Menuju konten utama

Berapa Harga Minyak Makan Merah, Lebih Murah dari Minyak Goreng?

Berapa harga minyak makan merah dan apakah lebih murah dibandingkan dengan minyak goreng?

Berapa Harga Minyak Makan Merah, Lebih Murah dari Minyak Goreng?
Pekerja memamerkan produk minyak makan merah yang diproduksi oleh Pabrik Minyak Makan Merah Pagar Merbau di Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis (14/3/2024). ANTARA/HO-Kemenkop UKM

tirto.id - Pemerintah mendorong pengembangan minyak makan merah sebagai alternatif dalam mengatasi masalah stunting di Indonesia.

Dilansir dari laman Kominfo, pemerintah melalui Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), melakukan penelitian dan pengembangan minyak makan merah sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan minyak goreng biasa.

Perkiraan Harga Minyak Makan Merah

Presiden Joko Widodo dalam acara peresmian pabrik minyak makan merah Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang menyatakan bahwa harga minyak alternatif ini akan lebih murah dari minyak goreng lain.

Oleh karenanya, minyak makan merah bisa menjadi pilihan dalam mengolah masakan terlebih disertai dengan keunggulan nutrisi yang tidak hilang saat digunakan untuk menggoreng bahan makanan.

Harga minyak makan merah diperkirakan sekitar Rp15.000 per kilogram. Harga ini dianggap lebih murah dibandingkan dengan harga minyak goreng kemasan lain seperti Minyakita yang dijual sekitar Rp14.000 karena mendapat subsidi.

Harga Minyak Goreng Terbaru 2024

Mengutip dari Antara News, untuk Ramadhan 2024 kali ini, Pemerintah melalui Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, berusaha mempertahankan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng sebesar Rp14.000 per liternya dan dipastikan stabil sampai setidaknya Idul Fitri berakhir.

Namun, berdasarkan Sistem Informasi Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) per 13 Maret 2024, harga rerata nasional minyak goreng curah dan Minyakita sama-sama sekitar Rp15.600 per liter bahkan, pada pekan pertama Maret 2024, harga minyak goreng sudah mengalami kenaikan dan mencapai sekitar Rp17 ribuan.

Oleh karenanya, demi menjaga kestabilan harga minyak goreng di pasaran, Zulkiflli kemudian meminta para produsen agar tetap memenuhi Domestic Market Obligation (DMO) sesuai dengan alokasi masing-masing.

Apa Keunggulan Minyak Makan Merah?

Minyak makan merah disebut memiliki nilai gizi yang lebih tinggi karena kandungan pro-vitamin A dan E yang dipertahankan selama proses pengolahan.

Edwin Lubis, selaku Kepala PPKS menyatakan bahwa produksi minyak makan merah dapat dikembangkan oleh koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena membutuhkan nilai investasi yang lebih kecil daripada pabrik minyak goreng komersial.

Hal tersebut juga memberikan peluang ekonomi kepada masyarakat lokal, terutama di daerah pedesaan.

Minyak makan merah atau refined palm oil merupakan produk yang dihasilkan dari minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) setelah melalui proses penyulingan, namun tidak melanjutkan proses-proses selanjutnya seperti proses pemutihan atau bleaching.

Minyak ini memiliki warna yang mencolok dan aroma yang kuat, yang berasal dari kelapa sawit yang memang berwarna merah tua.

Mengingat adanya perbedaan warna dengan minyak goreng pada umumnya, maka penting untuk melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat minyak makan merah sebagai salah satu solusi dalam pemenuhan gizi bagi masyarakat Indonesia.

Minyak makan merah memiliki beberapa kandungan senyawa fitonutrien yang dianggap bermanfaat bagi kesehatan, termasuk karoten sebagai sumber vitamin A, tokoferol dan tokotrienol sebagai vitamin E, dan squalene.

Senyawa-senyawa tersebut memberikan kemungkinan bagi minyak makan merah untuk digunakan sebagai pangan fungsional, termasuk dalam upaya pencegahan stunting.

Selain itu, minyak makan merah juga diklaim mengandung asam oleat dan asam linoleat yang berfungsi penting dalam pembentukan dan perkembangan otak, transportasi, dan metabolisme pada anak-anak.

Baca juga artikel terkait MINYAK MAKAN MERAH atau tulisan lainnya dari Fajri Ramdhan

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Fajri Ramdhan
Penulis: Fajri Ramdhan
Editor: Yantina Debora