tirto.id - Masyarakat Indonesia sudah terbiasa menggunakan minyak goreng yang dihasilkan dari kelapa sawit. Hal ini membuat perkebunan pohon sawit semakin meluas di beberapa daerah. Namun, apakah minyak goreng memang harus selalu dari sawit?
Jika kita pergi ke pasar atau supermarket, kita bisa dengan mudah menemukan berbagai merek minyak goreng, dan sebagian besar di antaranya berasal dari sawit. Hal ini tak lepas dari ketersediaan bahan baku sawit yang cukup banyak dan harganya yang relatif terjangkau bagi masyarakat.
Di sisi lain, konsumen sebenarnya juga masih bisa menemukan berbagai jenis minyak nabati lain, seperti minyak kelapa, minyak zaitun, minyak jagung, hingga minyak kanola. Meski ada banyak alternatif, minyak sawit tetap menjadi pilihan paling populer untuk menggoreng.
Pertanyaannya, apakah minyak sawit menjadi satu-satunya jenis minyak yang cocok untuk menggoreng? Jika tidak, adakah alternatif minyak goreng lain yang cocok untuk memasak?
Kenapa Minyak Goreng yang Beredar Kebanyakan dari Sawit?

Minyak sawit termasuk minyak nabati yang diperoleh dari buah pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis), khususnya dari buahnya yang kaya akan kandungan lemak.
Dikutip dari laman Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), minyak sawit dihasilkan dari beberapa tahapan, mulai dari pemetikan sawit, perebusan untuk melepaskan minyak sawit dari buahnya, pemisahan minyak, pemurnian, hingga pengemasan agar minyak siap dipasarkan.
Minyak sawit sendiri memiliki beberapa kelebihan. Menurut situs Palm Oil Strategic Agribusiness Strategic Policy Instutute (PASPI), komposisi asam lemak minyak sawit tergolong seimbang dan stabil sehingga titik asapnya relatif tinggi.
Hal ini membuat minyak sawit sangat cocok untuk memasak dengan suhu tinggi seperti menumis atau menggoreng.
Faktor yang Membuat Minyak Sawit Populer di Indonesia
Minyak goreng dari kelapa sawit telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Meski jenis minyak lain sudah banyak beredar, minyak sawit tetap mendominasi pasar. Berikut beberapa faktor yang menjelaskan kenapa minyak sawit begitu populer di Tanah Air:1. Produktivitas Tinggi Per Hektar
Dikutip dari Jurnal Kelapa Sawit dan Produktivitas (2023) di laman PASPI, pohon kelapa sawit menghasilkan minyak dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan tanaman penghasil minyak selain sawit, seperti kedelai atau bunga matahari.Dalam luas lahan yang sama, pohon sawit menghasilkan minyak dalam volume hampir 10 kali lipat lebih besar dibandingkan kedelai, 8 kali lipat lebih banyak dari bunga matahari, dan 6 kali lipat lebih tinggi dari rapeseed.
Artinya, kebutuhan lahan sawit lebih rendah untuk menghasilkan jumlah minyak yang sama sehingga secara ekonomis menjadi pilihan yang lebih efisien.
2. Harga Lebih Terjangkau
Salah satu faktor utama yang membuat minyak sawit banyak beredar di Indonesia adalah harganya yang relatif murah dibandingkan minyak nabati lain. Karena produktivitas tinggi dan skala industri yang besar, minyak sawit cenderung lebih murah dalam biaya produksi dibandingkan minyak nabati lain.Selain itu, harga minyak sawit dunia juga lebih terjangkau dibandingkan minyak nabati lainnya. Hal ini membuat harga minyak goreng sawit di pasar Indonesia jadi sangat kompetitif dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
3. Ketersediaan yang Melimpah
Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Keberadaan perkebunan pohon sawit yang membentang luas di Sumatera dan Kalimantan menjamin pasokan yang stabil di dalam negeri.Karena adanya pasokan lokal yang seolah tak pernah habis, produksi minyak sawit pun terus berjalan, sementara masyarakat juga tidak perlu khawatir akan kelangkaan minyak goreng karena sumbernya ada di "halaman sendiri".
4. Stabilitas pada Suhu Tinggi
Komposisi asam lemak pada minyak sawit membuatnya stabil saat dipanaskan di suhu tinggi. Hal ini berarti minyak sawit tidak cepat rusak jika digunakan untuk menggoreng, termasuk saat digunakan dalam teknik deep frying.Kuliner Indonesia pun banyak yang memerlukan proses penggorengan, mulai dari menumis hingga deep fry. Untuk memenuhi kebutuhan ini, minyak goreng dari kelapa sawit yang sangat stabil pun dijadikan pilihan utama oleh masyarakat Indonesia.
Minyak Goreng Sawit terhadap Kesehatan

Minyak kelapa sawit menjadi jenis minyak goreng paling populer di Indonesia. Dalam konteks kesehatan, minyak sawit ternyata memiliki beberapa dampak tersendiri terhadap tubuh. Hal ini berkaitan dengan nutrisi yang ada di dalamnya.
Dilansir dari laman Healthline, minyak sawit mengandung vitamin E berbentuk tocotrienol, yaitu antioksidan kuat yang dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan oksidatif.
Antioksidan ini dianggap dapat mendukung kesehatan otak dengan melindungi lemak tak jenuh di otak dari kerusakan, memperlambat perkembangan demensia, dan bahkan mengurangi risiko lesi otak.
Manfaat positif lainnya berasal dari kandungan karotenoid di red palm oil, yang merupakan prekursor vitamin A. Karotenoid ini dapat diubah tubuh menjadi vitamin A, vitamin yang sangat penting untuk kesehatan mata dan sistem imun.
Dampak Minyak Sawit terhadap Kolesterol dan Kesehatan Kardiovaskular

Minyak goreng sering dikaitkan dengan kolesterol dan kesehatan kardiovaskular, bahkan kerap dituding sebagai penyebab penyakit jantung. Dalam hal ini, laman resmi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (IOPRI) menegaskan tidak ada bukti kuat bahwa minyak sawit adalah penyebab utama penyakit kardiovaskular.
Hasil penelitian praklinis yang dilakukan oleh IOPRI menunjukkan bahwa konsumsi minyak sawit tidak meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL). Sebaliknya, minyak sawit terbukti dapat meningkatkan kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kadar trigliserida dalam darah.
Hal serupa juga disebutkan oleh situs Healthline. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa individu yang menjalani pola makan kaya minyak sawit cenderung memiliki kadar kolesterol total dan LDL (kolesterol jahat) yang lebih rendah dibandingkan mereka yang diet tinggi lemak trans.
Sementara itu, ada studi lain yang menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki efek serupa seperti minyak zaitun. Studi ini tertuang dalam jurnal Palm Oil and Cardiovascular Disease: A Randomized Trial of the Effects of Hybrid Palm Oil Supplementation on Human Plasma Lipid Patterns.
Jurnal tersebut mengungkap bahwa minyak sawit memiliki efek yang serupa dengan minyak zaitun ekstra virgin (extra virgin olive oil/EVOO) dalam menurunkan kadar kolesterol total dan LDL pada manusia.
Namun, apabila dibandingkan dengan minyak nabati lain yang rendah lemak jenuh, minyak sawit mungkin “kalah” sehat. Hal ini terungkap dalam jurnal bertajuk Palm Oil Consumption Increases LDL Cholesterol Compared with Vegetable Oils Low in Saturated Fat in a Meta-Analysis of Clinical Trials.
Studi ini menunjukkan bahwa konsumsi minyak sawit justru lebih meningkatkan kadar kolesterol LDL dibandingkan dengan minyak nabati yang rendah lemak jenuh. Ini masuk akal karena kandungan lemak jenuh pada minyak sawit memang relatif lebih tinggi.
Selain itu, studi ini juga menyimpulkan bahwa minyak sawit terbukti lebih meningkatkan kadar kolesterol HDL atau kolesterol baik ketika dibandingkan dengan minyak yang mengandung lemak trans.
Sumber Minyak Goreng selain Sawit

Sawit memang jadi pilihan populer sebagai penghasil minyak goreng, tapi bukan berarti tidak ada alternatif lain. Ada banyak sumber penghasil minyak goreng yang bisa digunakan, mulai dari alpukat, kedelai, bunga matahari, jagung, kelapa, hingga lemak hewani.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua minyak nabati cocok digunakan untuk menggoreng atau memasak dalam suhu tinggi.
Dikutip dari laman Heart Foundation, untuk proses shallow frying (menggoreng dengan lebih sedikit minyak sehingga makanan tidak "tenggelam") dan menumis, masyarakat bisa menggunakan minyak zaitun, minyak kanola, atau rice bran oil.
Sementara untuk deep frying, dapat menggunakan refined olive oil dan rice bran oil. Tidak direkomendasikan menggunakan minyak jagung dan minyak bunga matahari karena kaya akan lemak tak jenuh ganda yang dapat membentuk senyawa tak diinginkan jika dipanaskan pada suhu tinggi.

Sementara itu, Dr. Eric Berg DC melalui kanal YouTube resminya (@Drberg) mengungkapkan bahwa ada beberapa alternatif minyak goreng yang sehat selain minyak sawit, mulai dari minyak alpukat, minyak kelapa, tallow (lemak hewani seperti sapi), hingga mentega dan ghee.
Namun, Dr. Eric juga mengingatkan agar kita tidak menggoreng (khususnya deep fry) menggunakan minyak-minyak tersebut dalam suhu yang tinggi.
Ia menyarankan untuk menggunakan api/panas sedang atau menerapkan metode memasak stir fry (menumis cepat) maupun pan fry (memakai sedikit minyak).
Demikian penjelasan terkait minyak goreng dari kelapa sawit, dampaknya bagi kesehatan, dan alternatif minyak lain yang bisa digunakan. Kunci utamanya bukan hanya pada jenis minyak yang digunakan, tapi juga pada pola konsumsi yang seimbang serta cara pengolahan yang tepat.
Apa pun jenis minyak yang digunakan, konsumen diharapkan tetap bijak dalam memilih minyak goreng sesuai kebutuhan memasak demi menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Temukan berbagai informasi menarik lain seputar minyak melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id





































