Menuju konten utama

Apa Itu Pendidikan STEM dan Humanities, Mana yang Lebih Baik?

Perdebatan mana yang lebih unggul antara STEM dan humaniora sering terjadi. Ketahui penjelasan perbedaan dan keunggulan tiap bidang tersebut.

Apa Itu Pendidikan STEM dan Humanities, Mana yang Lebih Baik?
Ilustrasi Belajar di Rumah. foto/Freepik
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Baru-baru ini kembali muncul perdebatan di media sosial, khususnya di X/Twitter, terkait bidang STEM dan humanities. Ketahui penjelasan apa itu sebenarnya pendidikan bidang STEM dan humanities, serta mana yang lebih baik.

Kedua bidang tersebut, STEM dan humanities (humaniora), sangat sering diperdebatkan publik, terlebih di Indonesia. Hal ini tidak lain karena publik masih menganggap kedua bidang tersebut merupakan dua hal yang sangat berbeda atau bertolak belakang.

Tidak lain juga karena stigma yang bermunculan bahwa satu bidang lebih unggul dari bidang lainnya. Selain itu, hal ini juga terkait dengan peluang lapangan pekerjaan yang lebih terbuka untuk salah satu bidang tersebut.

Apa Itu Pendidikan STEM dan Humanities?

Bidang STEM sendiri merupakan singkatan dari Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika, yang mencakup ilmu komputer dan kecerdasan buatan hingga teknik dan fisika terapan. Sementara itu, humanities atau humaniora merupakan bidang yang hampir mencakup segala hal terkait manusia dan sosial, dengan disiplin keilmuan, seperti sastra, filsafat, sejarah, dan seni.

Mengutip laman Universitas Shmoop, pembelajaran bidang STEM mencakup berbagai keterampilan dan manfaat. Berikut ini rinciannya:

  • Keterampilan pemecahan masalah
  • Keterampilan matematika
  • Pengembangan pemikiran logis
  • Pemahaman yang lebih baik tentang fungsi dunia
  • Alat untuk menciptakan inovasi baru
Sementara itu, bidang humaniora disebut lebih banyak hal yang dipelajari. Berikut ini rinciannya:

  • Empati dan pengertian terhadap orang lain
  • Eksplorasi keyakinan pribadi
  • Berpikir kritis
  • Apresiasi terhadap seni, sastra, dan musik dunia
  • Menemukan (atau mempertanyakan) makna etika dan moralitas
  • Diskusi yang disengaja tentang ide-ide yang tidak nyaman
  • Menyelidiki asal-usul budaya manusia
  • Keterampilan analisis
  • Pemahaman yang lebih luas tentang banyak subjek
  • Mengajukan pertanyaan besar: “Lalu apa?”

Mana yang Lebih Baik antara STEM dan Humanities?

Bagi negara-negara yang sedang dalam pembangunan, bidang STEM paling banyak dicari dan dibutuhkan, termasuk di Amerika Serikat. Hal ini bahkan tampak di Indonesia sendiri ketika banyak jurusan kuliah STEM yang dianggap menjanjikan kehidupan pasca-lulus daripada jurusan humaniora.

Banyak pula perbedaan yang mencolok antara STEM dan humaniora, termasuk nominal gaji yang diterima lulusan awal (fresh graduate). Laman Cialfo (28/1/2025) bahkan membuat tabel perbandingan STEM dan humaniora, meliputi keterampilan inti, gaji awal, jalur karier, hingga potensi pertumbuhan pekerjaan.

Aspek

STEM

Sastra

Keterampilan Inti

Berpikir analitis, keterampilan teknis, pemecahan masalah

Berpikir kritis, komunikasi, kesadaran budaya

Gaji Awal Rata-rata

$70.000—$110.000

$60.000—$90.000

Jalur Karier

Teknologi, Teknik, Kesehatan

Hukum, Pendidikan, Jurnalisme, Humas

Potensi Pertumbuhan Pekerjaan

Bidang yang banyak diminati dan berkembang pesat

Permintaan stabil, karir fleksibel

Manfaat Utama

Inovasi, keahlian teknis

Empati, analisis kritis

Namun, menurut survei tahun 2018 oleh Asosiasi Perguruan Tinggi dan Pemberi Kerja Nasional (National Association of Colleges and Employers), dikutip dari Forbes (26/10/2023), tiga atribut menonjol dalam mengevaluasi lulusan perguruan tinggi untuk posisi potensial: komunikasi tertulis, pemecahan masalah, dan kerja sama tim.

Dengan demikian, wilayah kerja atau pemerolehan gaji dalam bidang STEM memang menjanjikan, tetapi keterampilan yang ditawarkan tidak cukup untuk membuat mereka berada di posisi potensial. Sebaliknya, mereka yang berbekal ilmu humaniora disebut lebih dapat “bertahan” karena keterampilan yang mereka peroleh selama belajar di jurusannya, sesuai dengan pernyataan Jin Chow, penulis artikel tersebut (26/10/2023).

Pembaca yang ingin membaca artikel sejenis terkait ilmu pengetahuan dapat mengakses tautan berikut ini.

Link Artikel Tentang Ilmu Pengetahuan

Baca juga artikel terkait ILMU PENGETAHUAN atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Wisnu Amri Hidayat