Menuju konten utama

Bagaimana Orang Tua Menangani Anak saat Kondisi Gawat Darurat?

IDAI mendorong agar keterampilan bantuan hidup dasar tidak hanya dimiliki tenaga kesehatan, tetapi juga orang tua, pengasuh, dan masyarakat luas.

Bagaimana Orang Tua Menangani Anak saat Kondisi Gawat Darurat?
Perawat memberikan bantuan pernafasan pada pasien bayi saat simulasi penanganan gawat darurat di Rumah Sakit Siloam, jalan Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/7). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - ‎Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan keterampilan paling penting dalam menangani kondisi gawat darurat pada anak. Dalam situasi seperti tersedak atau henti napas, penanganan dalam beberapa menit pertama menjadi penentu utama keselamatan, bahkan dapat mencegah kerusakan otak akibat kekurangan oksigen.

‎Dalam pemaparannya, Dr Tuti Rahayu, SpA, Subsp ETIA(K) bersama Dr Yogi Prawira, SpA, subsp ETIA(K), mewakili IDAI mempraktikkan penanganan kegawatdaruratan pada anak. Keduanya menjelaskan bahwa penanganan pada anak berbeda dengan orang dewasa. Pada anak, pendekatan yang digunakan masih mengacu pada prinsip A-B-C (airway, breathing, circulation), yakni memastikan jalan napas terlebih dahulu, kemudian pernapasan, dan terakhir sirkulasi.

‎Penanganan Anak Tersedak

‎‎Kasus tersedak menjadi salah satu kondisi darurat yang paling sering terjadi, terutama pada bayi dan anak kecil yang belum mampu mengontrol saluran napas dan saluran cerna dengan baik.

‎‎Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menilai kondisi anak. Jika anak masih bisa menangis keras atau batuk dengan kuat, itu menandakan jalan napas masih terbuka. Dalam kondisi ini, anak cukup diposisikan dengan nyaman dan terus dipantau tanpa intervensi berlebihan.

‎Namun, jika anak menunjukkan tanda-tanda sumbatan serius seperti tidak bisa bersuara, batuk lemah, kesulitan bernapas, atau bibir mulai membiru, maka tindakan harus segera dilakukan.

‎Penanganan awal dilakukan dengan teknik kombinasi back blow dan chest thrust. Berikut tahapan yang dilakukan:

‎1. Posisikan anak dengan kepala lebih rendah dari tubuh

‎Posisi ini penting untuk memanfaatkan gravitasi agar benda asing lebih mudah keluar dari saluran napas.

‎‎2. Lakukan back blow sebanyak 5 kali

‎Hentakan diberikan di punggung, tepat di antara kedua tulang belikat, menggunakan bagian bawah telapak tangan. Tekanan dilakukan dari jarak dekat namun cukup kuat untuk menciptakan efek kejut yang mendorong benda keluar. Tanda tekanan efektif adalah terdengar hembusan udara dari mulut, bukan suara kesakitan.

‎‎3. Periksa kondisi anak

‎Setelah 5 kali hentakan, periksa apakah benda sudah keluar, apakah anak kembali bernapas, atau masih dalam kondisi tersedak.

‎‎4. Lanjutkan dengan chest thrust sebanyak 5 kali

‎Jika sumbatan belum keluar, berikan tekanan pada dada (bagian tengah dada, di garis puting) menggunakan dua jari atau ibu jari, tergantung teknik yang digunakan. Tekanan ini bertujuan meningkatkan tekanan di rongga dada untuk mendorong benda keluar.

‎5. Ulangi siklus

‎Back blow dan chest thrust dilakukan bergantian (5 kali–5 kali) hingga benda asing keluar atau kondisi anak berubah. ‎Keberhasilan biasanya ditandai dengan anak mulai batuk, menarik napas panjang, atau menangis, yang berarti jalan napas sudah kembali terbuka.

‎Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada Anak

‎Apabila anak menjadi tidak sadar, penanganan harus segera dilanjutkan ke resusitasi jantung paru (RJP) sebagai bagian dari bantuan hidup dasar. ‎Langkah-langkahnya sebagai berikut:

‎1. Periksa tanda kehidupan

‎Lihat apakah ada pergerakan, napas, atau dada yang naik turun. Pemeriksaan nadi tidak disarankan bagi awam karena sulit dan memakan waktu.

‎2. Lakukan kompresi dada

‎Tekan dada sebanyak 15 kali di bagian tengah dada (garis puting). Tekanan harus cukup dalam dan ritmis untuk membantu sirkulasi darah.

‎3. Berikan bantuan napas

‎Gunakan masker satu arah (jika tersedia) atau metode mulut ke mulut.

‎Tahap awal: 5 kali bantuan napas

‎Tahap selanjutnya: 2 kali setiap siklus

‎‎4. Ulangi siklus

‎Kombinasi kompresi dada dan bantuan napas dilakukan berulang sambil terus mengevaluasi kondisi anak.

‎Hal Penting yang Perlu Diperhatikan

‎IDAI menegaskan bahwa seluruh tindakan ini merupakan upaya penyelamatan nyawa, sehingga penolong tidak perlu ragu untuk bertindak. Risiko terbesar justru terjadi jika anak tidak segera ditangani, karena kekurangan oksigen selama sekitar 3 menit saja dapat menyebabkan kerusakan otak permanen.

‎Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah penanganan:

‎1. Jangan langsung memberi makan atau minum, terutama pada bayi, karena risiko tersedak ulang masih tinggi.

‎2. Jika kondisi sudah membaik (napas teratur, anak tenang, warna bibir kembali normal), tetap dianjurkan untuk memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan.

‎3. Dalam semua kondisi darurat, segera cari bantuan medis lanjutan.

‎‎Melalui edukasi ini, IDAI mendorong agar keterampilan bantuan hidup dasar tidak hanya dimiliki tenaga kesehatan, tetapi juga orang tua, pengasuh, dan masyarakat luas. Dengan pengetahuan yang tepat dan tindakan cepat, peluang menyelamatkan nyawa anak dalam kondisi darurat dapat meningkat secara signifikan.

==============

DINI PUSPITA RAMADHANI berkontribusi dalam tulisan ini.

Baca juga artikel terkait IDAI atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto
Editor: Bayu Septianto