tirto.id - Kementerian Pertahanan Jepang mengumumkan bahwa Korea Utara meluncurkan setidaknya dua rudal balistik pada Minggu (4/1/2025) pagi. Menurut NHK World Japan, rudal-rudal tersebut ditembakkan dari wilayah dekat pantai barat Korea Utara ke arah timur.
Satu rudal dilaporkan diluncurkan sekitar pukul 07.54 WIB dan menempuh jarak sekitar 900 kilometer dengan ketinggian sekitar 50 kilometer. Rudal kedua diluncurkan sekitar pukul 08.05 WIB dengan jarak sekitar 950 kilometer dan ketinggian serupa. Kementerian menambahkan bahwa rudal-rudal ini kemungkinan terbang dalam lintasan yang tidak biasa.
Rudal-rudal tersebut diyakini jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang, dan hingga kini belum ada laporan kerusakan pada pesawat maupun kapal.
Menteri Pertahanan Jepang, Koizumi Shinjiro, menegaskan bahwa peluncuran rudal balistik ini melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan merupakan masalah serius yang mengancam keselamatan publik. Pemerintah Jepang telah menyampaikan protes keras kepada Korea Utara dan mengecam tindakan tersebut melalui saluran diplomatik.
Koizumi menambahkan, untuk melindungi nyawa dan aset masyarakat, Jepang akan bekerja sama erat dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan, serta melakukan upaya maksimal dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi serta memantau situasi. Ini merupakan peluncuran rudal balistik pertama Korea Utara sejak 7 November.
Mengutip Reuters, peluncuran ini adalah yang pertama dalam dua bulan dan meningkatkan ketegangan global, menyusul serangan Presiden AS Donald Trump di Venezuela yang menewaskan dan menangkap Presiden Nicolás Maduro.
Korea Utara mengecam tindakan AS, menuduh Washington “secara liar melanggar kedaulatan Venezuela” dan menyebutnya sebagai bukti “sifat nakal dan brutal AS.”
Rudal-rudal ini ditembakkan beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, memulai kunjungan kenegaraan ke China untuk mempromosikan perdamaian di Semenanjung Korea dalam pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping.
Peluncuran dari Pyongyang menuju laut di antara Korea dan Jepang dianggap sebagai “pesan kepada China untuk menahan hubungan yang lebih dekat dengan Korea Selatan dan menentang sikap China mengenai denuklirisasi,” kata Lim Eul-chul, profesor di Institute for Far Eastern Studies, Seoul.
Lim menambahkan, Korea Utara ingin menegaskan bahwa “kami berbeda dari Venezuela”—sebagai kekuatan nuklir dan militer, siap merespons dengan “pencegahan agresif.”
Merujuk pada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, Bong Youngshik, profesor tamu di Universitas Yonsei, mengatakan: “Setelah melihat apa yang terjadi di Venezuela saat ini, orang yang paling takut adalah Kim Jong Un,”
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































