tirto.id - Hamzah Batik di Malioboro, Yogyakarta, terbakar pada Senin (28/9/2026). Toko oleh-oleh ini merupakan salah satu yang ikonik di Malioboro lantaran dimiliki oleh Hamzah Sulaiman alias Raminten yang sohor di Kota Pelajar.
Kebakaran toko Hamzah Batik dilaporkan terjadi pada Senin dini hari, sekira pukul 01.30 WIB. Api disebut membakar area lantai tiga bangungan toko dan baru berhasil dipadamkan pada 04.45 WIB.
Menurut Pejabat Sementara (Pjs) Kasi Humas Polresta Yogyakarta Iptu Dani Hasan, keterangan saksi menyatakan api yang membakar Hamzah Batik berasal dari lantai tiga. Sumber api sejauh ini belum dikonfirmasi, namun terdapat dapur di lantai tersebut.
Dani juga menuturkan tak ada korban jiwa dalam insiden ini. Sementara total kerugian akibat kebakaran belum dapat diketahui seiring proses penghitungan yang masih berlangsung.
"Jam 04.45 WIB api berhasil dipadamkan. Kemudian dilakukan proses pendinginan. Untuk korban jiwa tidak ada. Sedangkan total kerugian masih belum diketahui totalnya," kata Dani.
Profil Hamzah Batik dan Lika-Liku Perkembangannya
Hamzah Batik merupakan nama toko pusat oleh-oleh khas Yogyakarta. Di tempatnya berdiri, namanya kondang berkat kesuksesan pendirinya, yakni Hamzah Sulaiman.
Kendati kini dikenal sebagai Hamzah Batik, toko ini sebelumnya lebih dikenal publik Jogja sebagai Mirota Batik. Jenama ini menjadi toko oleh-oleh yang didirikan di Malioboro pada 1979 yang membawa konsep “Malioboro Baru”, yakni pasar kecil yang terdiri dari beberapa kios atau stand.
Sejak awal, toko ini memang dimaksudkan sebagai bagian dari grup usaha Mirota. Di Yogyakarta, Mirota merupakan sebuah usaha ritel milik pengusaha Hendro Sutikno yang berdiri pada 1950-an. Namun, dalam perkembangannya, usaha tersebut bertransformasi menjadi berbagai unit lain di berbagai bidang, termasuk restoran, pabrik susu, hingga alat tulis.
Mirota Batik adalah unit usaha Mirota yang diberikan kepada putra Hendro Sutikno bernama Hamzah Sulaiman. Lewat tangan Hamzah Sulaiman itulah, Mirota Batik mulai berkembang dengan dimulai dari tiga stand yang menjual batik dan kerajinan tangan. Dari yang semula menjual batik lewat kios di Malioboro hingga akhirnya berjualan lewat bangunan gedung toko tersendiri.
Bangunan Mirota Batik sempat terbakar pada 2 Mei 2004. Operasional toko dipindahkan sementara ke Mirota Gallery. Saat gedung baru tiga lantai selesai dibangun di Malioboro pada 2006, operasional pun berpindah lagi ke toko tersebut dan diberi nama Hamzah Batik.Kesuksesan Hamzah Batik kemudian turut dikatrol oleh kepopuleran Hamzah Sulaiman dalam dunia seni Yogyakarta. Selain dikenal sebagai pengusaha, Hamzah juga seorang aktor.
Hamzah kondang dengan karakter Raminten yang ia mainkan dalam serial “Pengkolan” dan disiarkan Jogja TV. Dalam karakter itu, Hamzah berperan sebagai seorang perempuan Jogja dengan ciri khas sanggul, kebaya, dan jarik yang selalu melekat.
Karakter itu rupanya cukup melekat bagi Hamzah. Pada 2008, Hamzah mendirikan The House of Raminten, sebuah toko jamu yang kini berkembang jadi salah satu restoran tujuan wisatawan di Yogyakarta.
Lewat karakter Raminten , Hamzah kemudian menjadi salah satu ikon bagi publik Yogyakarta. Kisah hidupnya bahkan membuat Hamzah mendapat gelar kehormatan Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hajinindyo oleh Keraton Yogyakarta. Pada 23 April 2025 lalu, Hamzah Sulaiman meninggal dunia.
Namun, pada 28 September 2026, bangunan toko Hamzah Batik terbakar. Belasan unit mobil pemadam turut dikerahkan untuk mengusir si jago merah. Kebakaran yang menjadi insiden kedua dialami Hamzah Batik tersebut terjadi dalam tiga dekade terakhir.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































