Menuju konten utama

"Yang Menggerakkan Pasar Modal Itu Investor Ritel"

"Mereka jangan lupa bahwa yang menggerakkan pasar itu bukan Bursa Efek, yang menggerakkan market itu adalah investor, terutama investor ritel."

Header Wansus Reza Priyambada. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Indonesia baru saja mencatatkan tonggak sejarah baru dengan menembusnya angka 20,32 juta investor di pasar modal pada 2025, sebuah lonjakan yang didominasi oleh wajah-wajah baru dari kalangan ritel dan generasi muda. Namun, di balik angka-angka yang memukau ini, muncul sebuah realitas baru di era digital: banjirnya informasi investasi yang berseliweran di layar ponsel kita setiap detiknya.

Panggung pasar modal kita kini diramaikan oleh fenomena 'Finfluencer' atau influencer keuangan yang sering kali menyajikan konten-konten tentang keuangan dan investasi. Di satu sisi, mereka adalah motor penggerak literasi yang masif. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran besar: maraknya rekomendasi saham tanpa dasar analisis yang kuat, minim kredibilitas, bahkan cenderung menjadi ajakan spekulatif yang berisiko merugikan investor pemula.

Lantas, apakah ledakan investor ritel di tengah kepungan konten digital ini adalah peluang emas bagi kedalaman pasar kita, atau justru menjadi tantangan besar yang menyimpan bom waktu bagi ekosistem investasi nasional?

Berikut adalah hasil wawancara dengan Director PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, terkait bagaimana pengaruh influencer saham yang tidak kredibel dan apa saja yang harus dilakukan otoritas pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjaga agar investor saham, khususnya anak-anak muda yang baru berinvestasi.

Pada tahun ini Bursa menargetkan tambahan investor ritel sebanyak 2 juta SID, setelah di akhir tahun lalu jumlahnya mencapai 20,32 juta SID. Sebenarnya, seberapa penting keberadaan investor ritel sehingga BEI terus memacu pertumbuhan kelompok investor ini?

Kalau kita lihat dari… yang namanya investor di pasar modal itu kan tentu itu yang kita harap. Jadi, untuk melihat apakah pasar modal di negara tersebut berkembang atau tidak, maju atau tidak, itu kan tentu kita juga harus melihat investor yang masuk ke pasar modal itu sudah berapa banyak.

Terus kemudian dibandingkan dengan jumlah penduduk. Jadi, misalnya jumlah penduduk Indonesia anggaplah misalkan ada 250 juta penduduk. Tapi yang masuk ke pasar modal misalnya nih baru... ya anggaplah 10 juta. Itu kan berarti kan baru berapa persennya gitu lho yang tercatat sebagai investor di pasar modal.

Kecuali kalau misalkan jumlah penduduk kita 250 juta, anggaplah misalkan dari 250 juta yang usianya produktif, anggaplah yang usianya produktif 150 juta. Tapi, dari 150 juta usia produktif sudah tercatat di KSEI itu ada 100 juta investor. Itu kan berarti kan pertumbuhan atau perkembangan pasar modal Indonesia sangat bagus. Artinya, literasi keuangan, pemahaman penduduk Indonesia terhadap pasar modal itu kan cukup tinggi.

Dan ini pun juga bisa kita lihat sebagai pendalaman pasar juga. Artinya, seberapa banyak sih masyarakat Indonesia itu yang istilahnya itu yang melek investasi, seperti itu. Jadi kalau ditanyakan seberapa penting investor di pasar modal, terutama investor ritel di pasar modal, ya kalau kita bisa katakan, ya sangat penting. Karena mereka ini yang menggerakkan pasar modal tersebut.

Pembukaan perdagangan saham awal tahun 2026

Warga memantau pergerakan saham melalui gawainya usai pembukaan perdagangan saham 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/1/2026). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/YU

Misalkan, inilah transaksi bursa segala macam. Mungkin Bursa Efek boleh berbangga hati, bahwa transaksi kita tahun 2025 mengalami peningkatan 30 persen, segala macam. Kita sudah melakukan pendalaman pasar melalui literasi keuangan dan sebagainya dan sejumlah pencapaian lainnya.

Tapi, mereka jangan lupa bahwa yang menggerakkan pasar itu bukan Bursa Efek, yang menggerakkan market itu adalah investor, terutama investor ritel.

Jadi, seperti yang saya bilang, Bursa Efek mungkin boleh berbangga hati bahwa data-data transaksi mengalami peningkatan, mereka punya produk baik itu di equity, obligasi, maupun produk derivatifnya banyak ditransaksikan. Tapi, siapa yang menopang? Yang menopang itu ya investor. Investor itu yang mana adalah masyarakat Indonesia. Jadi tanpa adanya investor, pasar modal kita itu nggak ada apa-apanya. Bursa Efek pun juga, mereka kan hanya wadah. Kemudian OJK, mereka fungsinya hanya sebagai pengawas maupun regulator saja. Transaksi bukan dari mereka. Itu yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan data OJK tahun 2022, sebanyak 75,10 persen investor mengandalkan media sosial untuk mengakses informasi di pasar modal. Banyak investor pemula yang masuk ke pasar saham juga berdasarkan pengaruh dari influencer keuangan. Kalau menurut Bapak, hal ini bagaimana?

Ya, bisa dibilang seperti itu. Cuma, kalau mau lebih detail, mungkin kita perlu lihat lagi data-data pendukungnya.

Tapi memang dengan perkembangan media sosial yang ada, kemudian juga bermunculan banyak pihak yang memberikan paparannya tentang pasar modal, itu juga mendukung peningkatan perkembangan investor. Cuma memang perlu diperhatikan juga, apakah pihak-pihak yang memberikan paparan tersebut kredibilitasnya ada atau tidak.

Ini yang mungkin perlu juga menjadi literasi tambahan. Karena kebanyakan pengguna medsos itu kan kebanyakan kan anak-anak muda, atau katakanlah orang yang melek gadget. Artinya, semua informasi, apa segala macam itu semua ada di gadget. Cuma memang filterisasinya itu yang mungkin harus dicermati.

Nah, orang membuat konten tentang trading saham, atau segala macam itu kan harusnya ada dasarnya. Tapi, sampai saat ini kita kan nggak pernah tahu latar belakang dia apa. Bisa saja, misalkan saya orang awam, karena ingin dikenal, terus saya bikin konten.

Saya bikin konten, misalkan saya berdiri di samping BMW seri 5 misalkan. ‘Ini teman-teman lumayan nih, hasil dari trading Bumi Resource nih, bisa beli BMW seri 5.’ Padahal bisa saja BMW seri 5 itu bukan milik saya. Tapi, itu karena kekuatan media sosial itu yang mempengaruhi banyak orang.

Orang yang menonton itu akhirnya kan tertarik. Wah, ini si konten kreator Reza aja bisa trading dapet BMW, masa gue nggak bisa sih? Nah, akhirnya kan dia tertarik buka akun segala macam.

Tapi kan orang yang buka akun itu kan belum tentu teredukasi dengan baik. Tapi, kalau tadi dikatakan, apakah ada pengaruhnya dari banyaknya media sosial, banyaknya influencer dadakan segala macam, saya bilang iya. Betul, karena mereka bisa menampilkan konten-konten yang menarik dibandingkan dengan sekolah pasar modal.

Sekolah pasar modal Bursa Efek itu mungkin pembawaannya agak kaku, atau misalkan sosialisasi OJK. OJK lagi kan bicara tentang peraturan ini segala macam, itu yang mungkin nggak ngena di masyarakat kita yang katakanlah kebanyakan anak-anak muda yang masuk ke pasar modal.

Ibaratnya, kayak sekarang ini yang kasus lagi ada. Masa seorang Timothy Ronald lebih banyak diminati oleh anak-anak muda dibandingkan Pak Ketua OJK, Pak Mahendra Siregar? Padahal Pak Siregar jauh lebih berbobot, lebih kredibel sebagai OJK segala macam, sebagai regulator.

Mahendra Siregar

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat (10/10/2025). tirto.id/Natania Longdong

Tapi, buat anak-anak muda penyampaiannya agak kaku. Makanya, model Timothy Ronald itu lebih menarik dibandingkan pembawaan yang dilakukan oleh regulator yang pembawaannya lebih kaku. Walaupun mungkin yang disampaikan oleh OJK maupun oleh Bursa, kalau dari sisi kekuatan hukum kan harusnya lebih kredibel, lebih baik, lebih ada legalitasnya. Tapi, ya masyarakat kita, terutama yang anak muda itu, kan penuh dengan konten-konten seperti itu.

Apakah menjamurnya influencer keuangan, terus juga kasus-kasus kayak yang terjadi pada Timothy Ronald itu karena nihilnya aturan soal influencer keuangan di Indonesia? Beda banget sama Singapura yang mana aturannya itu mewajibkan influencer punya sertifikasi gitu, Pak?

Balik lagi seperti yang tadi di awal saya bilang. Kalau di kita itu belum sampai ke sananya, dan masyarakat kita itu terpengaruh media sosialnya itu cukup tinggi.

Jadi, apalagi anak-anak sekarang yang kayak katakanlah apa-apa bikin konten. Kalau kayak kita-kita orang-orang dulu kan, kita mikirnya kalau mau kaya ya investasi secara bertahap atau nabung gitu kan. Atau misalkan cari pekerjaan yang katakanlah digaji lebih tinggi. Jadi ada prosesnya gitu. Kalau sekarang kan ini lebih maunya instan gitu lho. Karena mereka terpengaruh dengan media sosial tadi.

Pengaruh-pengaruh dari situnya itu cukup kuat. Akhirnya kan orang jadi tertarik. Itu yang sampai dengan saat ini belum pernah diperhatikan. Bahwa yang namanya influencer itu harus bersertifikasi, harus bisa mempertanggungjawabkan kontennya.

Makanya, mulai ada IG segala macam itu sebenarnya bagus buat penyebaran informasi. Cuma, makin lama saya melihatnya ini IG ini kok makin hari ya makin liar. Terutama untuk konten-konten yang harusnya spesifik, ini kok orang dengan mudahnya bikin konten tentang trading saham lah, terus ada yang pakai IG untuk dia bisa jualan tools untuk bisa ngelihat chart-nya. Sementara di sisi lain teman-teman lainnya mungkin berusaha dengan keras nih, ngambil sertifikasi lah gitu kan. Entah itu sertifikasi CEFA lah, atau sertifikasi securities analyst lah, segala macam lah gitu kan. Nah, itu yang kadang miris ngelihatnya.

Masa influencer dadakan tuh lebih dipercaya daripada analis yang memang dia punya background-nya secara pendidikan, misalkan punya background keuangan atau misalkan punya background akuntansi atau matematika keuangan, atau punya sertifikasi.

Berarti karena konten-konten itu juga yang bikin investor ritel pemula lebih cenderung FOMO?

Iya, saya bilang lebih cenderung seperti itu. Karena ya tadi balik lagi ke masalah kekuatan dari media sosial tadi kan, orang kan lebih cenderung ke sana. Dan memang influencer-influencer dadakan ini kan memang hidupnya dari bikin konten apa segala macam. Karena kan dia memang nyari follower. Jadi mau nggak mau, dia akan bikin konten ini, itu, segala macam. Sehingga, orang akan tertarik menjadi follower-nya dia.

Ilustrasi Influencer

Ilustrasi Influencer. FOTO/iStockphoto

Saya nggak tahu, mungkin kayak misalkan di YouTube itu kan kalau sudah mencapai subscriber berapa, ada apresiasi dari YouTube-nya. Makanya kan dalam perkembangannya, kalau kita lihat banyak orang yang bikin podcast ini, itu, apa segala macam. Walaupun belum tentu podcast yang ada itu kredibilitasnya terjamin. Dan saya nggak tahu, apakah semua podcast itu ada isinya apa enggak. Karena kan cuma ngobrol-ngobrol.

Tiba-tiba jadi podcast diadakan, tiba-tiba bisa posting ini tentang pasar modal, tentang ekonomi. Kita juga nggak tahu ini orang sebenarnya ada kredibilitasnya atau enggak sih? Nah, ditambah lagi dengan adanya ini kan, dengan adanya AI, itu kan seperti konten itu, kemudahan-kemudahan yang orang itu jadi kreator, tapi kredibilitasnya belum tentu ada.

Menurut pandangan Bapak, upaya edukasi dari Bursa dan OJK ke masyarakat tentang pasar saham itu seperti apa sampai saat ini? Apakah sudah cukup atau perlu ditingkatkan lagi supaya investor di pasar modal itu bisa berkualitas?

Ini memang jadi PR buat OJK maupun Bursa, terkait dengan upaya peningkatan literasi keuangan.

Nah, sekarang boleh dibilang eranya itu sudah kandung dengan media sosial. Mungkin, ada baiknya kalau ibaratnya bikin konten sendiri atau segala macam, mungkin belum tentu masyarakat dan investor muda itu melihat. Kenapa nggak influencer-influencer ini kita bina saja? Kita bina itu maksudnya ajak mereka kolab. Karena, influencer-influencer dadakan ini kan boleh dibilang, mereka sudah berhasil meningkatkan follower-nya. Follower-nya mereka itu mungkin jauh lebih tinggi dibandingkan dengan follower-nya OJK maupun Bursa. Jadi, ibaratnya kayak perusahaan, itu mending kita akuisisi saja.

Jadi seperti yang saya bilang, baik Bursa maupun OJK, ya kolab saja dengan mereka. Tapi, kolabnya itu, tadi mereka harus dikasih pendidikan yang benar tentang saham, terus sambil mereka juga diawasin. Artinya diawasin itu, ya lu kalau bikin konten itu konten yang benar. Jangan konten yang menjerumuskan. Walaupun keputusan akhir memang di tangan investor.

IHSG ditutup menguat

Seorang pria memotret layar digital pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (21/2/2025). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/rwa.

Tapi kan tadi, kita lebih menjaga supaya jangan ada investor-investor, terutama investor-investor baru ini, yang terjerumus ke hal-hal yang tidak diketahui. Makanya, pengawasan terhadap konten itu juga harus diperhatiin sih kalau menurut saya.

Ya ibaratnya kayak OJK ngawasin perusahaan efek lah. Maksudnya perusahaan efek ini, kegiatan perusahaan ini benar nggak? Terus melaporkan perusahaan efek ini sudah melakukan apa saja? Melaporkan terkait dengan pelaporan-pelaporan segala macam. Itu juga harus diberlakukan ke influencer-influencer ini kalau mau kita bikin pasar modal itu teredukasi dengan baik di masyarakat.

Memang ini akan menjadi PR. Karena kalau kita lihat di IG atau di TikTok saja, influencer kan banyak banget. Tapi ini memang harus dilakukan dan harus terpantau.

Kita nggak bisa membatasin ide atau kreativitas orang. Tapi, paling nggak dari berbagai macam postingan segala macam, harusnya OJK dan Bursa itu bisa melihat postingan ini benar nggak? Kalau misalkan kurang memberikan edukasi, dipanggil saja.

Sama seperti perusahaan efek, kalau misalkan ada pelaporan yang tidak di-submit, atau misalkan dia melihat ada indikasi ketidaksesuaian atau pelanggaran, dia pasti akan menyurati perusahaan efek. Nah, ini kalau mau membuat iklim pasar modal literasinya itu baik, ya harus dibuat seperti itu. Karena kalau nggak, nanti akan banyak influencer-influencer liar lain yang bermunculan.

Artinya kan dengan pembinaan segala macam, orang yang mau, atau katakanlah oknum yang mau memanfaatkan medsos itu untuk hanya sekadar cari follower, dia pasti akan mikir-mikir. Ini kalau gue bikin konten nggak benar, nanti gue dipanggil OJK. Itu yang harus diperhatikan.

Terlepas dari itu, tantangan baik dalam maupun luar negeri di pasar modal itu apa saja?

Kalau kita bicara mengenai tantangan, tentu sentimen di market masih menjadi perhatian pelaku pasar. Sentimen di market, kalau kita bicara tantangan di luar yang tadi kita bahas itu, terutama pengaruh global. Global ini juga banyak ketidakpastian. Misalkan ketidakpastian justru datang dari Amerika: ketidakpastian (kebijakan suku bunga) The Fed, ketidakpastian kebijakan dari Trump. Kita juga nggak tahu, apakah dia masih memberlakukan kebijakan tarif atau nggak. Belum lagi geopolitik di sejumlah kawasan.

Sebelumnya mungkin kita hanya mengkhawatirkan serangan Israel ke Gaza, atau khawatirkan serangan Rusia atau Ukraina. Sekarang dengan kemarin Amerika bisa menggulingkan pemerintahan Venezuela, orang jadi memikirkan ini, setelah Venezuela mana lagi yang akan digulingkan.

Tetap pelaku pasar akan melihat negara-negara mana yang punya potensi. Potensi itu misalkan negara-negara mana yang punya sumber daya alam yang melimpah, yang mungkin menjadi perhatian dari Amerika. Greenland saja kan jadi persoalan, pasti ada sesuatu di Greenland. Sehingga, mereka tertarik untuk “mau ngurusin Greenland”. Kalau dari tantangan di Amerika.

Peta Greenland

Peta Greenland. foto/https://svs.gsfc.nasa.gov/

Kalau dari dalam negeri, tentunya yang menjadi perhatian adalah realisasi kebijakan pemerintah. Bagaimana upaya pemerintah untuk merealisasikan berbagai macam kebijakan, kemudian bagaimana pemerintah berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan sebagainya. Kemudian, mungkin pemberantasan korupsi dan sebagainya, penanganan hukum. Itu kan masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Saat ini kan OJK lagi menggodok aturan terkait influencer pasar keuangan. Kalau dari Pak Reza, ada saran untuk OJK? Agar bagaimana mereka bisa benar-benar efektif untuk melindungi investor ritel, tapi sekaligus juga untuk bisa meningkatkan pasar modal di Indonesia?

Ya, kurang lebih seperti yang tadi sudah kita bahas. Keberadaan influencer ini kan sudah kadung ada. Dan nggak mungkin dibatasi, kecuali kalau mau saklek-saklekkan ya bikin aturan yang saklek. Maksudnya gini, lu kalau mau jadi influencer, lu harus terdaftar di OJK, harus ngambil sertifikasi. Itu baru bikin aturan yang saklek.

Tapi, apakah itu memungkinkan atau tidak? Karena kalau itu dimungkinkan, mungkin pengawasan akan lebih efektif. Artinya, saya kalau mau bikin konten segala macam, tentu saya harus terdaftar dulu di OJK, harus ngambil sertifikasi. OJK akan jauh lebih efektif pengawasannya. Tapi bisa nggak itu dilakukan? Itu kan masih menjadi pertanyaannya.

Atau kalau nggak seperti tadi, influencer-influencer ini karena sudah terlanjur ada, maka yang bisa dilakukan tadi, merangkul mereka sekaligus membina mereka supaya bisa membuat konten yang benar. Mengarahkan mereka untuk memberikan edukasi yang baik, tanpa ada yang ditutupi dan sebagainya. Kalau perlu, si investor ini pun juga harus jelas orangnya.

Jelas orangnya itu gimana, Pak?

Artinya harus jelas orangnya itu, harus jelas bahwa dia memang punya pengetahuan yang baik tentang pasar modal, tentang keuangan. Ibaratnya, jangan sampai misalkan saya nih, background-nya sastra, terus karena ngambil prompter dari AI tentang trading saham, terus saya langsung bikin konten. Itu kan nggak make sense gitu.

Tapi kalau misalkan saya punya background, pernah kuliah di keuangan, atau misalkan pernah kuliah eksak, ngambil matematika, masih ada yang nyambung bahas tentang saham, bahas tentang obligasi, nah itu bisa bikin konten.

Jadi pembinaannya itu seperti itu. Tapi kalau mau tegas, ya tegas sekalian. Caranya seperti tadi, tapi memang akan memaksa.

Investor pasar modal Indonesia

Warga mengakses data saham dari perangkat laptop dan gawai di Jakarta, Selasa (11/2/2025)ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.

Misalkan, kita di perusahaan efek ini, kita untuk bisa bekerja di perusahaan efek harus ada izin, walaupun kita hanya sebagai tenaga pemasar, minimal harus ada izin wakil perantara pedagang efek, pemasaran. Dan itu lisensi yang mau nggak mau kita harus ambil. Nah, ini apakah mau diberlakukan seperti itu untuk influencer-influencer? Kalau ditanya apakah ini memungkinkan, ya memungkinkan.

Tapi tadi, dari OJK maupun Bursa tentu akan ada effort tambahan untuk meng-encourage mereka, tadi ambil sertifikasi ini atau segala macam.

Tapi setelah berjalan akan lebih mudah di pengawasannya?

Oh iya, iya, iya. Pasti akan lebih mudah. Kayak misalkan kami di perusahaan sekuritas, itu kan tiap bulan itu ada pelaporan, pelaporan berapa jumlah pegawai yang memiliki lisensi, berapa jumlah pegawai yang tidak memiliki lisensi. Nah, itu kalau misalkan OJK melihat bahwa oh ternyata ini pegawai dia misalkan jabatannya sebagai dealer, tapi nggak punya izin. Kami bisa kena sanksi.

Jadi, kalau mau saklek-saklekkan ya, sekalian saja influencer harus digituin juga. Biar influencer yang lain pun juga mikir gitu lho, nggak asal-asalan. Jangan asal juga mereka bikin konten tanpa ada dasarnya.

Baca juga artikel terkait INVESTOR atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Decode
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Farida Susanty