Menuju konten utama

IDAI Ungkap Gizi Buruk Picu Fatalitas Kasus Campak

Anak dengan gizi buruk memiliki sistem imun yang lemah, sehingga ketika terinfeksi campak, dampaknya menjadi sangat fatal.

IDAI Ungkap Gizi Buruk Picu Fatalitas Kasus Campak
Ilustrasi Campak. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya serius penyakit campak, terutama bagi anak-anak yang menderita gizi buruk.

Ketua IDAI Jabar, Anggraini Alam mengungkapkan, kombinasi antara malnutrisi dan infeksi campak disebut sebagai faktor utama yang memicu tingginya angka kematian pada kasus campak di berbagai daerah.

Ia menekankan bahwa status gizi memegang peranan vital dalam pertahanan tubuh anak saat melawan virus. Anak dengan gizi buruk memiliki sistem imun yang lemah, sehingga ketika terinfeksi campak, dampaknya menjadi sangat fatal dibandingkan anak dengan gizi baik.

"Gizi buruk tentu saja, bilamana dia gizi buruk, daya tahan tubuhnya kurang, terkena campak bukan main (dampaknya). Inilah yang menyebabkan kematian," ujar Anggraini dalam webinar Media Briefing IDAI, Sabtu (28/2/2026).

Anggraini memaparkan bukti nyata dari beberapa kasus KLB campak yang pernah terjadi di Indonesia. Ia mencontohkan kejadian di Timika, Papua, pada tahun 2017, serta kasus serupa di Mimika, Baduy, dan Sumenep, di mana angka kematian melonjak akibat kondisi gizi anak yang memprihatinkan.

"Kami itu sudah ke Timika. 70 (anak) meninggal di sana karena gizi buruk dan campaknya. Di tahun berikutnya di Mimika, demikian juga. Baduy, ketemu. Kemarin di Sumenep ternyata banyak yang meninggal, banyak kasusnya," ungkap Anggraini.

Meski anak dengan gizi baik cenderung mengalami gejala yang lebih ringan jika tertular campak, terutama jika sudah pernah diimunisasi, Anggraini mengingatkan bahwa risiko komplikasi jangka panjang tetap mengintai.

Ia menyoroti risiko Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), sebuah komplikasi radang otak mematikan yang bisa muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal, terutama jika anak terinfeksi campak di usia di bawah dua tahun.

"Orang Inggris, gizi anaknya baiknya bukan main. Ternyata next 15 tahun ke atas terkena SSPE," jelasnya.

Karena itu, dalam penanganan campak, IDAI juga menyoroti pentingnya pemberian Vitamin A dosis tinggi. Anggraini menjelaskan bahwa virus campak secara agresif menurunkan kadar Vitamin A dalam tubuh anak.

Hal ini seringkali disalahpahami orang tua yang mengira konsumsi sayuran biasa seperti wortel sudah cukup untuk penanganan.

Menurut Anggraini, dosis yang dibutuhkan untuk terapi campak sangat besar, yakni antara 100.000 hingga 200.000 International Unit (IU), jumlah yang tidak bisa didapatkan hanya dari konsumsi wortel.

"Betul sekali virus campak itu memang menurunkan vitamin A. (Tapi) saya jadi ingin tahu berapa wortel itu sama dengan 100 ribu atau 200 ribu IU? Tentu kita tidak minta satu pikap wortel untuk dimakan anaknya," kata dia.

Oleh karena itu, IDAI mengimbau agar pencegahan melalui imunisasi dan perbaikan gizi tetap menjadi prioritas utama untuk mencegah kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.

“Wajib imunisasi. Kalau begitu terus rasanya masyarakat bakal ikut deh, dan bisa menghilangkan mindset bahwa campak itu ringan-ringan saja,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait CAMPAK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fahreza Rizky