tirto.id - Amerika Serikat tampaknya tak henti menebar pengaruhnya di panggung global. Setelah operasi militer yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang memicu gelombang kritik internasional, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang memicu spekulasi baru soal target intervensi berikutnya.
Berbagai alasan klasik — seperti perang melawan narkoba, alasan kemanusiaan, hingga memperkuat posisi strategis Washington — kembali dijadikan landasan retorika untuk mencaplok atau menekan negara-negara berdaulat lainnya. Pernyataan Trump ini kemudian diperkuat oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menegaskan bahwa langkah AS tidak akan berhenti hanya pada Venezuela saja.
Lantas, negara mana saja yang menjadi sasaran empuk Amreka Serikat kali ini?

Wilayah yang Berpotensi Diintervensi Amerika Serikat usai Venezuela
Intervensi AS terhadap Venezuela telah menjadi peristiwa geopolitik besar pada awal 2026 dan memunculkan kekhawatiran baru bahwa Washington kini menerapkan kembali Doktrin Monroe — doktrin yang dikemukakan dua abad lalu oleh Monroe, yang potretnya tergantung di dekat meja Trump.
Doktrin Monroe memperingatkan kekuatan Eropa agar tidak melakukan kolonisasi atau campur tangan lebih lanjut di Belahan Bumi Barat, menegaskan bahwa wilayah tersebut tidak lagi terbuka untuk ambisi dunia lama dan akan dianggap sebagai wilayah kepentingan AS.
Kebijakan ini digunakan sebagai landasan sekaligus pembenaran untuk intervensi di Amerika Latin. Aksi Trump belakangan ini dinilai menghidupkan kembali versi modern dari Doktrin Monroe.
Dalam berbagai kesempatan, Trump secara terbuka menyinggung kemungkinan tindakan keras atau bahkan pengambilalihan wilayah lain yang dinilai strategis oleh Washington.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini merupakan beberapa wilayah yang berpotensi diintervensi AS usai Venezuela:
1. Greenland
Greenland kembali menjadi sorotan setelah Trump menyatakan bahwa AS “membutuhkan” pulau besar ini untuk alasan keamanan nasional di kawasan Arktik.Trump dan pejabat AS mengklaim bahwa Rusia dan Cina semakin aktif di perairan sekitar Greenland, sehingga Amerika harus mengambil alih kendali strategis pulau tersebut.
"Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional. Letaknya sangat strategis. Saat ini, Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan Cina di mana-mana," kata Trump pada Minggu (4/1/2026) dikutip CBS.
Namun langkah ini jelas menimbulkan kekhawatiran besar bagi Denmark dan sekutu NATO lainnya, yang menegaskan bahwa Greenland bukan untuk dijual dan setiap usaha aneksasi akan melanggar hukum internasional.
2. Iran
Ketegangan Washington–Teheran kembali memanas akibat gelombang demonstrasi besar di Iran dan pernyataan Trump yang mengancam akan menjatuhkan hukuman berat jika pemerintah Iran melakukan pembunuhan massal terhadap demonstran."Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat hukuman yang sangat berat dari Amerika Serikat," kata Trump.
Meskipun tidak secara tegas menyatakan rencana invasi, retorika ini membuka kemungkinan tekanan atau intervensi militer jika situasi dalam negeri Iran dianggap mengancam kepentingan AS.

3. Kolombia
Presiden AS menuduh pemerintahan Kolombia di bawah Gustavo Petro terlibat dalam produksi dan perdagangan kokain ke Amerika Serikat. Trump bahkan mengatakan bahwa operasi militer terhadap Kolombia “kedengarannya bagus” bagi dirinya ketika ditanya wartawan."Kedengarannya bagus buat saya," kata Trump dikutip CNA.
Pernyataan semacam ini menunjukkan potensi eskalasi yang bisa memicu intervensi atau tindakan militer terhadap pemerintah Bogota.
4. Kuba
Kuba kembali disebut-sebut oleh Trump sebagai negara yang “gagal” dan berada di ambang kehancuran setelah hilangnya dukungan ekonomi dari Venezuela.Presiden AS menyatakan keinginan “membantu orang-orang di Kuba”, sebuah retorika yang kerap menjadi pembenaran bagi tindakan luar negeri agresif.
"Kami ingin membantu orang-orang di Kuba tetapi kami juga ingin membantu orang-orang yang dipaksa keluar dari Kuba dan tinggal di negara ini [AS]," kata Trump dikutip Times of India dari Fox News, Minggu (4/1/2026)
Meskipun tidak ada rencana invasi langsung, tekanan politik dan ekonomi kemungkinan akan meningkat.
5. Kanada
Hubungan perdagangan antara AS dan Kanada memanas sejak Trump menaikkan tarif impor tinggi sebesar 35 persen terhadap Kanada dan menimbulkan ancaman penghentian negosiasi dagang usai iklan anti-tarif AS muncul di Ontario.Selain itu, Trump bahkan pernah mengisyaratkan gagasan menjadikan Kanada sebagai “negara bagian ke-51” dalam retorika yang provokatif. Meskipun lebih bersifat retorik daripada kebijakan resmi, ketegangan ini menunjukkan nada agresif terhadap sekutu utara.
6. Terusan Panama
Terusan Panama — jalur penting perdagangan dunia — juga menjadi objek yang diincar oleh Washington. Trump pernah mengeklaim pada Maret 2025 bahwa ia perlu merebut kembali Terusan Panama, baik melalui pembelian saham atau tekanan lain meskipun ditentang pemerintah Panama sendiri.Kendali atas terusan Panama ini akan memberi AS dominasi strategis atas jalur pelayaran global yang tentu saja menguntungkan pihak AS sendiri.
7. Meksiko
Retorika Trump terhadap Meksiko semakin tajam setelah ia menuduh negara tersebut dikuasai kartel narkoba dan menyatakan bahwa Presiden Claudia Sheinbaum tidak dapat mengendalikan negaranya.Menurut Trump, Claudia menolak usulannya untuk menindak para kartel narkoba di Meksiko. Kemudian Trump menegaskan “kami harus melakukan sesuatu”, yang membuka pintu bagi kemungkinan tindakan militer atau penguatan operasi kontra-narkotika di wilayah Meksiko.
Pernyataan dan tindakan terbaru dari pemerintahan AS menunjukkan peningkatan retorika agresif di panggung global, yang dapat menimbulkan ketegangan lebih lanjut dengan berbagai negara berdaulat.
Meski banyak dari ancaman ini masih berupa retorika politik, ancaman nyata terhadap kedaulatan dan stabilitas beberapa negara tak bisa diabaikan begitu saja.
Baca berita terkini seputar permasalahan global lainnya melalui tautan di bawah ini:
Penulis: Robiatul Kamelia
Editor: Robiatul Kamelia & Yantina Debora
Masuk tirto.id






































