tirto.id - Erupsi Gunung Marapi di Sumatra Barat terjadi pada Sabtu (26/9/2026). Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Marapi, erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 19 detik.
Peningkatan aktivitas Gunung Marapi tersebut turut menjadi perbincangan di media sosial setelah salah satu netizen mengaku mengalami hujan abu vulkanik saat menyaksikan konser grup band Kotak di Bukittinggi.
“Udah lama ga konser, giliran konser malah erupsi,” tulis akun Instagram @hey.piaaa_ pada 27 September 2026.
Berdasarkan laporan pengamatan Gunung Marapi pada 27 September 2026, masih tercatat sejumlah aktivitas kegempaan, namun hingga berita ini diturunkan status Gunung Marapi berada pada Level II (Waspada).
Gunung Marapi berada di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Bara dengan ketinggian mencapai 2.891 mdpl.
Aktivitas pada 26 September 2026 tersebut bukan kali pertama Gunung Marapi mengalami erupsi. Gunung ini juga pernah mengalami erupsi pada 3 Desember 2023. Erupsi tersebut menyebabkan 75 orang pendaki terjebak, dengan 22 orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Situasi Terkini Erupsi Gunung Marapi Sumatra Barat
Pada Sabtu (26/8/2026), aktivitas Gunung Marapi menunjukkan adanya peningkatan. Berdasarkan laporan pengamatan hari itu di laman Magma ESDM, Gunung Marapi tercatat mengalami 1 kali gempa Letusan/Erupsi, 7 kali gempa Hembusan, 5 kali Tremor Non-Harmonik, 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 1 kali gempa Vulkanik Dalam, 1 kali gempa Tektonik Lokal, 2 kali gempa Tektonik Jauh, dan 1 kali Tremor Menerus.
Secara visual, gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tinggi teramati sekitar 50 meter dari puncak. Pada hari yang sama juga terekam gempa letusan, meskipun tinggi letusan dan warna abu tidak teramati secara visual.
Masyarakat di sekitar Gunung Marapi serta pengunjung dan wisatawan diingatkan untuk tidak mendaki atau melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari kawah atau puncak.
Sehari setelahnya, pada Minggu (27/9/2026), laporan harian Gunung Marapi mencatat sejumlah aktivitas kegempaan. Terdapat 3 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 3,1-3,4 mm dan durasi 30-38 detik.
Kemudian tercatat 1 kali Tremor Non-Harmonik dengan amplitudo 3,8 mm dan durasi 62 detik, 1 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2,9 mm dan durasi 7 detik, serta 1 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 8,1 mm, S-P 2,8 detik dan durasi 15 detik.
Selain itu, tercatat 2 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 2,9-8,9 mm dan durasi 10-18 detik, 3 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 3,2-3,5 mm, S-P 24-71 detik dan durasi 79-112 detik, serta 1 kali Tremor Menerus dengan amplitudo 3-3,5 mm dan amplitudo dominan 3,2 mm.
Pada pengamatan visual Minggu (27/9/2026), Gunung Marapi terlihat jelas hingga kemudian tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Kondisi cuaca dilaporkan cerah hingga hujan dengan angin lemah menuju timur laut, timur, selatan, dan barat laut.
Laporan tersebut juga mencatat adanya peningkatan aktivitas kegempaan Gunung Marapi sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mematuhi zona rekomendasi Badan Geologi.
Kondisi klimatologi pada hari itu mencatat suhu udara sekitar 16,5-21,9 derajat Celsius, kelembapan 72,8-100 persen, tekanan udara 639,8-640,5 mmHg, dan intensitas curah hujan 0,33 mm per hari.
Untuk hari ini, Senin (28/9/2026), belum ditemukan adanya aktivitas harian Gunung Marapi yang dilaporkan di situs Magma ESDM. Status gunung tetap berada di Level II (Waspada).
Meskipun masih berada di Level II, karena adanya peningkatan aktivitas, masyarakat di sekitar Gunung Marapi dan pendaki, pengunjung, maupun wisatawan diminta tidak memasuki dan tidak melakukan kegiatan di dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, aliran, atau bantaran sungai yang berhulu di puncak Marapi juga diminta mewaspadai potensi lahar, terutama saat musim hujan.
Apabila terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker untuk menutup hidung dan mulut, memakai perlengkapan untuk melindungi mata dan kulit, mengamankan sarana air bersih, serta membersihkan abu vulkanik yang menumpuk di atap rumah.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































