Balada Perempuan Pencari Nafkah

Oleh: Patresia Kirnandita - 17 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Fenomena "wanita karier" semakin dianggap biasa. Namun, masalah mereka tak otomatis hilang.
tirto.id - Jadi pekerja atau ibu rumah tangga? Pertentangan ini tak pernah usai jadi topik dalam percakapan-percakapan di jagat internet. Pada satu sisi, perempuan bekerja dirayakan oleh sebagian masyarakat.

Selain berpengaruh terhadap pengembangan diri dan ekonomi keluarga, fenomena ini menggeser cara pandang konservatif yang mengharapkan perempuan tinggal di rumah dan mengurus hal domestik saja. Predikat "wanita karier" yang bernada positif adalah salah satu penanda pergeseran itu.

Sementara, di lain sisi, menjadi wanita karier bisa dipandang membawa beban berlapis bagi sebagian perempuan lantaran belum terbebas dari harapan-harapan dari sekitarnya. Dibanding laki-laki, perempuan lebih sering mendapat pertanyaan yang menyiratkan pola pikir lawas soal peran perempuan yang telah berkeluarga.

“Bu, dengan kepadatan aktivitas yang ada, bagaimana caranya ibu membagi waktu antara pekerjaan dan urusan keluarga? Apakah ada waktu untuk memasak atau mengurus anak?” demikian kalimat klasik yang tidak jarang dilontarkan kepada perempuan bekerja, terlebih kepada mereka yang memasuki bidang pekerjaan yang dianggap maskulin.

Tidak jarang juga, ketika perempuan memutuskan bekerja penuh waktu, bahkan sampai mencetak deretan prestasi, lantas mengalami kegagalan dalam rumah tangga, keputusannya berkarierlah yang dipersalahkan. Ada yang merasa, istri yang memiliki pendapatan lebih tinggi dari suami mencederai harga diri laki-laki.

Sebuah studi pada 2013 dari Pierce et.al. juga mengafirmasi efek buruk dari istri berpendapatan lebih tinggi dari pasangannya. Berdasarkan temuan mereka, suami yang bergaji jauh lebih rendah dari istri cenderung mengalami masalah seksual dan psikologis. Sementara bagi istri, menjadi pencari nafkah utama dapat mendatangkan stres dan insomnia untuk mereka.

Perkara psikologis seperti stres dan kecemasan yang ditemukan dalam diri responden penelitian ini berasal dari kerangka berpikir tradisional yang masih memilah secara tegas peran kedua gender.

Temuan Pierce et.al. tak serta merta dapat menjadi landasan generalisasi dalam melihat kondisi rumah tangga dengan istri bekerja. Sejumlah studi lain terus menggali efek-efek positif lainnya dari partisipasi perempuan sebagai pencari nafkah. Satu di antaranya dirilis pada 2016 yaitu dari para sosiolog University of Connecticut.

Menurut studi tersebut, suami yang menjadi pencari nafkah utama cenderung mengalami masalah psikologis dan kesehatan—sebuah temuan yang berseberangan dengan penelitian Pierce et. al. Mengapa demikian? Nilai tradisional yang mendorong suami untuk menjadi tulang punggung keluarga mendatangkan tekanan lebih besar untuk fisik dan psikis mereka.

“Laki-laki diharapkan menjadi pencari nafkah, tetapi mendanai kebutuhan keluarganya dengan sedikit sekali atau bahkan tanpa bantuan siapa pun menimbulkan dampak negatif untuk mereka,” ungkap Christin Munsch, profesor Sosiologi University of Connecticut seperti dilansir The Guardian.

Temuan studi ini menyuguhkan fakta bahwa tidak hanya perempuan yang terdampak dari implementasi nilai tradisional seputar peran gender dalam rumah tangga. Laki-laki pun sebenarnya menanggung beban besar yang tak melulu dan tak seluruhnya dapat tahan melaksanakannya.

Mengingat berumah tangga bukanlah perkara sepele, apalagi untuk urusan finansial, sebagian orang pun merasa pernikahan yang paling ideal bagi mereka adalah pernikahan di mana kedua belah pihak sama-sama mencari nafkah. “Tidak masalah kalau istri bekerja karena membangun ekonomi rumah tangga enggak gampang. Apa-apa mahal,” demikian pendapat Ibrahim Ukrin (24) saat Tirto tanyai pendapatnya tentang istri bekerja.

Baca juga: Calon Istri Idaman Pemuda Milenial

Studi dari University of Connecticut tadi juga menemukan, istri yang menjadi pencari nafkah utama lebih bahagia dan sejahtera. Menurut Munsch, perempuan bisa memandang mencari nafkah sebagai suatu kesempatan atau pilihan, bukan tuntutan masyarakat. Berkarier bagi perempuan menciptakan suatu kebanggaan tersendiri, dan bila mereka suatu hari memutuskan tidak lagi meneruskannya, mereka tidak akan seperti laki-laki yang jamak dihujani pandangan merendahkan di lingkungan konservatif.

Baca juga: Belajar Jadi Bapak Rumah Tangga

PR Belum Selesai

Mengalahlah, tempatkan dirimu di belakang laki-laki, itulah kebaikanmu sebagai perempuan. Doktrin semacam ini sudah berusia tua. Semaju apa pun perkembangan teknologi, selebar apa pun kesempatan merasakan edukasi dan menjejak di ranah publik, masih ada perempuan yang harus menelan getirnya harapan sosial yang tidak sesuai aspirasi mereka.

Priya Alika Elias, seorang perempuan dari India—tempat dengan budaya patriarki yang kuat—memberikan perspektifnya soal sifat submisif atau mengalah yang dilekatkan kepada perempuan. Dari kacamatanya, mengagungkan nilai semacam ini hanya membuat perempuan kian tercekik.

“Bila tak mau berbeban ganda, tinggal saja di rumah, tunggu suami menafkahi.” Begitu alasan yang sering dilontarkan kepada sebagian istri sehingga membuat mereka menimbang ulang rencana berkarier. Saat mereka menunda atau bahkan memutuskan tidak memiliki anak setelah menikah, tikaman lain datang dari ucapan semacam, “Kamu egois. Apakah kamu pikir orangtuamu tidak ingin menimang cucu?”

Elias menggarisbawahi kata egois ini. Baginya, kata tersebut acap kali dipakai untuk melumpuhkan perempuan sehingga mau tak mau, lagi-lagi menuruti harapan sekitarnya.

Sikap diskriminatif terhadap perempuan tidak hanya terjadi melalui pendiktean peran mereka dalam rumah tangga. Di tempat kerja, mereka pun harus menghadapi tantangan diskriminasi gender dalam bentuk lain.

Baca juga: Ketika Perempuan Dinomorduakan di Tempat Kerja

Infografik perempuan pencari nafkah


Bayangkan bila di kantor, perempuan dipersulit untuk mendapat promosi jabatan, ditempatkan dalam proyek-proyek besar, atau bahkan mau tidak mau menghadapi situasi penuh pelecehan. Lantas, sampai di rumah, ia masih harus berhadapan dengan tuntutan suami, orangtua, atau mertua untuk mengerjakan hal-hal domestik. Ini adalah seberat-beratnya beban yang harus diemban perempuan.

Memang, tidak semua istri kembali ke rumah selepas bekerja dengan diberondong tuntutan macam ini. Sebagian dari mereka lebih beruntung karena sanggup menyewa jasa asisten rumah tangga atau memiliki orangtua yang punya cukup energi dan waktu saat dititipi anak.

Istri yang punya karier bagus lazimnya berbekal pendidikan tinggi dan punya keahlian mumpuni, suatu privilese yang tidak semua perempuan dapatkan. Mereka yang berpendidikan rendah atau sekadar wajib belajar akan sulit menyamai posisi istri-istri berstatus sosial tinggi ini.

Maka, biasanya, dalam dunia kerja, ada dua realitas perempuan yang berjalan sendiri-sendiri. Yang satu adalah realitas kesuksesan perempuan menjadi pengusaha dan pejabat publik, sedangkan yang lainnya ialah realitas perempuan yang menyangga beban krisis permanen, demikian disampaikan Ruth Indiah Rahayu, aktivis perempuan dan feminis yang terlibat dalam Federasi Serikat Buruh Karya Utama dan Partai Rakyat Pekerja.

Di ranah karier, Ruth melihat perempuan terbagi dalam kelas-kelas yang berkontestasi. Tentu saja kelompok perempuan berpendidikan tinggi dan berkeahlian bisa mengungguli kelompok perempuan lainnya. Saat mereka menduduki posisi tinggi di perusahaan—sekalipun belum tentu sepenuhnya memegang kendali kuasa—belum tentu mereka mempunyai solidaritas dengan perempuan lain yang tidak seberuntung mereka.

“Tidak adanya solidaritas kelas ini membuat perjuangan di ranah perubahan kebijakan kurang memadai untuk menjawab krisis permanen, ditambah lagi ancaman ideologi yang selalu berkehendak mendomestikasi perempuan,” jabar Ruth. Dari sini, dapat dipahami bahwa tantangan perempuan di dunia kerja bukan hanya dari laki-laki, tetapi juga sesama perempuan dengan latar belakang kelas berbeda.

Baca juga artikel terkait WANITA KARIER atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani