26 Juni 1936

Nasihat Snouck Hurgronje di Masa Kolonial: Berantas Islam Politik

Oleh: Petrik Matanasi - 26 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Snouck Hurgronje masuk ke Makkah dan menghafalkan Alquran. Semata demi penelitiannya untuk gelar doktor.
tirto.id - Ketika Abdul Ghaffar tiba di Aceh, wilayah itu sedang dilanda perang selama belasan tahun. Sudah banyak korban berjatuhan, baik dari pihak Belanda maupun rakyat Aceh. Bagi orang Aceh, perang melawan orang Belanda itu adalah Perang Sabil. Mereka rela mengorbankan harta dan nyawa untuk perjuangan itu.

Dari sisi Belanda, kantong mereka sudah terkuras habis untuk perlawanan lokal terlama dalam sejarah kolonialisasi Belanda. Perang Aceh lebih lama ketimbang Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830). Abdul Ghaffar lah yang kelak bisa melihat kesalahan Belanda dalam peperangan Aceh tersebut.

Nasihat Abdul Ghaffar

Abdul Ghaffar punya banyak kenalan ulama dan sering kirim surat sejak ia ke Makkah. Ghaffar—sering juga disebut Gofur atau Gopur—tiba di Aceh pada 6 Juli 1891 setelah Teungku Chik di Tiro (1836-1891) meninggal.

Ketika itu, masjid Raya Aceh sudah lama dihanguskan militer Belanda. Itulah yang terus membuat semangat rakyat Aceh sedemikian membara untuk menumpas Belanda. Inilah kesalahan Belanda yang dilihat oleh Gopur. Ia pun mencoba mengingatkan kesalahan itu kepada pemerintah kolonial.

Gopur tak lama tinggal di sana. Ia tiba bulan Juni, dan meninggalkan Aceh pada Februari 1892. Dengan perawakan Eropanya dan kemampuan berbahasa Arabnya—plus dipandang oleh orang-orang bergelar haji karena sudah ke Makkah pada usia 27—orang-orang Aceh itu mengira si Gopur adalah orang Arab. Setelah Februari 1892, kemungkinan besar Haji Gopur ke Betawi (Jakarta).

Ia pun pulang ke rumah Sangkana, wanita asal Cimahi yang dinikahinya sejak 1890, ketika belum lama tinggal di Hindia Belanda. Di sana, Gopur segera menulis pengalamannya di Aceh dan pemikirannya dalam tulisan berjudul De Atjeher, yang diterjemahkan sebagai Rakyat Aceh.

Tak hanya itu, Gopur punya banyak tulisan soal Islam, yang berguna bagi pemerintah kolonial yang dilanda mabuk berat menghadapi rakyat Aceh.


Dari Abdul Ghaffar, pemerintah kolonial mendapat nasihat bagaimana harus menghadapi perlawanan keras orang-orang Aceh.

Sebenarnya, Gopur menyarankan agar militer KNIL Belanda bersikap baik untuk mengambil hati rakyat Aceh. Militer KNIL tak dibenarkan meneror rakyat, membakar kampung, dan merampas makanan rakyat Aceh.

Soal Islam, Gopur juga mengingatkan pemerintah kolonial dalam menghadapi Islam. Menurutnya, ada Islam sebagai agama yang tidak berbahaya, dan ada Islam sebagai kekuatan politik yang bisa berbahaya bagi pemerintah kolonial. Dan untuk soal terakhir, pemerintah tak perlu ragu-ragu untuk serius memberantasnya.

Selain meneliti soal Islam di Hindia Belanda, ia mengajar bahasa Arab di Betawi. Gopur dekat dengan pemerintah kolonial dan bangsawan di Priangan. Istrinya, Sangkana, adalah keturunan bangsawan.

Setelah Sangkana meninggal, Gopur menikah lagi dengan putri seorang penghulu di Jawa Barat juga. Sejak 1898, ia sudah menjadi penasihat urusan pribumi bagi pemerintah kolonial. Orang-orang tersebut, termasuk mertua-mertua yang merelakan anaknya dinikahi Gopur, agaknya sangat yakin jika laki-laki yang mirip orang Arab ini adalah Haji Abdul Gopur.


Siapa Abdul Ghaffar?

Orang yang mirip orang Arab yang kita maksud adalah Christian Snouck Hurgronje. Seperti banyak orang Islam, bagi Snouck yang agnostik, naik haji adalah salah satu hal penting dalam hidupnya.

Bedanya, ia pergi ke Makkah pada awal abad 20 demi kepentingan ilmiah karena ia akademisi. Sejak muda, ia penasaran pada Islam, sampai-sampai bahasa Arab dan Alquran pun ia pelajari.

Snouck terlahir sebagai anak pendeta Belanda. Sejak 1874, saat berusia 17 tahun, ia mulai belajar teologi di Universitas Leiden. Pada 1880, ia merampungkan Het Mekkaansche Feest (Perayaan Makkah) meski belum pernah memasuki Kota Makkah. Makkah adalah kota tertutup bagi nonmuslim.

Begitu Het Mekkaansche Feest dirampungkan, Snouck jadi pengajar bagi mahasiswa sekolah pegawai yang akan dikirim ke Hindia Belanda sejak 1881. Kesempatan memasuki Makkah akhirnya datang pada 1885. Dengan penguasaan bahasa Arabnya, ia berhasil meyakinkan para ulama di Turki akan kesungguhannya belajar Islam. Ulama-ulama itu bahkan membimbingnya. Masuk Makkah tentu akan mudah asal beragama Islam. Menjadi Islam juga mudah, cukup berucap dua kalimat syahadat.



Infografik Mozaik Haji Abdul Ghaffar
Infografik Mozaik Haji Abdul Ghaffar. tirto.id/Nauval


Akhirnya, menurut Hamid Algadri dalam Politik Belanda terhadap Islam dan keturunan Arab di Indonesia (1988), Snouck berhasil masuk Makkah dan terkesan bersungguh-sungguh seperti orang berhaji, hingga dianggap telah masuk Islam. Menurut Augustus Rally dalam Orang Kristen Naik Haji (2011), Snouck tinggal enam bulan di Makkah. Snouck bahkan ikut membuat foto-foto pemandangan musim haji di Makkah.

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia V, “Snouck Hurgronje tidak menaruh kepercayaan pada Islam sebagai kekuatan yang dapat membawa kemajuan.”


Menurut surat Snouck bertanggal 18 Februari 1886 kepada kawan kuliahnya, Carl Bezold, ia hanya berpura-pura saat mendalami Islam. Ia tak jauh beda dengan Wyn Sargent, yang rela menikahi istri Obahorok, kepala suku Dani, demi meneliti kehidupan suku Analaga. Kemampuan Snouck meneliti dengan menyamar sebagai muslim diakui matang oleh Vogel, peneliti Belanda lain.

“Banyak petualang yang menyamar dan beberapa orang berpengetahuan telah mengunjungi kota suci, tetapi Snouck Hurgronje, tiada keraguan, adalah yang terbaik. Ia hidup mengikuti cara hidup seorang muslim dengan nama Abdul Ghaffar,” tulis Vogel dalam Bukti-bukti Kebohongan Orientalis (1996).

Snouck Hurgronje alias Abdul Ghaffar meninggal pada 26 Juni 1936, tepat hari ini 83 tahun lalu. Ia dikenang sebagai orientalis-indolog yang sangat menguasai seluk-beluk Islam di Hindia Belanda.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 13 September 2016 dengan judul "Nasihat Abdul Ghaffar kepada Pemerintah Kolonial Belanda". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait PERANG ACEH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Mild Report)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti