Menuju konten utama

Rupiah Melemah, Bank Permata: BI Rate Berpeluang Naik ke 5%

Bank Permata prediksi BI Rate berpotensi naik ke level 5% pada Mei atau Juni 2026 demi jaga stabilitas nilai tukar.

Rupiah Melemah, Bank Permata: BI Rate Berpeluang Naik ke 5%
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi akibat ketidakpastian global memicu prediksi kenaikan suku bunga acuan. Ekonom Bank Permata menyebut ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga kini semakin sempit, bahkan terdapat peluang kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin ke level 5 persen pada semester I 2026 untuk menjaga stabilitas pasar.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut ruang penurunan suku bunga acuan BI semakin sempit, di tengah upaya bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Apalagi sampai hari ini, Selasa (12/5/2026), rupiah terus terdepresiasi seiring ketidakpastian global yang disulut oleh perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

"Terkait peluang Bank Indonesia memangkas suku bunga, tadi juga sudah disampaikan oleh rekan kami Faisal bahwa ruang pemangkasan suku bunga semakin terbatas. Karena fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar," ujarnya dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal 1 2026, Selasa.

Alih-alih menurunkan suku bunga acuan, pada semester I 2026 Bank Indonesia justru berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5 persen. Ruang penarikan suku bunga acuan ini semakin terbuka seiring memburuknya sejumlah indikator ekonomi, mulai dari inflasi, defisit transaksi berjalan, hingga berlanjutnya depresiasi rupiah karena tekanan global.

"Kami melihat memang peluang BI untuk menaikkan suku bunga ke 5% itu terbuka saat ini,” ujar Head of Macroeconomics and Market Research PermataBank’s PIER, Faisal Rachman, dalam kesempatan yang sama.

Penaikan suku bunga ini diperkirakan akan terjadi pada Mei atau Juni 2026. "Kami melihat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis point pada semester I cukup terbuka, kemungkinan pada Mei atau Juni, sehingga BI Rate dapat naik menjadi 5 persen," ujarnya.

Sinyal kenaikan suku bunga acuan, kata Faisal, semakin besar karena sampai saat ini rupiah sudah terdepresiasi lebih dari 4 persen. Secara historis, apabila rupiah melemah lebih dari 3 persen, biasanya terdapat potensi kenaikan suku bunga acuan BI.

"Selain itu, yield SRBI juga terus meningkat. Karena itu kami melihat peluang kenaikan BI Rate menuju 5 persen pada semester I cukup terbuka," ucap Faisal.

Di sisi lain, meskipun hasil Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) masih memberikan sinyal pemangkasan, market justru melihat ruang penurunan suku bunga tahun ini semakin terbatas.

Namun demikian, fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan Bank Indonesia pun tidak hanya terbatas pada suku bunga.

"Bank Indonesia juga terus melakukan pelonggaran melalui kebijakan sistem pembayaran, makroprudensial, intervensi NDF, pembelian SBN di pasar sekunder, serta menjaga likuiditas sektor perbankan. Harapannya langkah-langkah tersebut dapat menjaga stabilitas rupiah ke depan," jelas Josua Pardede.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA BI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah