Menuju konten utama
Hari Anak 2026

Nestapa & Asa Anak-anak yang Mendekam di Balik Jeruji LPKA

Dudung mengakui setiap orang memiliki kesalahan, tetapi berpesan agar anak-anak binaan tidak lagi menengok kesalahan mereka mereka di masa lalu.

Nestapa & Asa Anak-anak yang Mendekam di Balik Jeruji LPKA
LPKA Kelas 1 Tangerang. tirto.id/Naufal majid
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Saat malam tiba, kepala Bagas (bukan nama sebenarnya) mulai dipenuhi dengan berbagai penyesalan yang merasuki pikiran. Tubuh Bagas memang sudah terlentang di atas ranjang tingkat, tetapi memorinya terus mengenang pada kejadian tujuh bulan sebelumnya.

Januari 2026 lalu, remaja 17 tahun itu menusuk seseorang hingga meninggal dunia. Menurut versinya, insiden itu terjadi tanpa diniatkan sebelumnya. Kala itu, pemuda asal Serang, Banten itu hanya berniat untuk bertemu dengan pacar sang adik yang disebut telah mengambil ponsel milik ibunya. Berniat menjebak pacar sang adik, Bagas dan temannya justru dicegat oleh segerombolan gangster. Akibat terdesak, Bagas pun mengeluarkan sebilah pisau yang dipersiapkan untuk membela diri. Nahas, satu orang tewas akibat tusukan dari pisau itu.

Tidak lama berselang, Bagas pun digelandang ke kantor polisi dan mendekam di sana selama dua minggu. Setelahnya, ia menjalani persidangan dan divonis bersalah dengan hukuman penjara selama 6 tahun 6 bulan. Usai divonis hakim, Bagas langsung dipindahkan ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tangerang, tempat tinggalnya kini dan setidaknya sampai enam tahun ke depan.

Di LPKA Kelas I Tangerang, Bagas tinggal di dalam kamar yang ditutup oleh pintu dan jendela besi bersama tiga orang lainnya. Meskipun kamar itu dihuni oleh empat orang anak binaan, tetapi saat malam tiba, Bagas tetap tak bisa menghindar dari rasa sepi yang menghantui. Tidak ada lagi rasa solidaritas yang dulu sering digaungkan oleh kawan-kawannya, bahkan seorang kawan yang dulu kerap ia bela tak pernah menunjukkan batang hidungnya untuk menjenguknya di LPKA.

“Pelajaran buat saya sih cukup sewajarnya aja kalau berteman gitu, jangan terlalu inilah. Karena apa yang kita omongin itu nggak mungkin bakal konsisten, semuanya itu pasti ada berubahnya,” kata Bagas saat ditemui Tirto pada Selasa (21/7/2026).

Di jalanan, Bagas memang sosok yang keras dan gemar berkelahi dengan setiap orang yang dianggap musuh. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada sifat manja yang tersembunyi di dalam tubuh remajanya.

Tak jarang Bagas menangis saat teringat kenakalannya dulu. Saat sakit menyerang tubuhnya, ia juga hanya bisa tertidur lemah sambil menahan rindu akan sentuhan kasih sayang orang tua.

“Sempat [berpikir] kayak, ‘Aduh kenapa ya sejauh ini.’ Anak-anak lain mah mungkin kayak masih bisa kumpul sama keluarganya, sama teman-temannya, masih bisa sekolah normal,” ucapnya.

Saat ditanya apa cita-cita yang hendak ia kejar setelah keluar dari LPKA, Bagas mengaku belum memikirkan hal tersebut. Dia hanya fokus untuk menjalani hari demi hari di LPKA, sambil menyusun target-target kecil dalam hidupnya. Terdekat, ia berkeinginan untuk bisa segera lulus sekolah.

Bagas tengah berusaha untuk ikhlas dengan nasib bahwa dia harus menghabiskan sisa masa remajanya di LPKA. Hatinya merasa tersiksa apabila terus menerus berpikir rencana kehidupan setelah berada di dunia luar nanti.

“Saya enak dulu di sini, baru saya mikirin [rencana kehidupan] yang di luarnya gitu. Karena, kalau di dalam kita mikirin nanti gimana-gimananya atau kita mikirin orang luar, itu bikin nyiksa ke kitanya sendiri,” tuturnya.

 LPKA Kelas 1 Tangerang

LPKA Kelas 1 Tangerang. tirto.id/Naufal majid

Cita-cita Saya Jadi Atlet Boxing

Bila Bagas masih berpikir, Farhan (bukan nama sebenarnya) sudah memiliki gambaran usai keluar LPKA. Farhan, yang merupakan remaja lain ditemui Tirto di LPKA Kelas I Tangerang, bercita-cita untuk menjadi atlet tinju atau boxing setelah selesai menjalani masa hukuman.

Sejak kecil, Farhan memang senang berkelahi, bahkan dengan kakak kandungnya sendiri. Remaja yang ditangkap saat mengedarkan narkotika jenis tembakau sintetis pada Oktober 2025 lalu itu juga kerap melakukan tawuran.

Lewat sebuah samsak yang tersedia di samping musala, Farhan menyalurkan energi agresifnya untuk berlatih boxing setiap sore. Selepas salat Ashar, ia langsung menumbuk kulit samsak hingga bermandi keringat.

“Di usia-usia saya sekolah ini, mungkin saya mau ngejar ke atlet boxing dulu. Ngejar [jadi] atlet, mungkin nanti di umur 20 saya pengen lanjutin usaha orang tua,” ujarnya kepada Tirto, Selasa (21/7/2026).

Sejak mendekam di LPKA, Farhan mengaku kehidupannya telah berubah. Dahulu, remaja 17 tahun itu selalu merasa gelisah ketika tidak mampu mendapatkan “barang haram” untuk dikonsumsi. Orang tua hingga keluarga terdekat tidak ada yang mempan menasihati Farhan. Ia pun sama sekali tidak pernah berpikir mengenai rencana kehidupannya di masa depan.

Kini, kehidupannya menjadi lebih teratur. Sejak pukul delapan pagi, ia dan anak binaan lainnya sudah masuk ke dalam ruang kelas untuk menerima pembelajaran.

Siang hari, para anak binaan menuju musala untuk melakukan pengajian dan menjalankan ibadah salat zuhur. Setelahnya, mereka menyantap makan siang, sebelum lanjut menerima materi dalam kelas keterampilan.

“Di sini [kelas keterampilannya] kayak ada yang latihan band, angklung, ada yang bikin keset, tata boga, terus apa lagi ya, basket,” terangnya.

Farhan sendiri memilih kelas keterampilan skateboard. Sejak masih berada di luar, ia memang sudah memiliki kemampuan berselancar di atas papan skate. Namun, saat masuk ke LKPA, kelihaiannya dalam bermain skateboard pun ikut meningkat.

Setiap pagi hari sebelum memulai aktivitas, Farhan seringkali diminta untuk membantu merapikan ruang perpustakaan. Di sana, ia bertemu dengan seorang pendamping yang ia panggil ‘Bu Tari’.

Di sela-sela aktivitasnya merapikan perpustakaan, Farhan sering dinasihati oleh Bu Tari. Nasihat-nasihat itu bahkan disebutnya menjadi salah satu alasan ia berniat mengubah hidupnya.

Ada satu pesan dari Bu Tari yang terus terekam di benak Farhan:

“Jangan jadi kayak ayah kamu, jadi diri sendiri, harus jadi lebih dari orang tua,” kata Farhan meniru pesan Bu Tari.

 LPKA Kelas 1 Tangerang

LPKA Kelas 1 Tangerang. tirto.id/Naufal majid

Tantangan Mendidik Anak-anak di LPKA

Mendidik Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) di LPKA Kelas 1 Tangerang memang penuh dengan tantangan. Meski begitu, bukan berarti karakter anak-anak itu tidak dapat diubah selamanya.

Kepala Sub Seksi Registrasi LPKA Kelas 1 Tangerang, Hanida Magfira, menyebut, mayoritas dari anak-anak yang ditangani awalnya mempunyai sifat malas.

Perempuan yang juga merupakan pengajar itu bercerita, pernah ada seorang anak yang bahkan malas untuk mandi dan mencuci bajunya sendiri. Alhasil, anak itu ditempatkan di suatu kamar khusus yang terpisah dari teman-temannya yang lain. Hal itu dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran sang anak.

“Jadi ya memang harus diubah pelan-pelan dan itu butuh kesabaran sih. Dari yang ngomel, sampai lembut, sampai ngomel lagi, sampai lembut lagi, baru bisa [berubah], gitu,” jelas Hanida kepada Tirto, Selasa (21/7/2026).

Menurut Hanida, banyak orang tua dari anak-anak yang ditempatkan di LPKA tidak memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan. Dengan demikian, penanaman materi pembelajaran kepada anak-anak itu harus dilakukan secara lebih ekstra.

Selain materi pembelajaran akademis dan keterampilan, pembentukan karakter para anak-anak juga tidak kalah pentingnya. Ia mengatakan, pihak LPKA turut bekerja sama dengan sejumlah universitas sampai komunitas untuk ikut membentuk karakter anak-anak di sana.

Dalam momentum perayaan Hari Anak Nasional, Hanida berharap para orang tua bisa lebih memerhatikan proses tumbuh kembang anak-anaknya dengan lebih baik lagi. Sebab, perempuan yang telah bekerja di LPKA selama 11 tahun itu menuturkan, sebagian besar dari ABH yang ia tangani berasal dari keluarga yang kehilangan sosok ayah atau fatherless.

“[Orang tua harus] hadir di rumah supaya anak-anak ini nggak kosong jiwanya. Jadi nggak mencari figur di luar, entah dari teman sebayanya, entah dari orang dewasa di luar yang nggak bener gitu kan,” katanya.

 LPKA Kelas 1 Tangerang

LPKA Kelas 1 Tangerang. tirto.id/Naufal majid

Pesan Pemerintah di LPKA: Petik Hikmah & Jemput Masa Depan Cerah

Dalam momen perayaan Hari Anak Nasional 2026, Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman hingga Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Jenderal (Purn) Agus Andrianto, mengunjungi para anak di LPKA Kelas I Tangerang.

Di hadapan para anak-anak binaan, Dudung menekankan bahwa nasib yang harus mereka jalani memang sudah digariskan oleh tuhan. Purnawirawan TNI itu meminta anak-anak binaan untuk bersyukur dan menjadikan hukuman itu sebagai pembelajaran.

Menurut Dudung, setiap orang pasti memiliki kesalahan. Namun, ia berpesan agar anak-anak binaan tidak lagi menengok kesalahan mereka di masa lalu.

“Kalau ingin berhasil itu satu, yang pertama jangan menengok ke belakang ya. Yang kedua, lakukan hari ini yang optimal. Yang ketiga, masa depan itu [memang] hanya sebuah angan-angan, hanya sebuah cita-cita, tapi [tetap] harus diperjuangkan,” kata Dudung dalam sambutannya di LPKA Kelas I Tangerang, Selasa.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) itu berpesan agar para anak-anak binaan bisa menjemput masa depan cerah yang menanti mereka dan tidak terbelenggu dengan masalah saat ini. Baginya, masa hukuman mereka di LPKA itu harus dijadikan momentum untuk memupuk harapan dan rasa optimisme para anak-anak.

“Kalau kamu ingin maju, kamu harus punya imajinasi, kamu harus punya inovasi, kamu harus punya visi dan misi, kamu harus punya cita-cita dan harapan,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Imipas, Agus Andrianto, berharap para anak-anak binaan di LPKA Kelas I Tangerang dapat memetik hikmah dari masa hukuman mereka. Bagi Agus, Kementerian Imipas akan terus berfokus membina para anak-anak binaan, yang saat ini jumlahnya mencapai 1.733 orang di seluruh Indonesia.

“Teman-teman semua yang saat ini sedang menjalani proses pembinaan di pemasyarakatan untuk bisa mengambil hikmah dari apa yang menjadi perjalanan yang dialami saat ini sehingga nanti pada saat kembali, nanti berbagai pelatihan sudah kita laksanakan, nanti motivasi akan diberikan,” tutupnya.

Dudung Abdurachman di LPKA Tangerang, Banten

Kunjungan Kepala KSP, Dudung Abdurachman, didampingi Menteri Imipas, Agus Andrianto, di LPKA Tangerang, Banten, Selasa (21/7/2026). FOTO/Dok: KSP

Baca juga artikel terkait HARI ANAK atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Andrian Pratama Taher