Menuju konten utama

Bali Utara Menyala Lewat Energi Sungai dan Matahari

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Muara Panji merupakan pembangkit bertenaga air yang pertama dan satu-satunya di Pulau Dewata.

Bali Utara Menyala Lewat Energi Sungai dan Matahari
Turbin dan generator yang digunakan oleh PLTMH Muara Panji untuk menghasilkan listrik bagi warga setempat, Kamis (22/05/2025). tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sekiranya 10 tahun yang lalu, rumah-rumah di sisi utara Bali—yang merupakan wilayah dataran tinggi—masih belum tersambung listrik. Mereka harus bergerak membuat sambungan listrik secara mandiri dari rumah ke rumah dengan menggunakan kabel seadanya. Kabel-kabel tersebut akan membentang hingga ratusan meter jauhnya, tetapi juga turut membawa ancaman berupa tidak stabilnya tegangan dan rentannya muncul percikan api penyebab kebakaran.

Selain penyambungan dengan menggunakan kabel, beberapa daerah di Buleleng memanfaatkan potensi air yang mengalir di wilayah tersebut. Mereka merakit sendiri pipa kecil yang dihubungkan ke kincir air, lalu benda tersebut kelak memutar dinamo untuk menghasilkan listrik. Hanya dengan cara itu warga setempat dapat menyalakan lampu sebagai penerang malam.

Putu Mudika adalah salah satunya. Dia adalah seorang warga Desa Sambangan di Kabupaten Buleleng yang berprofesi sebagai penjaga di Pancoran Kedu, sebuah tempat pemandian air di Desa Wisata Panji.

Mudika bercerita, dahulu pelosok Desa Sambangan masih belum dialiri listrik, sehingga warganya bergotong-royong membuat kincir untuk listrik dengan daya rendah. Dalam proses gotong-royong tersebut, warga membuat kelompok kincir yang terdiri hingga 20 KK.

“Pakai kincir lebih mahal dan rumit. Harus dibuka dan tutup (katup kincir air) untuk penggunaannya. Kalau butuhnya pagi, sorenya sudah dibuka kincirnya,” terang Mudika ketika ditemui Tirto di lokasi, Kamis (22/05/2025).

Buleleng Mampu Atasi Kelangkaan Energi

Aliran Sungai Tiyingtali yang bergerak menuju ke bak penampungan PLTMH Muara Panji. Air tersebut yang akan digunakan untuk memutar turbin, Kamis (22/05/2025). tirto.id/Sandra Gisela

Katup-katup pada kincir air tersebut digunakan sebagai mekanisme kontrol aliran air yang memasuki kincir. Dengan membuka atau menutup katup tersebut, aliran air yang masuk ke kincir dapat diatur dan kecepatan putarannya dapat disesuaikan. Pemeliharaannya pun membutuhkan waktu yang cukup lama, terutama apabila terdapat partikel-partikel besar yang dapat menyumbat pipa menuju dinamo.

Barang-barang elektronik menjadi barang yang langka pada masa itu. Warga yang belum menerima aliran listrik sudah pasti hampir tidak pernah menyentuh barang elektronik, seperti setrika atau mesin cuci otomatis. Namun, karena listrik sudah mengalir dari rumah ke rumah, mereka lebih mengenal bentuk-bentuk dari peralatan elektronik.

Mulai Oktober 2016, nasib desa-desa di Kabupaten Buleleng berubah, terutama Kecamatan Sukasada yang terletak di dataran tinggi. Tahun tersebut merupakan titik mula dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Muara Panji yang merupakan pembangkit bertenaga air yang pertama dan satu-satunya di Pulau Dewata.

Air yang digunakan untuk memutar generator pembangkit berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Tiyingtali yang mengalir di antara dua desa, yakni Desa Sambangan dan Desa Panji. Aliran sungai tersebut lantas sebagian ditampung di waduk berkapasitas 850 meter kubik milik PLTMH Muara Panji, sementara 20 persen dialirkan langsung ke subak warga setempat.

Dari waduk yang terletak di ketinggian elevasi 765 meter, terpasang pipa penyambung sepanjang 526 meter menuju generator PLTMH. Terdapat dua generator yang berkapasitas maksimal 2.300 kW untuk memutar aliran air menjadi listrik. Selanjutnya, listrik yang dihasilkan akan diterima oleh travo untuk disambungkan ke PLN.

“Di sini ada sand trap kita, masuk ke reservoir kita, dilanjut ke pipa penstock kita yang panjangnya kurang lebih sekitar 520 meter. Itu langsung masuk ke turbin kita dengan daya dorongan gravitasinya itu, memutar generator yang menghasilkan listrik,” ucap Site Manager PT Panji Muara Raya, Salim Warisman, kepada Tirto yang sedang berkunjung ke lokasi bersama dengan rombongan Institute for Essential Service Reform (IESR), Kamis (22/05/2025).

Di lokasi generator, terdapat teknisi yang mengenakan seragam proyek berwarna hijau atau biru dengan helm kuning. Mereka bertugas di sana untuk memantau tekanan air pada generator, sebab PLTMH Muara Panji sangat tergantung dengan debit air di sungai. Selain itu, para teknisi juga berjaga di sana jikalau ada permasalahan teknis di antara mesin-mesin yang ada.

Buleleng Mampu Atasi Kelangkaan Energi

Salah satu pekerja di PLTMH Muara Panji berdiri di samping generator yang digunakan untuk menghasilkan listrik bagi warga setempat, Kamis (22/05/2025). tirto.id/Sandra Gisela

Sementara itu, jauh di ketinggian, terlihat aliran Sungai Tiyingtali mengalir melewati tiga lapisan sand trap untuk menghasilkan air yang bersih dan tidak memiliki bebatuan atau sampah. Dari hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh PLTMH Muara Panji, air yang berada di bak penampungan sudah seminimal mungkin mengandung material endapan.

“Bersih-bersih (sand trap) tergantung kondisi. Kalau musim hujan, air cenderung lumayan deras dan berwarna cokelat juga. Itu sekali sebulan kita ke sini. Biasanya per tiga bulan itu kita agendakan. Keruh enggak apa-apa, tapi jangan sampai sampah. Rusak (turbinnya) kalau ada sampah, menutup dia,” terang Salim.

Dari bak penampungan, air ditampung selama beberapa waktu sebelum dilepas menuju pipa penstock yang masuk ke turbin untuk diproduksi menjadi aliran listrik. Saat Tirto berada di lokasi, debit air yang mengaliri PLTMH berkisar pada angka 1,30 meter kubik per detik. Air tersebut ‘dipinjam’ sementara untuk menggerakkan turbin.

“Kita tidak menghabiskan air di sini. Hanya meminjam beberapa saat untuk mengubah tenaga air itu menjadi tenaga listrik, sehingga kita bisa menikmati listrik ini bersama-sama,” jelasnya.

Menjadikan Daerah Sungai Sebagai Potensi Energi

2016 merupakan awal dari dibangunnya PLTMH Muara Panji di Kecamatan Sukasada, Buleleng, oleh pihak pengelola bersama dengan PLN. Proses yang dilalui memakan waktu sekiranya lebih dari satu tahun; cukup lama dan panjang karena memerlukan proses legal yang rumit dan medan yang terjal.

“Jadi dulu di sini tidak ada jalan. Hanya setapak dan itu digunakan untuk turis-turis yang hiking ke atas, serta subak. Setelah membangun ini, yang paling utama kita bangun adalah jalan agar motor bisa naik. Setelah itu, kita melakukan pengerasan tanah. Yang lama itu pemecahan batu, ternyata di sini memang daerahnya bebatuan sekali. Berat untuk kita membangun di sini,” ungkap Ervina Fitriani, Manager di PLTMH Muara Panji, di lokasi.

Tantangan terberat selanjutnya adalah ketika pihak PLTMH Muara Panji hendak melakukan loading (pengangkutan) turbin, generator, pipa-pipa penstock, dan material pembangunan. Ervina menjelaskan, saat itu hanya Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) yang sanggup mengangkut dengan menggunakan truk yang dimodifikasi.

“Mereka yang membantu kita untuk mengangkut seluruh alat-alat yang kita gunakan sekarang. Mereka lihat dulu, bagaimana caranya, berapa ukurannya, karena turbin dan generator itu tidak boleh miring. Pokoknya harus stabil,” tambahnya.

Masyarakat Desa Panji dan Desa Sambangan mulanya skeptis dengan adanya proyek PLTMH tersebut. Namun, pihak Muara Panji segera melakukan pendekatan dengan mediasi dan sosialisasi kepada masyarakat setempat. Alhasil, situasi berubah dan mereka mendapatkan banyak dukungan, terutama dari adat. Saat ini, sebanyak 98 persen karyawan dan tenaga harian PLTMH berasal dari warga setempat.

Buleleng Mampu Atasi Kelangkaan Energi

Ervina Fitriani, Manager PLTMH Muara Panji, bersama dengan Salim Warisman, Site Manager PT Panji Muara Raya ketika diwawancarai di lokasi, Desa Panji, Kamis (22/05/2025). tirto.id/Sandra Gisela

Operasi PLTMH berjalan dengan baik, tetapi sempat mengalami anomali pada 2020. Kemarau yang sangat panjang melanda Bali Utara, padahal hujan sempat singgah di Denpasar. Air berdebit besar yang semula mengalir melalui Sungai Tiyingtali menguap, sehingga tidak cukup untuk memutar turbin. Dari segi operasional, PLTMH memutuskan untuk menggunakan hanya satu turbin selama periode kemarau panjang.

“Terendah selama kita beroperasi, sedangkan kapasitas generator kita sekitar 400 kW. Di bawah itu, kita enggak sanggup. Kasihan (generatornya). Makanya dibatasilah sampai 400 kW,” keluh Salim, menimpali.

Setelah periode kemarau panjang berlalu, masyarakat Desa Sambangan dan Desa Panji dapat menikmati listrik PLTMH secara optimal kembali. Saat black out yang terjadi pada 2 Mei 2025, masyarakat di sekitar PLTMH tidak mengalami dampak besar. Menurut Putu Mudika, warga desa setempat, black out hanya terjadi paling lama 2 jam.

“Kita selalu berkoordinasi dengan PLN, bagaimana caranya supaya listrik ini segera nyala di Bali. Pada saat black out, kita sangat membantu untuk pembangkit-pembangkit lainnya,” ucap Ervina.

Di sisi lain, I Nyoman Sumerta, bagian dari Divisi Hubungan Masyarakat PLTMH sekaligus warga Desa Sambangan, menjelaskan pemikiran pertama pembangunan PLTMH datang setelah melihat aliran Sungai Tiyingtali yang berpotensi dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Dahulu, daerah potensial tersebut bahkan belum mendapatkan aliran listrik sama sekali.

“Begitu ini dicoba dibangun, tanah-tanahnya dibebaskan. Ini membeli tanah dari orang, tanah milik warga yang ada di daerah hutan dan itu bersertifikat. Setelah itu, PLTMH urus perizinan segala macam, sehingga ini jadi terwujud dan benar listrik nyambung,” jelasnya.

Perkembangan Tenaga Air di Masa Mendatang

Ervina mengatakan, prioritas PLTMH Muara Panji di masa mendatang adalah pada pembangkit yang telah ada. Tujuannya agar air yang mengalir ke dalam pembangkit bisa dioptimalkan sebanyak mungkin, sesuai dengan kapasitas yang ada dan dapat membantu warga-warga Kabupaten Buleleng, khususnya Desa Sambangan dan Desa Panji.

“Banyak dampaknya kalau semakin banyak listrik yang kita hasilkan. Akan semakin luas manfaatnya,” kata Ervina.

Dia menambahkan, terdapat peluang untuk penambahan turbin di PLTMH Muara Panji, tetapi harus menyesuaikan debit air yang mengalir dari Sungai Tiyingtali dan perizinan-perizinan dari PLN bersama pemerintah daerah setempat. Setiap perubahan yang ada berpengaruh terhadap perjanjian yang telah dirancang, sehingga dibutuhkan pembicaraan lebih lanjut.

“Kita harus duduk lagi, bagaimana caranya membicarakan kalau seandainya ada perubahan. Jadi, kita tidak bisa serta-merta mengubah yang sudah berjalan. Kalau perusahaan lain mungkin menggunakan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), tapi khusus pembangkit menggunakan IUPTLT (Izin Usaha Ketenagalistrikan Tetap),” lanjutnya.

Buleleng Mampu Atasi Kelangkaan Energi

Turbin dan generator yang digunakan oleh PLTMH Muara Panji untuk menghasilkan listrik bagi warga setempat, Kamis (22/05/2025). tirto.id/Sandra Gisela

Selayaknya PLTMH Muara Panji, Koordinator Riset Kelompok Data dan Permodelan IESR, Pintoko Aji, mengatakan Bali memiliki 31 lokasi lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan secara teknis. Studi tersebut tertuang di dalam Unlocking Indonesia’s Renewables Future yang dilakukan oleh IESR.

“Setidaknya terdapat total 82,54 MW yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan bauran energi terbarukan di sistem ketenagalistrikan Bali,” ucap Pintoko.

Daerah lainnya yang memiliki aliran debit potensial untuk pengembangan PLTMH terletak di timur Bali, yakni daerah Kabupaten Bangli. Daerah tersebut dialiri oleh Sungai Ayung yang mencakup luas 109,30 kilometer persegi, serta memiliki tiga anak sungai besar: Tukad Bangkung yang berhulu di Pelaga, Tukad Menggani yang berhulu di Catur, dan Tukad Siap yang berhulu di daerah Kintamani.

Di Kabupaten Buleleng sendiri, terdapat potensi pemanfaatan di daerah Busungbiu yang memiliki bendungan terbesar di Bali, yaitu Bendungan Titab Ularan. Berjarak 30 kilometer dari Singaraja, bendungan tersebut terletak di perbatasan Desa Titab di Kecamatan Busungbiu dan Desa Ularan di Kecamatan Seririt untuk membendung aliran air dari Tukad Saba.

Nikmati Air Bersih dari Sumur Bor

Tidak hanya listrik yang menjadi kendala utama di sisi utara Pulau Bali, tetapi juga air bersih. Krisis air bersih awalnya menimpa Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, yang tidak memiliki sumber mata air, sehingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) harus memutar otak untuk menyediakan air bersih. Alhasil, mereka menggunakan sumur bor untuk mengaliri sebanyak 700 sambungan rumah atau sekiranya 2.069 pelanggan di wilayah Celagi Bantas, Celagi Batur, dan Kelod Kangin.

Sebelum adanya sumur bor, masyarakat Desa Bondalem harus menempuh jarak 5 kilometer untuk mengambil air permukaan di pegunungan. 2018, barulah mereka dapat menikmati air bersih dengan sumur bor. Uniknya lagi, 30 persen aliran listrik dari sumur bor tersebut dipasok oleh PLTS atap yang dipasang beberapa meter di atas sumur bor tersebut. Total terdapat 77 panel surya yang digunakan sebagai penyusun PLTS atap.

“Dari sumur bor, dibawa ke atas. Di sana ada bak reservoir penampungan. Dari sana baru didistribusikan ke pelanggan-pelanggan. Dulu sebelum ada sumur bor, kami cari sumber air di daerah Desa Tejakula, ambilnya dari air permukaan. Kemudian karena kualitas airnya kurang bagus, kami berinisiatif mencari sumber mata air melalui sumur bor,” terang Perbekel (Kepala Desa) Desa Bondalem, I Gede Arya Odantara, ketika Tirto mengunjungi Desa Bondalem, Kamis (22/05/2025).

Buleleng Mampu Atasi Kelangkaan Energi

Perbekel Desa Bondalem, I Gede Arya Odantara ketika menjelaskan tentang sumur bor dan PLTS di Desa Bondalem, Kamis (22/05/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

Sumur bor tersebut lantas menjadi sumber pendapatan desa karena dikelola oleh Unit Penyedia Sarana (UPS) Air Minum yang berada di bawah BUMDes. Odantara menilai, penggunaan PLTS untuk sumur bor cukup efektif untuk efisiensi. Untuk operasional daya pompa sebesar 11 kW dan lama waktu menyala selama 18 jam tersebut, dibutuhkan Rp12 juta per bulan. Dengan adanya efisiensi dari PLTS, angkat tersebut turun menjadi Rp8 juta per bulan.

“Dana efisiensi itu digunakan untuk pemeliharaan pipa distribusi dan pipa transmisi kalau ada kerusakan-kerusakan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur BUMDes Bondalem Sejahtera, Putu Partamayasa menjelaskan PLTS yang terhubung dengan sumur bor memiliki sistem on grid yang tidak menggunakan baterai. Namun, untuk pengembangan ke depannya, Putu berharap tersedia anggaran untuk dapat beralih ke mode baterai. Tujuannya agar warga masih dapat memenuhi kebutuhan air bersih dengan cadangan listrik yang ada.

“Karena ini hubungannya air yang kita produksi menggunakan listrik dan biayanya cukup besar, kalau dari PLTS ini saja mampu, harapan kami itu didukung. Bisa diperluas mungkin atau ditambahkan baterai tadi itu,” tutur Putu.

Buleleng Mampu Atasi Kelangkaan Energi

Direktur BUMDes Bondalem Sejahtera, Putu Partamayasa, sedang menjelaskan mengenai sumur bor dan PLTS di Desa Bondalem, Kamis (22/05/2025). tirto.id/Sandra Gisela

Seorang warga Desa Bondalem bernama Ngurah Susastra merasakan manfaat dari adanya sumur bor dan PLTS atap. Sebelum adanya sumur bor, Ngurah harus mengambil air gravitasi dari Desa Tejakula. Saat ini, Ngurah berlangganan air menggunakan sumur bor dengan membayar rata-rata Rp67 ribu per bulan atau paling banyak mencapai Rp150 ribu, tergantung pemakaian.

“Jelas agak lebih murah. Di samping itu, kendalanya cuma satu. Ini gabung (semua desa) untuk sumur bornya, semua ini. Untuk aliran di desa semua. Waktu listrik mati, kita harus punya penampungan. Kalau enggak ada penampungan, mati airnya,” ungkapnya.

Marlistya Citraningrum, Manager Program Akses Energi Berkelanjutan IESR, mengungkap bahwa PLTS yang ada di Desa Bondalem memiliki jam operasional efektif selama 6 jam mulai dari pukul 09.00 sampai dengan 15.00 WITA dengan hasil energi listrik sebesar 23 kVA. Dengan penurunan biaya listrik dari Rp12 juta hingga Rp8 juta per bulan, sumur bor dan PLTS dinilai menjadi contoh praktik untuk mendongkrak ketahanan akses air bersih secara berkelanjutan.

“Sistem yang bekerja optimal selama 6 jam setiap hari ini menunjukkan bahwa energi surya sangat cocok untuk kebutuhan desa, apalagi dengan biaya pemeliharaan yang rendah. Ini adalah praktik baik yang bisa direplikasi ke desa-desa lain, sekaligus memperkuat komitmen konsisten pemerintah daerah untuk mendukung target Bali Net Zero Emission 2045,” tutupnya.

Baca juga artikel terkait ENERGI BARU TERBARUKAN atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - News Plus
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Anggun P Situmorang