Menuju konten utama

Berapa Uang yang Harus Dibawa saat Haji dan Umrah?

Berapa uang yang harus dibawa saat haji dan umrah? Simak perkiraan uang saku minimal untuk haji dan umrah, disertai info uang saku haji tahun ini.

Berapa Uang yang Harus Dibawa saat Haji dan Umrah?
Ilustrasi haji. Uang saku haji 2025 diberikan kepada setiap jemaah untuk membantu mencukupi kebutuhan living cost selama di tanah suci. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/tom.

tirto.id - Jemaah yang berangkat haji akan memperoleh uang saku dari pemerintah untuk dipergunakan selama berada di tanah suci. Mereka pun boleh membawa uang tambahan sendiri. Berapa uang yang harus dibawa saat haji?

Besaran pemberian uang saku haji setiap tahunnya berbeda-beda. Jumlah tersebut untuk membantu mencukupi biaya hidup (living cost) di Makkah, Arab Saudi, tahun berjalan.

Living costhaji adalah sejumlah uang yang diperlukan jemaah untuk memenuhi standar hidup tertentu selama dirinya melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Pengelola Keuangan haji (BPKH) menyiapkan anggaran dalam jumlah tertentu setiap tahunnya untuk memenuhi biaya hidup jemaah haji ini.

Besaran Uang Saku Haji 2025

Anggaran yang disediakan pemerintah Indonesia untuk membantu kebutuhan living cost haji 2025 sebesar SAR152.490.000 atau sekira Rp660.378.814.580. Nominal tersebut akan dibagikan kepada setiap jemaah haji yang berangkat tahun ini sebagai uang saku.

Uang saku ini diberikan dalam bentuk mata uang kertas riyal. Mengutip laman Kemenag, alokasi anggaran untuk living cost haji menjadi bagian tidak terpisahkan dari BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji).

Setiap jemaah haji akan mendapatkan dana living cost sebesar SAR750 atau sekira Rp3.187.500 (asumsi SAR1 = Rp4.250). Pecahan uang kertas riyal yang diterima berupa 1 lembar SAR500, 2 lembar SAR100, dan 1 lembar SAR50.

Komponen Living Cost di Makkah 2025 bagi Jemaah Haji

Biaya yang dikeluarkan selama tinggal di Makkah untuk jemaah haji tidak bisa disamakan dengan living cost bagi orang yang bermukim di sana. Alasannya, jemaah haji sudah ditanggung kebutuhan utamanya seperti akomodasi, makan tiga kali sehari, hingga kebutuhan transportasi. Air Zam-Zam pun sudah dijatah bagi setiap jemaah.

Biaya yang akan dikeluarkan oleh jemaah lebih cenderung untuk keperluan tambahan. Contohnya seperti kebutuhan membayar dam jika melanggar wajib haji, membeli makanan tamabahan, hingga belanja oleh-oleh atau suvenir.

Dengan demikian, jemaah haji sebaiknya melakukan riset dan merencanakan kira-kira apa saja yang akan dilakukan sembari berhaji. Perencanaan seperti ini membuat jemaah tidak berlebihan dalam membawa uang saku tambahan di luar uang saku haji yang telah diberikan pemerintah.

Berapa Banyak Uang yang Harus Dibawa Saat Haji dan Umrah?

Jemaah yang menjalankan ibadah haji dan umrah memiliki biaya hidup yang kurang lebih sama. Akomodasi, makan, sampai transportasi sudah ditanggung penyelenggara. Bedanya, kebutuhan uang saku untuk haji mungkin sedikit lebih banyak ketimbang umrah karena durasinya lebih lama.

Perkiraan kebutuhan dana saat berada di tanah suci jemaah haji dan umrah terdiri dari beberapa komponen biaya kurang lebih seperti berikut :

  • Belanja oleh-oleh : Rp1,5 juta sampai Rp3 juta
  • Membeli makanan tambahan: Rp500 ribu sampai Rp1 juta
  • Biaya komunikasi untuk pembelian paket data atau kartu SIM lokal: Rp200 ribu - Rp400 ribu
  • Infak dan sedekah: Rp500 ribu sampai Rp1 juta
  • Lain-lain: Rp1 juta sampai Rp2 juta
Total perkiraan biaya tambahan tersebut antara Rp3,7 juta hingga Rp7,4 juta. Dengan demikian, uang saku minimal untuk haji dan umrah sebagai berikut:

1. Berapa banyak uang yang harus dibawa saat haji?

Setiap jemaah haji akan diberikan uang saku untuk membantu living cost selama di tanah suci. Jika uang saku dari pemerintah ditetapkan sebesar Rp3.187.500, maka jemaah setidaknya memerlukan tambahan Rp512.000 sampai Rp4.212.500. Nominal tersebut didapat dari pengurangan perkiraan biaya tambahan di atas, dengan uang saku dari pemerintah.

Kebutuhan dana tambahan ini menyesuaikan kemampuan finansial setiap jemaah. Jemaah juga disarankan tidak membawa uang banyak saat menjalankan ibadah haji karena faktor keamanan. Kalau pun tidak ada dana lebih sebagai tambahan uang saku, hal tersebut tidak masalah karena semua kebutuhan pokok sudah ditanggung.

2. Berapa uang saku untuk umrah?

Uang saku untuk umrah bisa menggunakan panduan perkiraan biaya tambahan yang telah dihitung sebelumnya. Jemaah umrah dapat menyiapkan uang saku setidaknya Rp3,7 juta hingga Rp7,4 juta.

Uang saku umroh 9 hari ataupun sampai 12 hari mengikuti kemampuan dari masing-masing jemaah. Bawa uang saku secukupnya selama menjalankan ibadah.

Cara Menyimpan Uang Saat Umroh dan Haji

Penggunaan uang saat menjalankan ibadah haji atau umrah sebaiknya diperhatikan dengan baik, termasuk cara penyimpanannya. Ada beberapa tips bagi jemaah:

1. Gunakan uang tunai

Uang tunai dipakai untuk kebutuhan transaksi yang lebih mudah. Penggunaan kartu kredit juga bisa dilakukan, tapi sebaiknya untuk transaksi tertentu saja.

2. Tidak membawa uang tunai dalam jumlah besar sekaligus

Membawa uang tunai jumlah banyak berisiko tinggi pada keamanannya. Jika jemaah mengalami pencurian atau lainnya, nominal uang yang hilang tidak sedikit. Gunakan kartu debit atau kartu debit jika memerlukan uang tunai dengan mengambilnya di ATM setempat.

3. Simpan uang di tempat aman dan dipencar

Simpan uang saku haji atau umrah pada tempat aman seperti dompet antimaling atau tas khusus. Penyimpanannya pun sebaiknya dipencar agar jika mengalami pencurian atau sejenisnya, masih punya cadangan uang di tempat lainnya.

Baca juga artikel terkait HAJI atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Addi M Idhom
Penyelaras: Ilham Choirul Anwar