tirto.id - Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai dampak konflik Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela terhadap Indonesia saat ini masih terbatas
Meski begitu, menurut Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, risiko terhadap Indonesia ataupun negara-negara lain di dunia akan sangat bergantung pada transisi pemerintahan di Venezuela, apakah bisa berjalan mulus atau sebaliknya.
"Permasalahannya apakah transisi pemerintahan di Venezuela berjalan mulus atau tidak," ujar dia, dalam Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial dan Politik, dikutip dari akun YouTube CSIS, Rabu (7/1/2026).
Masalah akan menjadi besar ketika pemerintahan Venezuela diambil alih oleh Presiden AS Donald Trump, di tengah gejolak yang dialami Iran. Pasalnya, jika konflik-konflik geopolitik meletus berbarengan, pasokan harga minyak dunia berpotensi terhambat dan mengerek harga minyak dunia.
"Yang dikhawatirkan, misalnya jika Venezuela berada di bawah kendali Presiden Trump, sementara Iran juga tengah bergejolak. Jika konflik-konflik ini meletup dan menghambat pasokan minyak dunia, barulah situasinya menjadi mengkhawatirkan. Namun sejauh ini dampaknya masih terbatas,” tambah Deni.
Terlepas dari itu, Deni menilai konflik antara AS dengan Venezuela terjadi karena hubungan rivalitas AS dengan Cina. Dalam hal ini, AS mencoba menguasai cadangan minyak yang dimiliki oleh Venezuela agar pasokan ke Cina berkurang.
Sebagai informasi, Venezuela memiliki cadangan minyak dan emas besar yang selama ini menjadi salah satu sumber energi penting bagi Cina.
"Amerika Serikat mencoba menguasai minyak tersebut agar suplai ke China berkurang. Ini merupakan upaya untuk menyeimbangkan posisi China,” tuturnya.
Pada saat yang sama, AS juga berkepentingan untuk menjaga dominasi dolar, di tengah upaya sejumlah negara seperti Cina, Rusia, dan negara lain yang tergabung dalam BRICS untuk memperluas transaksi minyak menggunakan mata uang non-dolar.
“Untuk menghindari hal tersebut, AS mencaplok Venezuela agar dolar tetap menjadi mata uang utama sekaligus mengamankan pasokan minyak," jelas Deni.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































