tirto.id - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik, meskipun Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen secara tiba-tiba pada Selasa hari ini.
Bagi Luhut, kenaikan BI 7 Days Repo Rate ini merupakan langkah bank sentral untuk mengerem agar nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak makin melemah.
"Kan, bagus, ngerem anu (pelemahan rupiah). Enggak. Bagus-bagus kok, ekonomi kita (RI), fundamental masih oke," katanya kepada wartawan, di KomplekS Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).
Meski begitu, dengan masih berlangsungnya perang Amerika Serikat-Israel dan Iran yang menghambat lalu lintas perdagangan minyak mentah dunia di Selat Hormuz, pemerintah perlu tetap waspada. Dalam hal ini, pemerintah perlu terus memerhatikan dinamika global yang terjadi untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia.
"Tapi memang kita perlu ada perhatian di beberapa titik karena perang Teluk ini juga masih perang apa, perang Hormuz ini masih berkelanjutan," tambahnya.
Sementara itu, melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang dilaksanakan setiap Selasa, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps), menjadi 5,50 persen. Langkah ini diambil meskipun belum lama ini bank sentral mengerek suku bunga acuan menjadi 5,25 persen melalui RDG Bulanan yang dilaksanakan pada 19-20 Mei 2026.
"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen,” jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (9/6/2026).
Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen.
Kata Ramdan, kenaikan suku bunga ini dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Selain itu, langkah ini juga ditujukan sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah.
“Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia,” kata Ramdan.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































