tirto.id - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya memeriksa intensif 15 orang terkait bentrokan maut di Jalan Tambak, Menteng. Polisi menyatakan motif kerusuhan yang memicu satu korban jiwa ini bukan karena perkara urusan makan, melainkan akibat gesekan suara knalpot brong.
Dari pantauan Tirto di lokasi, pasukan TNI/Polri melakukan penjagaan di sepanjang Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7/2026).
Langkah pengamanan ini diambil untuk mengantisipasi bentrokan susulan antarwarga yang terjadi pada Minggu (26/7/2026) pagi. Selain itu, untuk memulihkan rasa aman bagi masyarakat dan pelaku UMKM yang beraktivitas di sekitar lokasi kejadian.
Insiden berdarah tersebut mengakibatkan satu orang warga berinisial K meninggal dunia dan satu orang lainnya berinisial DS mengalami luka berat.
Kondisi Terkini di Sekitar Masjid Jami’ Matraman
Suasana di sekitar Masjid Jami’ Matraman pun tampak mulai berangsur pulih meski pengamanan masih diperketat. Sejumlah personel kepolisian dan TNI tampak bersiaga di titik-titik rawan untuk memastikan aktivitas warga dan perdagangan kembali normal.
Sebuah lahan kosong yang sebelumnya menjadi salah satu titik bentrok antar warga, kini telah terlihat kosong dan dipasangi garis polisi. Di dalam area tertutup tersebut, masih terlihat jelas sisa-sisa pembakaran dan pecahan beling akibat kerusuhan yang terjadi sebelumnya.
Sementara itu, satu unit gerobak nasi uduk yang menjadi korban perusakan selama insiden berlangsung telah dibawa oleh pihak kepolisian sejak malam hari untuk dijadikan barang bukti penyelidikan.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Reynold Hutagalung, menyatakan bahwa proses penegakan hukum terhadap para pelaku bentrokan kini telah dilimpahkan ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.
Penjagaan di lokasi melibatkan satu kompi personel Polda Metro Jaya, satu kompi Kodam Jaya, serta jajaran Polres Metro Jakarta Pusat dan Polsek setempat.
"Saat ini proses hukum sedang berlangsung dan ditangani oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Sebanyak 15 orang sedang diperiksa secara intensif, melanjutkan pemeriksaan terhadap tiga orang awal yang sudah diproses terkait perbuatan di lokasi kejadian," ungkap Reynold saat memberikan keterangan di depan Masjid Jami’ Matraman, Senin (27/7/2026).
Reynold mengonfirmasi bahwa insiden berdarah tersebut menelan korban jiwa dari pihak yang terlibat bentrok.
"Ada dua korban dari peristiwa kemarin, satu orang dirawat di rumah sakit dan satu orang meninggal dunia. Kami mengucapkan turut berduka cita," tambahnya.
Reynold mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan meminta publik serta awak media untuk bijak dalam menyebarkan informasi maupun menggunakan media sosial, dengan mempercayakan penuh penanganan kasus hukum kepada jajaran Polda Metro Jaya.
Dampak Sosial dan Ganti Rugi Kerusakan Fasilitas UMKM
Camat Menteng Nurhelmi Savitri saat ditemui wartawan di depan Masjid Jami’ Matraman, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

Menyikapi dampak kerugian material di wilayahnya, Camat Menteng, Nurhelmi Savitri, memastikan bahwa pemerintah kecamatan akan segera mengganti gerobak pedagang nasi uduk yang rusak agar korban dapat kembali mencari nafkah.
"Kerugian ada satu gerobak pedagang nasi uduk yang rusak, dan insya Allah akan segera kami ganti nanti sore atau paling lambat besok pagi. Karena gerobak yang asli ditarik polisi untuk barang bukti, jadi biar yang bersangkutan bisa kembali berdagang," jelas Nurhelmi saat ditemui di lokasi, Senin (27/7/2026.
Imbas dari situasi keamanan yang sempat memanas, sejumlah sekolah di sekitar lingkungan Masjid Jami’ Matraman terpaksa menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Langkah ini diambil sebagai tindakan antisipatif guna memberikan rasa tenang dan nyaman bagi para orang tua siswa hingga situasi lingkungan dinyatakan benar-benar kondusif.
Terkait lahan kosong yang menjadi titik awal bentrokan, Nurhelmi mengakui area tersebut agak tertutup dan pihaknya masih menelusuri kepemilikannya.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Forkopimcam Menteng segera mengumpulkan tokoh masyarakat, RT/RW, Karang Taruna, pengurus Masjid Jami’ Matraman, serta tokoh lintas agama untuk berkolaborasi meredam potensi konflik.
Kronologi dan Bantahan Hoaks Urusan Makan
Dari sisi warga di sekitar lokasi, Agus (nama samaran), seorang pedagang di sekitar lokasi kejadian, menjelaskan bahwa keributan murni bermula dari rasa tersinggung akibat suara bising knalpot sepeda motor.
"Bukan karena enggak bayar, awalnya beli bubur, udah beli, motor digeber-geber kan knalpotnya gede. Ada yang menegur. Udah pulang, balik lagi teman bawa teman-temannya kira-kira ada 10 orang datang dan mengumpat-umpat," kata Agus.
Kemudian, Pengurus Masjid Jami’ Matraman, Rino Prabowo, meluruskan informasi keliru yang sempat memicu ketegangan lanjutan, sekaligus menegaskan bahwa bangunan masjid sama sekali tidak menjadi sasaran perusakan.
"Pokoknya tidak ada perusakan masjid. Dan bukan karena enggak bayar makan, dia habis makan bubur dan bayar. Awalnya sempat berisikan motor, karena tak terima ditegur, akhirnya datang lagi membawa pasukan," jelas Rino saat ditemui di lokasi, Senin (27/7/2026).
Rino mengungkapkan bahwa pada malam setelah kejadian awal, kelompok massa sempat kembali mendatangi lokasi dengan membawa senjata tajam dan busur panah.
Kedatangan mereka dipicu oleh rasa kecewa dan solidaritas atas rekan mereka yang mengalami luka parah hingga meninggal dunia di rumah sakit. Namun, aksi balasan tersebut berhasil digagalkan sebelum membesar.
"Mereka datang untuk menunjukkan kekecewaan, tetapi semua berhasil dihadang, diredam, dan diberikan pengertian oleh pihak Polri dan TNI. Kedua belah pihak bisa sama-sama menahan diri sehingga terkendali dan tidak terjadi apa-apa lagi," tutur Rino.
Ratusan Personel Gabungan Disiagakan di Lokasi
Aparat gabungan TNI dan Polri melakukan penjagaan di lokasi bentrok antarwarga di sekitar area Masjid Jami’ Matraman, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

Pengurus masjid meminta seluruh masyarakat untuk bersikap bijak dalam menyerap informasi agar tragedi serupa tidak terulang. Situasi yang kini telah kondusif diharapkan dapat dijaga bersama oleh seluruh elemen warga tanpa terpengaruh oleh provokasi dan disinformasi.
Diketahui, pengamanan ketat telah dikerahkan sejak malam pasca bentrokan. Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Erlyn Sumantri, menyatakan bahwa ratusan personel gabungan diturunkan untuk meredam potensi konflik susulan di lokasi.
"Semalam ada 188 personel gabungan TNI, personel Polda (Metro Jaya), Polres Jakarta Pusat, dan Polsek Menteng [yang disiagakan di lokasi]," jelas Erlyn saat dihubungi, Senin (27/7/2026).
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































