tirto.id - Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merevisi ke atas proyeksi ekonomi Indonesia menjadi 4,9 persen di 2025 dan 2026. Padahal, sebelumnya OECD meramal ekonomi Indonesia akan tumbuh di level 4,7 persen pada 2025 dan 4,8 persen di 2026.
Menanggapi proyeksi tersebut, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Sehingga, apabila kondisi dunia baik, ekonomi Indonesia juga akan tumbuh dengan baik.
“Ya, kita lihat dulu ke depannya. Kalau global baik, Indonesia baik,” katanya kepada awak media, usai acara Kagama Leaders Forum, di Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).
Terlepas dari itu, Airlangga menilai, jika pada saat Belanda menguasai Indonesia pada abad ke-16, selama 3,5 abad Indonesia bisa menjadi negara super power karena harga komoditas yang tinggi. Bahkan, pada tahun 1970-an, Indonesia pernah mencapai swasembada energi karena lonjakan harga minyak mentah dunia.
“Di tahun 2000-an kita kuat dengan sawit, hilirisasi,” tambahnya.
Namun, alih-alih terus berpangku tangan pada komoditas sumber daya alam, sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan digitalisasi lah yang akan menjadi mesin pertumbuhan utama ekonomi Indonesia. Bahkan, dengan dua hal tersebut, Airlangga yakin Indonesia bisa menyaingi Jepang, Korea Selatan dan Cina yang kini dikenali sebagai negara maju karena teknologi.
“Itulah yang membuat kita nanti menjadi lima besar ekonomi di 2045,” tegas dia.
Sementara itu, melalui OECD Economic Outlook – Interim Report September 2025, lembaga keuangan dunia itu merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini dan tahun 2026 karena manuver kebijakan moneter, investasi publik yang menguat, serta konsumsi domestik yang tangguh.
Kendati menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, OECD juga mengingatkan risiko inflasi yang diperkirakan naik dari 1,9 persen pada 2025 menjadi 2,7 persen di 2026.
“Kenaikan inflasi diproyeksikan terjadi di Indonesia, karena depresiasi nilai tukar sebelumnya memengaruhi harga domestik," tulis OECD dalam laporannya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id







































