tirto.id - Sejumlah anggota Komisi XI DPR RI mencecar dewan gubernur Bank Indonesia terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Dolfie Othniel Frederic Palit menilai, depresiasi rupiah terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan tak pernah berada di posisi fundamental ekonomi pada periode 2014-2025.
Menurut dia, kondisi tersebut bahkan terjadi baik sebelum maupun sesudah pandemi Covid-19 atau pada 2020-2022. "Lalau kita lihat Pak, riwayatnya dari 2014-2025, karena kita bicara kinerja [BI] 2025, memang kita enggak pernah berada pada situasi fundamental ekonomi rupiah yang pas," kata Dolfie dalam rapat kerja bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia juga mempertanyakan apakah BI memang sengaja membiarkan rupiah berada dalam kondisi undervalued. "Nah, kalau kita lihat dari 2014-2026, stabilitas yang terjadi rupiah melemah, bukan stabilitas rupiah menguat atau mendekat pada nilai fundamentalnya," tutur Dolfie.
Selain Dolfie, anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio turut mengkritik BI atas kondisi pelemahan rupiah. Ia menyebutkan, kondisi rupiah saat ini menjadi anomali di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Terlebih, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang negara lain. Misalnya, dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, Euro, dan lainnya. "Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar," ujar Primus.
"Kalau dibandingkan dengan Dolar, sekarang selalu perbandingannya dengan Dolar, tapi faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Real, apalagi Hong Kong Dolar, Euro," lanjut dia.
Primus pun menilai, kondisi tersebut membuat kredibilitas BI dipertanyakan publik maupun pelaku pasar global. Dalam kesempatan itu, ia meminta Perry Warjiyo mempertimbangkan untuk mundur dari jabatan Gubernur BI. Langkah tersebut dinilai bukan sebagai bentuk penghinaan, melainkan sikap tanggung jawab atas melemahnya rupiah.
"Apa yang terjadi saat ini, menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah mengesampingkan kredibilitasnya," kata Primus.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































