Menuju konten utama

BI: Outlook Fitch Tak Cerminkan Fundamental Ekonomi Indonesia

BI menilai prospek ekonomi Indonesia tetap solid dan berdaya tahan di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

BI: Outlook Fitch Tak Cerminkan Fundamental Ekonomi Indonesia
Gedung Bank Indonesia di Jakarta. FOTO/bi.go.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa revisi outlook utang Indonesia menjadi negatif oleh Fitch Ratings tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya. Perry meyakini prospek ekonomi Indonesia tetap solid dan berdaya tahan, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat serta inflasi yang terkendali di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

"Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia," kata dia, dikutip Kamis (5/3/2026).

Sebaliknya, ia meyakini bahwa prospek perekonomian Indonesia tetap kuat dan berdaya tahan.

Kuatnya perekonomian Indonesia terlihat dari ekonomi yang berhasil tumbuh 5,39 persen pada akhir tahun lalu, saat ketidakpastian global meningkat. Belum lagi, tingkat inflasi termasuk inflasi inti juga tetap rendah, hingga nilai tukar rupiah yang terus diperkuat melalui kebijakan stabilisasi nilai tukar di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.

"Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang meluas, ditopang oleh infrastruktur yang stabil, dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi," tambah Perry.

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap solid dan menunjukkan tren meningkat, didukung oleh inflasi yang terkendali. Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen dan meningkat pada 2027, dengan inflasi yang tetap terkendali sesuai sasaran target.

Di sisi lain, ketahanan eksternal perekonomian Indonesia juga tetap kuat di tengah gejolak global, dengan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat dan ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang solid. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bahkan, NPI pada tahun ini diperkirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran defisit 0,9-0,1 persen terhadap PDB.

Meski begitu, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

"Bersinergi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Program Asta Cita Pemerintah, serta terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam rangka memelihara kepercayaan pasar," tukas Perry.

Sementara itu, meski outlook direvisi negatif, Fitch menempatkan peringkat utang Indonesia di level ‘BBB'. Alasannya karena rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang moderat, serta ketahanan eksternal yang memadai.

Namun di sisi sebaliknya, Fitch menyoroti penerimaan negara yang lemah, tingginya biaya pembayaran utang, serta ketertinggalan dalam indikator tata kelola dibandingkan negara peers di kategori 'BBB'.

Dari sisi moneter, Fitch memperkirakan Bank Indonesia akan memangkas suku bunga dua kali menjadi 4,25 persen pada akhir 2026. Namun, perluasan mandat BI untuk mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja dinilai dapat menciptakan tantangan dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi, terutama jika terjadi tekanan arus modal keluar.

Sementara dari sisi eksternal, Fitch memproyeksikan defisit transaksi berjalan akan melebar menjadi 0,8 persen dari PDB pada 2026. Meski cadangan devisa dinilai masih memadai, sentimen investor disebut masih rapuh pascavolatilitas pasar domestik baru-baru ini.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Fitch masih melihat pertumbuhan ekonomi sebagai kekuatan utama. Lembaga ini memproyeksikan pertumbuhan stabil sekitar 5,0 persen pada 2026-2027, dua kali lipat dari median negara 'BBB' sebesar 2,5 persen. Namun, target pertumbuhan 8 persen pada 2029 dinilai sulit tercapai.

“Kami meyakini target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan pemerintah pada tahun 2029 akan sulit tercapai tanpa adanya reformasi struktural yang signifikan,” tulis laporan itu.

Baca juga artikel terkait FITCH RATINGS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah