Menuju konten utama

Anies dengan a kecil dalam Pilkada Jakarta

Saat Anies memainkan langkah politik dan retorika keagamaan demi merebut kursi DKI-1.

Anies dengan a kecil dalam Pilkada Jakarta
Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyapa pendukungnya saat melakukan kampanye di Lubang Buaya, Jakarta, Jumat (14/4). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/ama/17

tirto.id - "Tidak ada alasan Anies tidak jadi Gubernur DKI setelah melakukan kampanye paling brutal dalam sejarah negeri ini," tulis Made Supriatma di dinding Facebooknya pada 18 April 2017.

Supriatma tentu saja sedang memuji Anies Baswedan yang punya kans besar untuk memenangkan Pilkada Jakarta. Dalam kurang dari 12 jam ke depan, akan diketahui siapa yang jadi kampiun di Jakarta setelah berbulan-bulan terjadi perang agitasi dan propaganda yang nyaris membakar akar rumput—"paling brutal dalam sejarah negeri ini," menurut Supriatma.

Memalukan sekali bagi Anies kalau sampai kalah. Ia telah melakukan apa saja, apa saja, yang bisa ia lakukan untuk memenangkan kontestasi. Dari yang paling receh seperti berjoget "Pen Pinapple Apple Pen" dan bikin video "Om Telolet Om" hingga memainkan retorika kanan di banyak kesempatan untuk merengkuh pemilih muslim.

Retorika keagamaan Anies selama Pilkada dalam banyak hal bertolak belakang dari apa yang telah ia sendiri katakan di masa lalunya. Dan, yang paling parah, buntut dari retorika tersebut, entah tanpa disengaja entah dirancang dengan sadar oleh timnya, memicu terjadinya pertentangan tajam di tengah masyarakat. Hal paling patut kita sesalkan dari itu adalah adanya kampanye haram menyalatkan pemilih pemimpin nonmuslim.

Di jam yang sama saat Supriatma menulis status di Facebook, Anies sedang berpidato di hadapan sejumlah tokoh partai pengusungnya di bilangan SCBD, Jakarta Selatan; antara lain Prabowo Subianto, Hidayat Nur Wahid dan Amien Rais.

"Pertemuan kita malam hari ini, menuju Perang Badar besok," kata Anies yang disambut tepuk tangan meriah para pendukungnya.

Amien Rais tentu saja tersenyum sumringah dan bangga mendengar pernyataan itu. Begitu pula Prabowo Subianto. Pada 27 Mei 2014, Amien berpidato di Masjid Agung Al-Azhar mengimbau para kadernya memakai mental Perang Badar dalam pilpres agar pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menang.

"Jangan (pakai mental) Perang Uhud, wani pira, atau bagaimana nanti rampasan perangnya," kata Amien. "Kalau (pakai) Perang Badar, insyaallah kita dimenangkan."

Pernyataan Amien itu mengundang protes dan kritik dari banyak pihak, karena dianggap berbahaya.

Pilpres adalah pesta demokrasi tertinggi di negeri ini, bagaimanapun, dan kata 'perang' bertentangan dengan substansi demokrasi; yang mengedepankan penghargaan terhadap perbedaan pendapat atau pilihan politik.

Anies Baswedan, yang saat itu punya reputasi besar sebagai "tukang tenun kain kebangsaan", dan menjadi juru bicara pasangan Jokowi-JK, menyesalkan pernyataan Amien.

"Jangan sampai muncul terminologi mengibaratkan pemilu sebagai sebuah perang. Perang sifatnya saling menghabisi. Lawan dalam pemilu harus dianggap sebagai teman membangun bangsa," kata Anies pada 4 Juni 2014. "Penting untuk membedakan lawan dengan musuh. Lawan berdebat adalah teman berpikir, lawan badminton adalah teman berkeluarga, jangan sampai ada permusuhan."

Tetapi, hanya berselang tiga tahun, Anies memakai terminologi yang sama, dan ia melanggar sendiri ucapannya, dengan mengibaratkan pemilu sebagai sebuah perang.

Sejak Anies menjadi calon gubernur, enam bulan lalu, banyak pendukung dan pemuja Anies yang terkaget-kaget atas perubahan junjungan mereka. Beberapa dari mereka menuliskan surat terbuka bernada kecewa. Retorika Anies yang di masa lalu sangat moderat, tawasuth, di tengah-tengah, adem, berubah menjadi condong kanan, konservatif, dan meradang-menerjang.

Mereka menyayangkan Anies yang sowan ke Markas Besar Front Pembela Islam yang seringkali mempromosikan intoleransi dan gemar main hakim sendiri. Mereka menyayangkan Anies yang menyebut Rizieq Shihab, Imam Besar FPI, sebagai guru. Mereka menyesalkan Anies yang mengaku telah menjadi pemadam kebakaran di Universitas Paramadina—yang selama ini mempromosikan Islam yang terbuka dan berwajah ramah. Nurcholis Madjid mendirikan kampus Paramadina buat menyalakan api pemikiran Islam berkeadaban dan teologi keadilan. Oleh Anies, kampus ini disebut mengalami “kebakaran.”

Nurcholis pernah menerjemahkan kalimat taibah Laa Ilaaha illal laah: “Tiada tuhan selain Tuhan.” Ada tuhan dengan t kecil, dan ada Tuhan dengan t besar. Mungkin ada pula Anies dengan a besar dan anies dengan a kecil.

Anies yang mendirikan Indonesia Mengajar dan selalu bicara tentang “tenun kebangsaan” dan menghindari kata “perang” dalam pemilu adalah Anies dengan a besar. Sementara Anies yang datang ke markas FPI, rela bertindak dan berkata apa saja demi menang Pilkada; termasuk menjadikannya medan perang, adalah anies dengan a kecil.

Anies dengan a kecil ini pula berkebalikan dengan sematan dari sebuah kabel dari Kedubes AS di Jakarta, pada September 2009, yang menyebutnya "muslim moderat yang termasyhur."

Baca juga artikel terkait PILGUB DKI JAKARTA 2017 atau tulisan lainnya dari Arlian Buana

tirto.id - Politik
Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Fahri Salam