Menuju konten utama

BCA Gelar Pelatihan Matematika ala Gasing di Aceh Tamiang

BCA berharap pembelajaran metode Gasing dapat dipelajari murid selain se-Aceh Tamiang.

BCA Gelar Pelatihan Matematika ala Gasing di Aceh Tamiang
Pencetus metode Gasing, Yohanes Surya, saat mengikuti metode metode pembalajaean Gasing di SMPN 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Senin (13/4/2027). tirto.id/Muhammad Naufal
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA menggelar pelatihan matematika dengan metode gampang, asyik, dan menyenangkan (Gasing) di SMPN 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, mulai 2-13 April 2026. Kegiatan itu diikuti 50 siswa serta 10 guru dari empat SD di Aceh Tamiang.

Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, berujar pihaknya menggaet pencetus metode Gasing, Yohanes Surya, saat menggelar pelatihan matematika di SMPN 1 Kuala Simpang tersebut. BCA bersama Yohanes memilih Kuala Simpang mengingat bencana berupa banjir hingga tanah longsor yang melanda Sumatra pada akhir 2025.

"Kita harus sama-sama menolong saudara-saudara kita di Tamiang untuk mencoba bangkit, meskipun mungkin tidak mudah," ucapnya di SMPN 1 Kuala Simpang, Senin (13/4/2026).

Menurut Hera, bencana yang melanda Sumatra menimbulkan murid-murid kehilangan momen untuk belajar. Imbas hilangnya momen belajar itu bisa jadi baru terkuak 5-10 tahun mendatang.

Kata dia, untuk mencegah hal tersebut, BCA menggaet Yohanes agar pembelajaran matematika dapat lebih mudah diterima murid-murid di Aceh Tamiang. Hera berharap, pembelajaran metode Gasing dapat dipelajari murid selain se-Aceh Tamiang.

Menurut dia, pembelajaran metode Gasing dapat disampaikan melalui 10 guru yang turut mengikuti kegiatan BCA. Dengan demikian, literasi guru maupun murid di Aceh Tamiang dapat berkembang pesat.

"Paling tidak dimulai dari titik Aceh Tamiang ini bisa memiliki anak-anak yang cerdas matematika, cerdas numerik, menjadi sebuah diferensiasi dengan titik lain sehingga mudah-mudahan memotivasi yang lain juga untuk turut serta melibatkan anak-anaknya dalam metodologi berhitung cepat," urai Hera.

Di lokasi yang sama, Yohanes menyatakan, para murid tidak cuma memelajari soal berhitung cepat melalui metode pembelajaran Gasing, melainkan turut memelajari soal berpikir kritis hingga berkomunikasi.

Metode pembelajaran Gasing disebut hanya menjadi alat agar para murid dapat berpikir kritis hingga berkomunikasi. Salah satu cara metode gasing, yakni sang guru mengangkat dua jari dan sang murid harus menjumlahkan jari yang diangkat menjadi lima.

Dengan demikian, sang murid mengangkat tiga jari. Contoh lain, sang guru mengangkat 4 jari. Agar menjadi 10, sang murid harus mengangkat enam jari.

"Nah, ini kan ngelatih critical thinking, tapi dengan cara matematik. Matematik ini tool doang gitu. Jadi, tool-nya bisa science, bisa apa. Sebenarnya yang kita kembangkan adalah kepribadian si anak, karakternya berubah. Makanya kan lihat saja percaya dirinya muncul. Nah, itu percaya diri, semangat," tuturnya.

Yohanes mengatakan, ia juga menyematkan local wisdom melalui metode gasing. Beberapa penerapannya, yakni menggunakan lagu daerah serta permainan daerah.

Ia menilai, penggunaan lagu daerah maupun permainan daerah membuat anak-anak merasa dekat dengan materi pembelajaran sehingga proses belajar menjadi lebih efektif. Yohanes turut berharap metode Gasing dapat disebarluaskan di Aceh Tamiang.

"Hanya metode ini yang bisa mengkompres empat tahun jadi dua minggu. Kan orang belajar berhitung itu butuh empat tahun tuh, nah, ini cuma 2 minggu gitu. Jadi, makanya kenapa enggak dimanfaatkan," urai Yohanes.

Tanggapan peserta metode belajar Gasing

Siti Balqis (11), murid kelas 5 SD Negeri Kota Lintang, mengaku merasa senang dengan adanya metode pembelajaran Gasing. Ia menilai, guru yang membawakan materi pembelajaran Gasing tidak galak seperti guru lain.

Pelatihan Matematika Ala Gasing

Pencetus metode Gasing, Yohanes Surya, saat mengikuti metode metode pembalajaean Gasing di SMPN 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Senin (13/4/2027). tirto.id/Muhammad Naufal

Karena memasa senang dengan metode itu, Balqis sampai mengaku enggan meninggalkan guru yang membawakan materi pembelajaran Gasing.

"Awalnya menyenangkan, gurunya baik-baik, cantik-cantik," tuturnya di lokasi yang sama.

"Kalau gurunya pergi malah enggak mau, maunya di sini saja, kangen [dengan guru tersebut]," sambung dia.

Sementara itu, Putri Thalitha Salsabila (11) selaku murid SD Negeri 2 Kuala Simpang juga mengaku senang mengikuti metode pembelajaran Gasing. Ia merasa dapat memahami mata pelajaran matematika dengan lebih mudah melalui metode tersebut.

Terlebih, Putri menyatakan, metode pembelajaran Gasing juga menggunakan nyanyian yang lebih mudah untuk diingat.

"Kalau kami tuh pertama-tamanya tuh kayak deg-degan. Eh tiba-tiba dipilih [jadi peserta Gasing], ya sudah jadinya saya bisa. Gurunya juga misalnya katanya kita enggak pandai, diajarin, diajarin, terus. Gurunya cantik, enggak galak," urai Putri.

"Belajarnya sambil ketawa-ketawa, sambil tepuk-tepuk [tangan]," lanjut dia.

Sebagai informasi, selain melalui pelatihan berhitung ala Gasing, Bakti BCA melalui pilar Bakti Pendidikan juga memiliki sejumlah program dan aktivitas lain.

Beberapa kontribusi Bakti BCA di bidang pendidikan, yakni:

1. Menyalurkan Beasiswa Bakti BCA untuk 8.500 pelajar hingga tahun 2025.

2. Menjalankan Program Pendidikan Bisnis & Perbankan (PPBP) serta Program Pendidikan Teknologi Informasi (PPTI).

3. Memberi kesempatan magang para lulusan SMA/SMK/Sarjana melalui Magang Bakti BCA, yang pada 2025 diikuti lebih dari 5.200 peserta.

4. Menggelar BCA Berbagi Ilmu yang telah diikuti lebih dari 16.000 peserta hingga akhir 2025.

5. Membina total 32 Sekolah Bakti BCA di Bengkulu, Kalimantan Timur, NTT, Papua Barat Daya, Lampung, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur hingga akhir 2025.

6. Menggelar program pemberdayaan disabilitas yang salah satunya diikuti 15 sahabat disabilitas (teman tuli) hingga meraih sertifikat profesional.

7. Menggelar edukasi literasi keuangan di berbagai kesempatan yang total diikuti lebih dari 169.000 orang hingga akhir 2025.

Khusus di wilayah Aceh Tamiang, Bakti BCA sebelumnya menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan pascabencana terjadi di lokasi ini. Penyaluran bantuan juga disalurkan di sejumlah wilayah di Sumatra, yaitu Solok, Tapanuli Selatan, serta Medan dan Langkat.

Dukungan yang diberikan berupa beras, botol air mineral, makanan, selimut, tenda, hingga pakaian anak-anak dan dewasa.

Selain itu, Bakti BCA juga membantu pembangunan sumur bor, tangki air berkapasitas 5.000 liter, serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) untuk masyarakat terdampak.

Baca juga artikel terkait BCA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama