat kali pertama di Jeddah, ia menulis: "Jeddah itu amat kotornya. Warung dan mangkuk-mangkuk tempat orang minum kotor belaka."

Ketika di kampung karantina jemaah di Kamaran, ia mengeluhkan bantuan dari anak Arab yang menyediakan makanan baginya. Si anak itu kupingnya sakit dan tangannya sangat kotor.

"Piring yang akan diberikannya kepada saya disekanya dengan kain pinggangnya. Ya, kami telah sampai di negeri yang belum mengerti arti dan faedah kebersihan dan permulaan dari segala kekotoran. Maka saya paksalah memakan serba sedikit."

"Apabila mereka hendak minum air, maka dapatlah mereka air itu, akan tetapi siapa pun jua, baik orang berpangkat maupun tidak, minum air itu dari gelas yang sebuah saja. Saya pun haus juga. Akan tetapi, melihat bagaimana orang itu mendapat air, maka saya tahan saja dahaga saya."

Hal seperti ini juga ia keluhkan saat dijamu makan oleh Syarif Hussein. Ia merasa tak sreg dengan hidangan nasi kebuli yang dimasukkan ke dalam anus ayam panggang.

Dalam konteks kesehatan masyarakat pun ia menganggap para dokter di Arab tidak punya kemampuan yang cukup bagus. Katanya: "Maka maklumlah saya, bahwa dokter yang semacam itu masih ketinggalan daripada dokter Jawa di masa dulu di negeri kita."

Sebenarnya selama beribadah haji, Wiranatakoesoema tak selamanya hidup menderita. Fasilitas yang ia dapat dari Syarif Hussein bahkan lebih baik di atas derajatnya yang "hanya" selevel bupati. Namun, ia datang sebagai tamu kehormatan Raja, wakil dari pemerintah Hindia Belanda (Islamic Nationhood and Colonial Indonesia, hlm. 195-202)

Kritik terhadap Penyelenggaraan Haji dan Propaganda Belanda?

Tidak hanya soal kebersihan, sepanjang perjalanan, Wiranatakoesoema sering menggerutu soal penyelenggaraan haji yang terlalu komersial.

"Ka'bah itu tingginya 15 m [..] tiap tahun pintu itu dibuka. Dan tiap jemaah boleh masuk ke dalamnya asal membayar f2.50. Apabila saya teringat akan hal itu, amatlah sedih saya."

"Sebuah tempat suci dijadikan suatu mata pencarian! Itu kah maksudnya Ka'bah diadakan Tuhan? Lebih-lebih lagi sakit hati saya mendengarkan Syekh Ka'bah berseru mengajak orang masuk komidi layaknya, "ayo, Tuan, boleh masuk, mesti bayar seringgit!"

Haji, menurutnya, tak senyaman apa yang dikira orang. Lebih-lebih bagi mereka yang miskin dan melarat. Namun, dari sanalah muncul rasa iba. Ia sering menemani dokter berkeliling memeriksa rombongan haji yang lain di atas kapal yang membawanya ke Mekkah. Bahkan ia mengenal semua penumpang kapal.

Ia mengkritisi penyelenggaraan haji yang malah menyebabkan banyak korban jiwa, terutama di Arafah, saat kembali ke Mekkah melalui Mina.

"Lalu di jalan, sepanjang jalan, kedengaran orang mengaduh karena terlalu payah. Setengahnya terkatung-katung antara mati dengan hidup. Mayatnya terhantar sepanjang jalan," tulisnya.

Ia juga menggerutu soal minimnya jaminan keamanan para peziarah. Ia mengecam dengan keras kejahatan para penduduk lokal yang terus memeras, menipu, dan merampok. Kesibukan Syarif Hussein yang sedang berkonflik dengan Bani Saud-Wahabi membikin sepanjang jalur Mekkah-Madinah menjadi tidak aman dilewati.

Dari perjalanan Wiranatakoesoema ini, ada bagian penting yang bisa dimanfaatkan dengan betul sebagai propaganda oleh Belanda. Di bagian penutup tulisannya, ia mengkritisi pribumi yang berhaji dengan modal nekat.

"Ujud mereka hidup di atas dunia tak lain pergi ke Mekkah. Tidak hanya orang yang mampu saja memandang hal itu, orang miskin pun berpendapatan demikian. Inilah hal yang amat menyedihkan hati sekali. Karena itu timbulah sengsara, baik mereka yang pergi maupun anak bininya, yang ditinggalkan dengan penghidupan tersia-sia."

"Naik haji bagi mereka yang sedemikian itu tak ada pahalanya. Karena mereka tidak tahu rukun haji. Quran pun melarang pergi haji jika tidak ada pada syarat, cukup harta benda," tegasnya.

Pada masa 1920-an memang terjadi tren peningkatan jumlah peziarah ke tanah Mekkah.

Pada 1923, jumlah haji dari Hindia Belanda mencapai 22.000 orang, angka ini melonjak jadi 39.800 pada 1924. Sesudah tulisan Wiranatakoesoema tersebar, jumlah haji anjlok drastis jadi 100 orang. (Ibadah Haji: Beberapa Ciri dan Fungsinya, hlm. 58).

Anjloknya angka ini tentu disebabkan banyak hal, faktor utamanya adalah jatuhnya Mekkah ke tangan kelompok Wahabi pada 1925.

Infografik Bupati Bandung Dijamu Penguasa Mekah

Wiranatakoesoema dan Islam Puritan

Sebagai sosok yang identik dekat dengan gerakan Islam tradisional, Wiranatakoesoema memperlihatkan pemikiran berbeda saat menuliskan soal Mekkah. Ia lebih condong tertarik dengan gerakan purifikasi Islam. Seringkali ia menyoroti tindakan bidah dan tahayul yang dilihatnya di Mekkah.

"Saya melihat ada orang membawa tanah Sunda berkeliling Ka'bah. Bibit padi itu dibawanya kembali ke tanah Sunda, akan ditanamnya di sana. [..] Ada pula seorang lintah darat menggeserkan beberapa buah mata uang kepada Ka'bah. Dengan maksud supaya bunga uang itu makin tinggi.[..] Demikianlah manusia dan kelobaanya terdapat juga di mana-mana, bahkan di Mekkah, pusat dunia Islam."

Pada kasus berbeda, Wiranatakoesoema tak nyaman dengan budaya pengultusan di Mekkah.

Saat itu ia baru saja diajak Raja Syarif Hussein untuk membersihkan bagian dalam Ka'bah. "Keluarlah kami dari Baitullah, dikerumuni orang haji, orang Hindia Inggris, dan lain-lain, yang mencium tangan dan pakaian kami. Ketika itu kami terpandang sebagai orang keramat. Maka tampaklah kelobaan manusia yang telah saya sebut sebelumnya."

Pandangan Wiranatakoesoema ini jadi paradoks karena selama di Mekkah, ia berguru kepada Raden Mukhtar, seorang syekh alias ulama besar yang tidak cocok dengan gerakan purifikasi di tanah air seperti dilakukan Muhammadiyah.

Pada periode ini, ajaran purifikasi yang melekat dengan Wahabi berjalan seiring dengan gerakan puritan Islam modern. Saat Wiranatakoesoema berhaji, kondisi jazirah Arab dalam posisi genting. Kepemimpinan Syarif Hussein dari Bani Hasyim sedang digoyahkan oleh Ibnu Saud dari Jeddah yang hendak menyerang Mekkah.

Wiranatakoesoema bisa dengan segera meninggalkan Mekah menuju Jeddah saat jemaat-jemaat lain berjalan kaki atau naik unta, menjauhi lokasi-lokasi berbahaya akibat pertempuran.

Ya, Wiranatakoesoema memanfaatkan fasilitas Syarif Hussein: mobil bersama si sopir.

Saat Wiranatakoesoema pulang, Mekkah dan Medinah—dua Tanah Suci—jatuh ke tangan Ibnu Saud. Raja Hussein pun pergi meninggalkan Mekkah. Dan dengan naiknya wangsa Saud, cikal bakal Kerajaan Arab Saudi pun berdiri.

Baca juga artikel terkait IBADAH HAJI atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Zen RS

Artikel Lanjutan
DarkLight