Yang Langka di Dunia Kerja Sains dan Teknologi: Perempuan

Ilustrasi. FOTO/Istock
Oleh: Nindias Nur Khalika - 28 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Mengapa bisa demikian, dan strategi apa yang perlu diusahakan?
“Kenapa ya angka keterlibatan perempuan kecil banget di bidang STEM?”

Pertanyaan tersebut dilempar moderator Fifi Aleyda Yahya pada para pembicara yang hadir dalam sebuah diskusi tentang kepemimpinan perempuan dalam industri STEM. Singkatan tersebut adalah kepanjangan dari Sains, Technology, Engineering, dan Mathematics.

Salah satu partisipan acara tersebut, Fuad Sahid Lalean yang menjabat Managing Director Resources Industry of Accenture, menyampaikan hasil penelitian dari perusahaannya ihwal mitos dan fakta yang mempengaruhi minimnya keterwakilan perempuan di industri secara keseluruhan.

“Mitosnya, STEM bukan untuk perempuan. Citra masih sangat laki-laki dan role model masih kurang. Ada juga stigma kalau perempuan itu tidak mau kerja kotor. Itu tidak benar,” terangnya.

Menurut American Association of University Women (AAUW), sebuah organisasi nirlaba asal Amerika yang fokus pada kesetaraan perempuan, STEM dianggap penting untuk perekonomian nasional. Namun, menurut AAUW pula, peran perempuan dalam STEM masih belum signifikan meski kemajuan pendidikan dan tenaga kerja telah terjadi.

Data UNESCO dan Korean Women’s Development Institute menggambarkan sejumlah ilmu terkait bidang STEM di perguruan tinggi Indonesia sebenarnya diminati perempuan. Sebanyak 88 persen responden memilih biologi dan 80,7 persen menaruh minat pada farmasi. Sisanya, pilihan perempuan jatuh pada sejumlah disiplin ilmu lain seperti Kedokteran sebesar 73 persen, kimia 66,8 persen, matematika sejumlah 57,7 persen, dan fisika sebesar 38,9 persen.

Rachmad Hidayat dalam Ilmu yang Seksis (2004) menjelaskan masih berlakunya kaitan antara gender dan ilmu sehingga mempengaruhi pilihan perempuan. Biologi dan psikologi, misalnya, dianggap lebih bersifat feminin, sedangkan ilmu politik, ekonomi, kedokteran, matematika, fisika, dan teknik dilihat sebagai ilmu yang bersifat maskulin.


Meski di jenjang perguruan tinggi banyak perempuan meminati bidang sains-teknologi, di ranah profesional, perempuan masih langka.

UNESCO dan Korean Women’s Development Institute dalam laporan "A Complex Formula: Girls and Women in Science, Technology, Engineering, and Mathematics in Asia", hal tersebut mengakibatkan sedikitnya sosok perempuan yang dianggap panutan atau role model bagi anak-anak perempuan. Ujungnya, partisipasi perempuan di dunia kerja pun rendah.

Aspek partisipasi kerja kemudian menjadi problem di bidang kesetaraan dan penghasilan yang kerap menjadi ganjalan bagi pekerja perempuan. Kalaupun partisipasi kerja perempuan tinggi, perolehan gajinya belum setara dengan laki-laki.


UNESCO dan Korean Women’s Development Institute kemudian menaruh perhatian pada jumlah peneliti perempuan di bidang sains, teknologi, dan inovasi.

Di Indonesia, jumlah peneliti perempuan yang berkarya di ketiga bidang tersebut mencapai 31 persen. Meski begitu, angka ini masih di bawah 50 persen sehingga masih tergolong rendah. Padahal, jumlah peneliti mempengaruhi kemampuan perempuan untuk berkompetisi dengan laki-laki pada bidang ilmu tertentu.

Selain soal jumlah peneliti, dua lembaga di atas turut menyoroti problem tentang konsentrasi perempuan pada pekerjaan tertentu di bidang STEM. Perempuan, menurut laporan kedua lembaga di atas, lebih banyak bekerja di bidang kedokteran dan biologi. Sebaliknya, pekerja perempuan yang berkarya di dunia teknik dan fisika justru minim.

Pekerja perempuan juga terkonsentrasi di posisi level bawah. Terbatasnya dukungan yang diberikan untuk perempuan ditengarai menjadi penyebabnya.



Dukungan untuk Perempuan di Dunia STEM

Silvia Halim, direktur konstruksi PT. MRT Jakarta, masih ingat saat ia pertama kali diterima bekerja di Land Transport Authority Singapura selepas lulus kuliah. Sebagai manajer proyek, ia harus berhadapan dengan rekan kerja lain yang kebanyakan laki-laki dengan segudang pengalaman di bidang yang baru ia masuki.

“Fakta [bahwa] saya perempuan dan anak buah saya [adalah] bapak-bapak, [membuat saya] jadi perlu berusaha untuk membangun hubungan yang baik. Perlu menjaga kepercayaan dengan kolega dan pihak kontraktor juga, supaya kami bisa bekerja sama-sama,” katanya.

Meski sempat merasa cemas dan ragu apakah ia bisa melaksanakan tugasnya di kantor dengan baik, Silvia akhirnya mantap meniti karir di dunia industri. Ia menjadikan atasannya sebagai role model: perempuan bisa terjun di bidang yang dianggap dunia laki-laki ini.

“Direktur kelompok saya di Land Transport Authority adalah perempuan. Di titik itu, saya tidak merasa aneh masuk ke dunia ini dan mengejar karier, karena bos [saya] saja perempuan,” ujarnya.

Upaya yang bisa mendorong perempuan menjadi pekerja dan bertahan di pekerjaan tersebut menurutnya perlu didukung. “Bahkan bila itu dengan tindakan afirmasi. Saya mengerti ada beberapa orang yang merasa harusnya semua berdasarkan kompetensi. Tapi kalau menurut saya, kenapa tidak?” katanya.

Menurut Hendri Sayuti, tindakan afirmasi dapat diartikan sebagai ketentuan atau kebijakan yang diberikan kepada kelompok tertentu berdasarkan pertimbangan ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, dan budaya agar representasi tercapai sehingga mempercepat keadilan dan kesetaraan.

Perlakuan khusus dalam lapangan pekerjaan dan pendidikan dilihat sebagai bentuk reparasi dari praktik-praktik diskriminasi dan ketidakadilan struktural terhadap perempuan.


Namun, tindakan afirmasi dikritik karena dianggap melanggar prinsip meritokrasi—sistem yang menghargai prestasi atau kemampuan seseorang—sehingga mengancam nilai keadilan, persamaan, dan kesempatan demokrasi.

Meritokrasi dianggap memberi peluang bagi semua orang dan memperlakukan semua kandidat secara sama. Kandidat terbaik akan keluar sebagai “pemenang”. Jika ada tindakan afirmatif, kandidat terbaik tak otomatis menjadi "pemenang".

Persoalan lain: tidak semua perempuan menginginkan perlakuan khusus. Apabila kebijakan afirmatif diberlakukan, akan ada stigma bahwa perempuan kurang kompeten sehingga harus dispesialkan.


Namun, menurut Silvia, tindakan afirmasi hanya cara untuk menyediakan peluang dan diperlukan, sebab perempuan selalu dihadapkan pada stereotip dan persepsi yang membuatnya tidak bisa terjun ke pekerjaan tertentu.

“Jadi, tindakan afirmasi itu dibutuhkan untuk mencapai kesetaraan gender. Namun, yang penting adalah begitu sudah masuk, mereka juga harus bisa menunjukkan kalau dirinya pantas dan setelah itu [berlaku] meritokrasi,” ujarnya.

Di tempatnya bekerja sejak 2016, PT MRT Jakarta, saat ini terdiri dari 26 persen perempuan dan 73 persen laki-laki. “Di dalam MRT, kami terbuka dalam hal promosi pekerja perempuan untuk posisi berikutnya,” katanya. Posisi-posisi kunci pembangunan dan pengoperasian MRT seperti kepala departemen engineering railway, kepala departemen teknik sipil, dan kepala divisi operation, menurut pengakuan Silvia, juga diduduki oleh pekerja perempuan.

Menurutnya, untuk mendukung perempuan, perusahaan perlu memberi fasilitas yang memungkinkan perempuan bekerja, misalnya dengan sistem telecommuting atau hak cuti yang setara antara perempuan dan suaminya. Selain itu, penyediaan tempat penitipan anak juga penting agar orangtua tidak terlalu cemas memikirkan kondisi anaknya selagi bekerja.

Baca juga artikel terkait LAPANGAN PEKERJAAN atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Nindias Nur Khalika
Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight