Menuju konten utama

IDAI Nilai Tingginya Kasus Campak akibat Vaksinasi Tak Optimal

IDAI mendorong penguatan kembali layanan kesehatan primer serta peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi, seperti campak.

IDAI Nilai Tingginya Kasus Campak akibat Vaksinasi Tak Optimal
Seorang dokter menyiapkan vaksin campak untuk disuntikkan kepada balita di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/3/2026). Pemerintah Kota Bandung menggencarkan layanan vaksinasi campak bagi balita dengan membuka jadwal vaksinasi yang sebelumnya setiap dua minggu sekali kini setiap minggu guna mencegah penyebaran virus rubela yang hingga Februari 2025 tercatat mencapai 252 kasus di Jawa Barat. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/sgd

tirto.id - ‎Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin yang dinilai berdampak pada kembali meningkatnya kasus penyakit menular seperti campak dan polio di Indonesia. Dalam keterangannya, IDAI menyebut kemunculan kembali penyakit campak menjadi indikasi tidak tercapainya cakupan vaksinasi secara optimal.

‎“Kalau penyakit-penyakit ini muncul kembali, artinya cakupan imunisasinya tidak mencapai target.” ujar Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, di Hotel Shangri-La, Jakarta pada Senin (13/4/2026).

‎‎Campak menjadi salah satu penyakit yang menjadi sorotan karena tingkat penularannya yang sangat tinggi. Dengan angka reproduksi (R0) mencapai 12 hingga 18, cakupan imunisasi harus berada di atas 95 persen untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity.

‎Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren keraguan terhadap vaksin meningkat di tengah masyarakat. IDAI menilai hal ini dipengaruhi oleh maraknya informasi yang menyesatkan di media sosial, serta menurunnya kepercayaan terhadap institusi pemerintah.

‎“Ketika masyarakat mulai ragu terhadap vaksin, program yang sebenarnya baik jadi tidak dipercaya.” jelas Piprim.

‎Sejumlah laporan menunjukkan kasus campak kembali meningkat di beberapa wilayah dan bahkan memicu kejadian luar biasa (KLB). Kondisi ini umumnya terjadi di daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah.

‎‎IDAI menegaskan bahwa penyakit seperti campak dan polio termasuk dalam kategori penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), sehingga kemunculannya seharusnya bisa dihindari jika program vaksinasi berjalan optimal. ‎Untuk mengatasi hal ini, IDAI mendorong penguatan kembali layanan kesehatan primer serta peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi.

‎‎“Ayo galakkan kembali program imunisasi dan kuatkan layanan kesehatan primer.” ujar Piprim.

‎‎Selain itu, IDAI juga menekankan pentingnya peran media dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berbasis sains, guna mengembalikan kepercayaan publik terhadap vaksin sebagai upaya perlindungan kesehatan anak.

==============

DINI PUSPITA RAMADHANI berkontribusi dalam tulisan ini.

Baca juga artikel terkait CAMPAK atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto
Editor: Bayu Septianto