tirto.id - Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyebut bobot saham Indonesia berpotensi mengalami penurunan dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Menurutnya, risiko tersebut muncul setelah penghapusan sejumlah saham dengan status kepemilikan terkonsentrasi tinggi (high shareholding concentration/HSC) dari sejumlah indeks acuan domestik.
“Terhadap sembilan saham, saham-saham yang masuk di dalam high shareholding concentration, itu sudah kami keluarkan dari prime index kami, IDX80, LQ45, dan IDX30 MSCI,” tuturnya dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin (12/5/2026).
Jeffrey menjelaskan, apabila setelah penghapusan tersebut tidak ada saham baru yang masuk sebagai pengganti, maka bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI berpotensi menurun.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut merupakan konsekuensi jangka pendek dari proses reformasi pasar modal yang sedang berjalan.
“Jadi kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, kita dalam jangka pendek akan melihat mungkin saja weighting Indonesia turun,” ucapnya.
“Tetapi Itu tadi adalah short term pain untuk long term gain kita. Kami mengibaratkan apa yang kita lakukan saat ini adalah pil pahit jangka pendek yang kita telan yntuk kesehatan jangka panjang kita, untuk long term,” sambung Jeffrey.
Ia tetap optimistis bobot saham Indonesia di MSCI akan kembali menguat seiring berjalannya reformasi pasar modal yang tengah didorong pemerintah.
“Proses ini belum selesai, seluruh proses transformasi ini belum selesai. Ini tidak akan pernah selesai, ini akan menjadi proses yang berjalan terus,” sebutnya.
“Kami masih butuh waktu untuk membuktikan konsistensi kami dalam melaksanakan komitmen ini dan itu yang akan terus kami lakukan,” lanjut Jeffrey.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































