tirto.id - Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi keputusan lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Menurut Airlangga, perubahan outlook tersebut dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global yang memanas. Salah satu pemicunya adalah konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
"Ekonomi dunia semuanya terpengaruh, bukan hanya oleh Fitch, tetapi oleh perang," katanya di Menara Batavia, Jakarta Selatan, Kamis (5/3/2026).
Airlangga mengatakan perkembangan konflik global berpotensi membawa perubahan bukan hanya bagi perekonomian Indonesia, tetapi juga ekonomi dunia. Apalagi, tidak ada kepastian mengenai berapa lama konflik geopolitik, khususnya antara AS-Israel dan Iran, akan berlangsung.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa posisi Indonesia masih berada pada level layak investasi atau investment grade.
"Jadi, memang dunia ini outlook-nya lagi diperkirakan akan banyak perubahan dengan perkembangan di Timur Tengah, tetapi yang penting kan Indonesia tetap investment grade," tuturnya.
Di sisi lain, Airlangga menilai catatan yang disampaikan Fitch mengenai kondisi ekonomi Indonesia akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah. Salah satu aspek yang disorot oleh Fitch adalah penerimaan pajak.
Karena itu, pemerintah berencana memperkuat penerimaan negara melalui peningkatan rasio pajak. Upaya tersebut akan didukung oleh implementasi sistem perpajakan baru, yakni Core Tax.
"Apa yang menjadi warning Fitch, itu kita pelajari. Itu untuk mengingatkan Indonesia apa yang harus kita pelajari ke depan," ucapnya.
"Tentu beberapa hal yang kita lihat perlu kita perkuat adalah di segi penerimaan. Salah satunya adalah dengan Core Tax yang kemarin sudah didorong di Kementerian Keuangan," imbuh Airlangga.
Sebelumnya, Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing pada level 'BBB'.
Revisi outlook tersebut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan di dalam negeri serta kekhawatiran atas terkikisnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia.
Fitch menilai sentralisasi kewenangan pengambilan kebijakan yang semakin kuat berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, mengganggu sentimen investor, dan menekan ketahanan eksternal.
Lembaga pemeringkat itu juga memperingatkan bahwa pelonggaran signifikan terhadap kerangka fiskal yang telah lama diterapkan, termasuk batas defisit 3 persen, berpotensi melemahkan kredibilitas kebijakan.
Meski outlook direvisi menjadi negatif, Fitch tetap menempatkan peringkat utang Indonesia pada level ‘BBB’. Penilaian tersebut didasarkan pada rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang dinilai baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang moderat, serta ketahanan eksternal yang dianggap memadai.
Namun di sisi lain, Fitch menyoroti sejumlah kelemahan struktural, seperti penerimaan negara yang masih rendah, tingginya biaya pembayaran utang, serta ketertinggalan Indonesia dalam indikator tata kelola dibandingkan negara-negara peers di kategori 'BBB'.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































