tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menargetkan operasional Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dapat terealisasi pada tahun ini. Ia menyatakan percepatan ini didorong oleh tingginya permintaan akan pusat keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian meningkat.
"Saya harap peraturan pelaksana bisa selesai dalam 6 bulan. Operasinya kita usahakan secepatnya, mudah-mudahan tahun ini," ujar Purbaya di kantornya, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, volatilitas pasar dan ketidakpastian geopolitik saat ini justru menjadi momentum emas. "Uncertainty-nya lebih tinggi. Di situlah demand untuk pusat finansial meningkat," ucapnya.
Hanya saja, ia belum dapat memastikan di mana lokasi PFII itu akan berdiri. Meski undang-undang memberikan kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk menentukan lokasi final, Purbaya mengaku belum memutuskan titik pasti.
Beberapa nama seperti Bali Utara, Sanur, dan kawasan Kura-Kura Bali masuk dalam daftar usulan, namun ia menegaskan tidak ada preferensi pribadi dalam menentukan pilihan.
"Bukan preferensi dari saya. Nanti ada tim yang menilai supaya hasilnya optimal. Yang jelas di situ infrastruktur harus bisa dibangun dengan mudah atau sudah ada sebagian, dan tempatnya menarik bagi investor asing yang banyak uang untuk datang," jelasnya.
Purbaya merinci kriteria utama pemilihan lokasi adalah yang paling masuk akal, tercepat dijalankan, paling murah bagi negara, dan paling mampu mendatangkan investor asing.
"Bukan preferensi saya pribadi. Kalau preferensi saya, ya dekat rumah saya," candanya.
Menyoal status lokasi yang disebut-sebut berada di dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Purbaya memastikan hal itu tidak menjadi penghalang.
"Yang status KEK bisa diubah. Kalau ada KEK, bisa dibubarkan KEK-nya. Jadi bukan halangan. Yang penting tidak boleh double," terangnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id



































