Menuju konten utama

IDAI Ingatkan Risiko Fatal Ajak Batita atau Balita Naik Gunung

IDAI tidak merekomendasikan orang tua membawa anak, khususnya batita dan balita, ke aktivitas ekstrem seperti pendakian gunung.

IDAI Ingatkan Risiko Fatal Ajak Batita atau Balita Naik Gunung
Ilustrasi Bayi. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Kasus seorang anak akibat hipotermia usai diajak mendaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, memicu sorotan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). IDAI mengingatkan bahwa aktivitas ekstrem seperti pendakian gunung menyimpan risiko fatal bagi bayi maupun balita yang secara fisik jauh lebih rentan terhadap cuaca dingin dan kondisi alam yang tidak menentu.

‎Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan anak memiliki kondisi fisik yang berbeda dengan orang dewasa, sehingga lebih rentan terhadap perubahan suhu dan lingkungan ekstrem.

‎‎“Anak itu sangat mudah kehilangan panas dibanding dewasa. Apalagi kalau naik gunung jaraknya jauh, ada potensi hujan, dan evakuasinya lama." ujar dr Piprim saat ditemui di Hotel Shangri-La, Jakarta pada Senin (13/4/2026).

‎Menurut IDAI, kondisi tersebut dapat dengan cepat memicu hipotermia, yakni penurunan suhu tubuh yang berbahaya dan dapat berujung fatal jika tidak segera ditangani.

‎Beberapa dokter anak dari IDAI serentak tidak merekomendasikan orang tua membawa anak, khususnya batita dan balita, ke aktivitas ekstrem seperti pendakian gunung. Sebagai alternatif, pengenalan alam sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dalam kondisi yang lebih aman.

‎“Kalau mau mengenalkan alam, sebaiknya mulai dari aktivitas ringan, seperti hiking yang mudah diakses untuk evakuasi." jelas Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Yogi Prawira.

‎Selain suhu dingin, anak juga lebih cepat mengalami dehidrasi dan kehilangan energi. Frekuensi napas yang lebih tinggi membuat anak lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh.

‎“Anak itu bukan dewasa kecil. Jangan diasumsikan daya tahannya sama dengan orang tua.” ujar Yogi.

‎Yogi menjelaskan bahwa dalam kondisi darurat seperti hipotermia di alam terbuka, orang tua juga dituntut memiliki pengetahuan dasar pertolongan pertama. Salah satunya adalah metode skin-to-skin untuk membantu menghangatkan tubuh anak sebelum mendapatkan bantuan medis.

‎IDAI menekankan bahwa anak di bawah usia tiga tahun merupakan kelompok paling rentan, sehingga membutuhkan pertimbangan dan persiapan ekstra. Jika kondisi tersebut tidak dapat dipenuhi, orang tua disarankan untuk tidak memaksakan aktivitas berisiko tinggi.

‎Kasus di Semarang ini menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk mengutamakan keselamatan anak dan tidak menyamakan kemampuan fisik anak dengan orang dewasa dalam aktivitas luar ruang.

Sebelumnya, bayi perempuan berusia 1,5 tahun dikabarkan mengalami hipotermia ketika dibawa oleh orang tuanya untuk ikut mendaki Gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (11/4/2026).

Diduga hipotermia terjadi akibat cuaca di kawasan pendakian tiba-tiba berubah menjadi ekstrem.

Dalam video yang diunggah melalui Youtube @basarnasofficial pada Minggu (12/4), tim evakuasi melaporkan bahwa suhu tubuh bayi saat ditemukan dalam keadaan turun drastis dan kritis. Bayi terus menangis dan menunjukkan tanda kedinginan yang parah.

Setelah dievakuasi dan mendapatkan penanganan dari tim SAR, kondisi bayi tersebut kembali normal secara perlahan.

==============

DINI PUSPITA RAMADHANI berkontribusi dalam tulisan ini.

Baca juga artikel terkait HIPOTERMIA atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Penulis: Intern tirto
Editor: Bayu Septianto