tirto.id - Pemerintah memperkenalkan kebijakan baru terkait pencantuman label gizi berupa Nutri-Level. Kebijakan ini merupakan salah satu upaya dalam peningkatan gizi masyarakat sekaligus mencegah penyakit tidak menular akibat konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih.
Seperti yang diketahui, saat ini ada banyak jenis produk makanan dan minuman yang beredar di pasaran dengan kandungan gizi beragam. Meski tergolong aman, produk makanan dan minuman kemasan yang dijual bebas berpotensi menyebabkan penyakit jika dikonsumsi secara berlebihan.
Penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, stroke, hingga diabetes tipe 2 sering kali muncul akibat pola makan yang tidak sehat, termasuk mengonsumsi gula, garam, dan lemak berlebih.
Oleh karena itu, pemerintah mulai menerapkan kebijakan Nutri-Level demi mencegah PTM. Dengan adanya kebijakan ini, masyarakat juga diharapkan lebih cerdas dan bijak dalam memilih produk makanan maupun minuman.
Apa Itu Nutri-Level dan Kenapa Akan Diterapkan di Indonesia?

Nutri Level adalah sistem pelabelan gizi untuk membantu masyarakat memilih produk pangan olahan yang lebih sehat dengan cara sederhana dan mudah dipahami. Kebijakan ini diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 yang terbit pada Selasa, 14 April 2026.
Sistem label ini nantinya akan dicantumkan di bagian depan kemasan produk sehingga mudah dilihat dan dikenali oleh konsumen. Melalui Nutri-Level, konsumen bisa dengan cepat mengetahui kualitas gizi produk tanpa perlu membaca tabel informasi gizi secara detail.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak mengonsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) secara berlebihan.
Di sisi lain, Nutri-Level ini penting untuk diterapkan karena angka PTM di Indonesia tergolong cukup tinggi. Dikutip dari Antaranews, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan bahwa angka kematian akibat PTM mencapai 73%, padahal rata-rata di dunia masih sebesar 70%.
Namun, perlu dipahami juga bahwa label Nutri-Level ini bukan larangan konsumsi, melainkan panduan praktis bagi konsumen untuk membandingkan produk sekaligus mendorong pelaku usaha menghadirkan pilihan yang lebih sehat.
Produk Minuman Jadi Target Awal Nutri-Level

Penerapan label gizi atau Nutri-Level akan dilakukan secara bertahap mengingat jumlah pelaku usaha produk pangan di Indonesia sangat banyak. Sebagai langkah awal, Nutri-Level akan dimulai dari produk minuman sebelum nantinya merambah ke kategori pangan lainnya.
Taruna Ikrar selaku Kepala BPOM juga menjelaskan bahwa kebijakan ini diprioritaskan pada minuman karena data uji publik menunjukkan kontribusi tertinggi asupan gula dan lemak berlebih berasal dari minuman berpemanis.
Sementara itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin juga menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih dalam masa transisi sebelum menerapkan Nutri-Level secara wajib.
Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi seluruh pelaku usaha untuk beradaptasi dalam mengimplementasikan Nutri-Level. Meski belum dapat dipastikan, Menkes menilai bahwa masa transisi ini kemungkinan akan berjalan selama 1-2 tahun.
Selama masa transisi, pemerintah masih melakukan imbauan kepada pelaku usaha untuk mencantumkan label Nutri-Level sendiri. Ke depannya, pemerintah akan mewajibkan peraturan ini sehingga seluruh produk pangan yang beredar di Indonesia nantinya akan memiliki level gizi.
Kementerian Kesehatan akan terus bekerja sama dengan BPOM untuk memantau pelaksanaan kebijakan Nutri-Level. Mereka juga akan memonitor para pelaku usaha, termasuk restoran-restoran besar maupun yang memiliki banyak cabang.
Menariknya, di masa transisi ini, pemerintah akan memberikan reward bagi pelaku usaha yang mendukung dan mencantumkan label Nutri-Level pada produk mereka, mulai dari tanda/stempel pangan sehat untuk menarik konsumen hingga perizinan yang dibuat lebih cepat.
Apa Saja yang Dinilai dalam Nutri-Level?

Dalam sistem Nutri-Level, penilaian utama difokuskan pada tiga komponen gizi yang dianggap paling berpengaruh terhadap kesehatan jika dikonsumsi berlebihan, yaitu gula, garam, dan lemak (GGL).
Alasan label GGL dijadikan fokus utama bukan tanpa dasar. Secara ilmiah, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah yang dalam jangka panjang berisiko memicu penyakit diabetes tipe 2, apalagi jika gula dikonsumsi berlebihan dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.
Selain itu, asupan gula yang tinggi juga sering dikaitkan dengan peningkatan berat badan hingga obesitas yang menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis lainnya.
Sementara itu, konsumsi garam berlebih juga sering dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Di sisi lain, asupan lemak juga menjadi perhatian penting dalam Nutri-Level.
Konsumsi lemak berlebih dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah yang berkontribusi pada penumpukan plak di pembuluh darah. Kondisi ini berisiko menyebabkan penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.
Dengan menjadikan GGL sebagai indikator utama, sistem Nutri-Level berupaya untuk mengedukasi dan mendorong masyarakat untuk lebih selektif memilih produk pangan. Dengan pendekatan ini, pola makan masyarakat pun diharapkan bisa lebih sehat dan terhindar dari PTM.
Bagaimana Cara Kerja Label Nutri-Level di Kemasan Produk?

Label Nutri-Level akan dicantumkan pada bagian depan kemasan produk agar langsung terlihat oleh konsumen. Penilaian dalam Nutri-Level ditampilkan dalam skala huruf A hingga D yang disertai indikator warna.
Jadi, hanya dengan melihat label gizi tersebut pada kemasan, masyarakat sudah bisa menilai bagaimana kandungan GGL di dalam produk tersebut. Adapun empat level dalam sistem label Nutri-Level adalah sebagai berikut:
- A (hijau tua): Kandungan GGL lebih rendah
- B (hijau muda): Kandungan GGL rendah
- C (kuning): Perlu dikonsumsi dengan bijak
- D (merah): Perlu dibatasi sesuai kebutuhan atau kondisi kesehatan
Produk Apa Saja yang Berpotensi Dapat Nilai Rendah?

Dalam sistem Nutri-Level, produk yang berpotensi mendapatkan nilai rendah adalah produk pangan yang memiliki kandungan gula, garam, atau lemak dalam jumlah tinggi.
Produk pangan seperti ini kemungkinan akan ditandai dengan label C atau D yang menunjukkan bahwa produk tersebut sebaiknya dikonsumsi secara lebih bijak atau justru harus dibatasi.
Sekali lagi, label ini bukan berarti produk tersebut dilarang dikonsumsi, tapi lebih sebagai peringatan agar konsumen memahami risikonya terhadap kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering.
Salah satu contoh produk yang berpotensi mendapat nilai rendah dalam Nutri-Level adalah minuman berpemanis, termasuk kopi susu kekinian, teh kemasan, susu berperisa, hingga minuman bersoda.
Selain itu, makanan yang memiliki rasa asin juga berpotensi mendapat nilai rendah, misalnya keripik atau camilan lain yang terasa gurih karena mengandung natrium tinggi.
Produk makanan ultra-proses atau ultra-processed food juga bisa mendapat nilai rendah. Makanan seperti ini umumnya telah melalui banyak tahapan pengolahan dan sering diberi bahan tambahan lain seperti gula, garam, lemak, serta aditif lainnya.
Contohnya termasuk mi instan, sosis, nugget, hingga makanan siap saji. Produk dalam kategori ini cenderung memiliki profil gizi yang kurang seimbang sehingga lebih berisiko mendapatkan skor rendah dalam sistem Nutri-Level.
Cara Belanja Makanan & Minuman setelah Ada Nutri-Level

Dengan hadirnya label Nutri-Level, cara memilih produk pangan yang sehat di pasaran akan menjadi lebih praktis. Konsumen kini bisa langsung menilai kualitas gizi suatu produk hanya dari tampilan depan kemasan, tanpa harus membaca detail komposisi yang panjang.
Berikut beberapa tips berbelanja makanan dan minuman setelah kebijakan Nutri-Level diterapkan:
- Pilih produk dengan level A atau B sebagai prioritas.
- Boleh pilih produk dengan level C, tapi sebaiknya tidak setiap hari atau sesekali saja.
- Produk dengan Level D dianggap memiliki batas gula garam lemak cukup tinggi sehingga perlu dibatasi sesuai kondisi kesehatan masing-masing.
- Tetap cek komposisi bahan, terutama kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada kemasan sambil memperhatikan ukuran takaran saji agar tidak salah persepsi.
- Usahakan untuk mengurangi belanja produk pangan kemasan dan beralih pada konsumsi makanan segar. Gunakan produk olahan sebagai pelengkap, bukan menu utama.
Mematuhi label Nutri-Level bukan berarti harus sepenuhnya menghindari, tapi penting untuk mengatur frekuensi dan porsi konsumsi agar tetap seimbang dan tidak berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.
Tertarik dengan info menarik lain seputar gizi dan dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































