Menuju konten utama

Rentannya Investor Ritel terhadap Influencer Saham Abal-abal

Banyak investor pemula yang menanamkan modalnya di pasar modal karena takut ketinggalan (FOMO), tanpa benar-benar memahami soal investasi saham.

Rentannya Investor Ritel terhadap Influencer Saham Abal-abal
Header Decode Masa Depan Pasar Modal di Tangan Investor Ritel. tirto.id/Fuad

tirto.id - Januari 2026 terasa berbeda bagi Fransisca Octaviany (27). Sebagai seorang karyawan swasta di Jakarta yang sudah mulai mengoleksi emas sejak akhir 2024, ia biasanya sehari-hari merasa cukup “aman”.

Namun, pada pagi hari, saat membuka aplikasi pemantau harga, perempuan yang kerap disapa Vey itu cukup tercengang dengan angka yang muncul: Rp2,6 juta. Dua kali lipat lebih tinggi dari pertama kali ia membeli logam mulia, yang kala itu masih dipatok di kisaran Rp1,2 juta. Baginya, membeli emas di harga sekarang ini terasa seperti mengejar kereta yang sudah melaju terlalu cepat.

“Kalau beli sekarang, apa masih bisa naik lagi? Atau justru (harga saat ini) udah dipucuk?” katanya kepada Tirto, Selasa (20/1/2026), sambil mengulang kembali ingatannya di awal tahun.

Di tengah harga emas yang sudah ‘overheated’, Vey berpikir ulang tentang arah investasinya. Perempuan asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu kemudian melihat fenomena di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak cukup aktif, dalam artian positif. Bahkan, di sepanjang tahun ini, indeks diperkirakan akan naik ke level 9.000. Namun, satu hal yang menjadi ganjalan hati: Vey tak paham-paham amat cara kerja saham.

Ganjalan itulah yang kemudian membuat ia mengubah arah pencarian di ponsel pintarnya. Untuk beberapa malam, ia rajin menggulirkan layar ponselnya pada konten-konten tentang saham di berbagai macam platform media sosial (medsos).

“Nggak ada influencer khusus si yang aku pantengin, pokoknya semua konten di IG (Instagram), X, YouTube, bahkan Threads soal saham itu aku baca. Berharap cepet paham, tapi nyatanya ya nggak paham-paham banget juga,” ujar dia sambil terkekeh.

Vey tahu, ada banyak buku soal bagaimana cara berinvestasi saham bagi pemula. Bahkan, ada juga kelas khusus yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, itu semua nampak dingin dan kaku baginya. Ia lebih memilih belajar dari konten, dengan penyajian yang cukup mudah dimengerti.

“Dari situ, aku gabung ke grup diskusi di Telegram yang direkomendasiin temen juga. Di sana banyak banget yang share portofolio mereka. Nah, dari situ aku mulai mantab. Aku coba beli tuh sahamnya MDKA satu lot, sampai sekarang juga belum nambah si. Tanggal 8 itu aku beli,” tambahnya.

MDKA yang dimaksud Vey adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk, perusahaan yang bergerak dalam kegiatan usaha pertambangan.

Penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia tahun 2025

Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman (kedua kiri) bersama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi (kiri) mengikuti acara penutupan perdagangan BEI tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

Sama halnya dengan Vey, Rian Pratama juga membekali pengetahuannya tentang pasar saham dari berbagai konten medsos. Unggahan influencer keuangan (finfluencer) Andry Hakim menjadi salah satu yang sering ia lihat sembari rebahan di malam hari.

Selain konten medsos, laki-laki 29 tahun itu juga belajar saham melalui artikel di sejumlah platform media massa.

“Saham kan agak berat, dalam benakku waktu itu. Aku baru benar-benar mau investasi ketika mengenal cara kerja saham. Baru benar-benar main saham tahun lalu, Agustus atau September sambil baring nonton YouTube, scroll medsos tuh, banyak pembahasan mengenai saham. Cari tahu gitu, kan, baca-baca berita ekonomi mengenai rekomendasi saham, terus ngecek juga indeks harga saham,” kisahnya, kepada Tirto, Senin (19/1/2026).

Rian juga menekankan, kendati sedikit banyak ia terpengaruh oleh konten influencer saham, keputusan investasi telah dipikirkannya secara matang. Saat akan membeli saham dari suatu emiten, ia tidak hanya mendasarkannya pada rekomendasi dari para influencer, melainkan lebih memilih untuk melakukan riset terhadap kondisi bisnis sektor-sektor industri yang cukup dinamis.

IHSG ditutup melemah

Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (27/10) ditutup melemah 154,57 poin atau 1,87 persen ke level 8.117,15. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU

“Kadang tuh kita sebetulnya tau ini … apa namanya, ini penipuan gitu. Cuma, kita udah terjebak dengan FOMO gitu ya, akhirnya tergiur gitu loh. Tergiur dengan ngomongan si influencer, kembali ke diri kita juga sebetulnya. Nah, harusnya kan lo skeptis ya, dengan omongan si influencer ini,” tegas dia.

Kemudahan Akses Teknologi, Influencer dan Sikap FOMO Investor Pemula

Sebuah riset yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) yang berjudul ‘Laporan Kajian: Optimalisasi Publikasi Statistik’ tahun 2022, mengungkapkan, dari total 757 responden yang disurvei, 75,10 persen di antaranya memilih untuk mengakses informasi terkait pasar modal dari medsos, diikuti oleh aplikasi mobile yang dipilih oleh 73,41 persen responden.

Temuan ini disebut mengonfirmasi hasil wawancara mendalam di mana peran influencer dan Key Opinion Leader (KOL) menjadi dominan dalam menentukan preferensi para investor ini, menekankan pentingnya peran influencer.

Sejalan dengan itu, dari sekitar 661 responden berusia kurang dari 30 tahun, atau tergolong dalam generasi milenial dan Z (Gen MZ) 78,97 persen di antaranya lebih memilih mengakses informasi pasar modal melalui medsos, sementara 76,29 persen melalui aplikasi mobile.

“Ada teknologi dan informasi di mana investor retail juga bisa mengakses informasi dengan cepat dan mudah ya,” tutur Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta saat dihubungi Tirto, Selasa (20/1/2026).

Di balik masifnya perkembangan teknologi dan informasi, jumlah influencer di media sosial juga mengalami peningkatan. Influencer Marketing Hub memproyeksikan, pada 2025, setidaknya ada 863.517 influencer Instagram di Indonesia. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara kelima, dari 8 negara dengan jumlah influencer Instagram terbanyak di dunia.

Sayangnya, sampai saat ini tidak ada informasi resmi terkait berapa jumlah influencer keuangan yang ada di Tanah Air.

Berdasarkan ‘Laporan Kajian: Optimalisasi Publikasi Statistik’ yang disajikan BEI dan Lembaga Demografi UI, media sosial merupakan sarana yang digunakan influencer untuk menyebarkan informasi yang mereka peroleh. Selain itu, melalui media sosial juga, influencer dapat mengajak orang melakukan hal yang sama.

Bursa mengakui, banyak dari investor pemula yang menanamkan modalnya di pasar modal karena takut ketinggalan (Fear of Missing Out/FOMO), tanpa benar-benar memahami soal investasi saham.

“Banyaknya investor ritel yang merupakan Gen MZ atau kurang dari 30 tahun, mengingatkan kita mengenai karakteristik generasi ini yang sangat tergantung dengan internet dan takut ketinggalan,” tulis laporan tersebut, dikutip Kamis (22/1/2026).

Hal ini sesuai dengan pendapat Kandell (1998) yang menyatakan, usia 18-25 tahun adalah kelompok yang terlihat lebih rentan terhadap ketergantungan internet yang merupakan masa transisi dari remaja akhir menuju ke dewasa muda dan sedang mengalami dinamika psikologis. Kondisi FOMO ini melekat dengan berbagai keputusan Gen MZ, termasuk dalam melakukan keputusan untuk berinvestasi.

Investor pasar modal Indonesia

Warga mengakses data saham menggunakan gawai di Jakarta, Selasa (11/2/2025).ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.

“Hal ini terkonfirmasi dengan temuan hasil wawancara mendalam yang menggambarkan bahwa karakteristik lain dari investor ritel merupakan masyarakat awam yang merasa takut ketinggalan. Banyak investor-investor baru khususnya yang mengetahui pasar modal melalui influencer di media sosial tidak memiliki kemampuan untuk melakukan analisis saham baik secara teknikal maupun fundamental,” tulis laporan kajian BEI dan UI.

Padahal, secara “buta” mengikuti influencer keuangan, khususnya saham, bukannya tanpa risiko. Pada tahun 2024 lalu, sempat muncul pula kasus influencer saham yang mengelola dana masyarakat senilai puluhan miliar. Diketahui, akun @profesor _saham di aplikasi X sempat menyebut laporan dari 34 investor yang menitipkan dana di salah satu influencer saham. Influencer tersebut gagal mengelola uang tersebut dan menuai kerugian hingga Rp71 miliar.

Netizen pun sempat menyebut nama influencer asal Makassar Ahmad Rafif Raya yang menjadi sosok dibalik akun @waktunyabelisaham. Namun, usai viral kabar tersebut, terduga diketahui mengunci akun instagramnya.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan sosok influencer saham yang diduga gagal mengelola dana titipan investasi saham Rp71 miliar tidak pernah mengikuti pelatihan kompetensi resmi dari regulator.

"Nama tersebut belum pernah mengikuti program inkubator di BEI," kata Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik pada Maret 2025, melansir dari CNBC Indonesia.

Teranyar, Ahmad Rafif sempat berjanji akan mengganti kerugian para nasabahnya secara bertahap.

Namun, Ahmad Rafif Raya justru menghilang.

"Belum ada [ganti rugi] sama sekali, Rafif dkk tidak bisa dihubungi sejak Juli 2024," ujar salah satu korban Ahmad Rafif bernama Maldini dilansir dari Bloomberg Technoz, Selasa (11/3/2025).

Investor pasar modal Indonesia

Warga mengakses data saham dari perangkat laptop dan gawai di Jakarta, Selasa (11/2/2025)ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.

Kepada Tirto, Rabu (21/1/2026), Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia, ChangKun Shin, menjelaskan bahwa investor pemula cenderung merasa lebih aman jika mengikuti keputusan mayoritas. Hal inilah yang kemudian memicu sikap FOMO mereka.

Beberapa faktor yang memicu hal ini antara lain kurangnya pengalaman, rendahnya kepercayaan diri dalam melakukan analisis, konsumsi informasi yang cenderung singkat dan tidak terverifikasi, serta rasa takut kehilangan peluang.

“Selain itu, ketika lingkungan pertemanan atau komunitas sedang ‘panas’ terhadap suatu saham tertentu, kenaikan harga jangka pendek dapat menimbulkan persepsi bahwa saham tersebut ‘pasti naik’,” kata Shin.

Di sisi lain, informasi menyebar sangat cepat dan real-time melalui media sosial. Belum lagi, di medsos pula kisah keuntungan jangka pendek sering lebih ditonjolkan, sementara risiko tidak dijelaskan secara seimbang. Sayangnya, investor pemula sering belum memiliki rencana investasi yang jelas, sehingga mudah terbawa arus pasar.

“Dalam kondisi pasar yang volatil, kenaikan harga yang tajam juga terlihat menarik sehingga memicu aksi ‘buying on hype’ atau membeli karena takut ketinggalan. Pada akhirnya, FOMO lebih sering terjadi ketika investor belum memiliki prinsip dasar seperti diversifikasi, cut loss, manajemen risiko, dan tujuan investasi jangka panjang,” lanjutnya.

Jika edukasi belum cukup kuat, ketika pasar berbalik arah, potensi kerugian besar dapat terjadi secara bersamaan.

Meski begitu, menurut Shin, penyebaran informasi investasi melalui medsos oleh para influencer memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial dapat menyampaikan informasi investasi dengan cepat dan membuat pasar modal lebih dekat serta lebih mudah dipahami, terutama bagi generasi muda. Hal ini berdampak positif dalam memperluas basis investor.

Namun di sisi lain, apabila informasi menyebar terlalu ‘viral’ atau bias, investor dapat mengambil keputusan tanpa memahami risiko secara memadai.

“Oleh karena itu, influencer maupun pembuat konten perlu mengutamakan etika, transparansi, dan penyampaian risiko secara bertanggung jawab, bukan hanya mengejar jumlah tayangan,” tegas Shin.

Perlindungan Kepada Investor: OJK Siapkan Aturan Baru untuk Finfluencer

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi mengakui, anak-anak muda yang baru berinvestasi memang cenderung bersikap FOMO. Sehingga, tidak heran jika ketika ada kasus yang menjerat influencer keuangan, Dampaknya juga dirasakan oleh investor-investor muda.

Hal inilah yang kemudian membuat OJK memutuskan untuk meningkatkan edukasi kepada investor, khususnya pemula.

“Kalau kita lihat memang anak-anak muda itu cenderung banyak yang FOMO ya. Satu ikut investasi apa, yang lain ikut. Makanya kita selalu edukasi,” kata Friderica, usai acara Pengembalian Dana Korban SCAM oleh IASC, di Gedung AA. Maramis, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).

Ilustrasi Influencer

Ilustrasi Influencer. FOTO/iStockphoto

Dalam seremoni pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/1/2025), Ketua Dewan Komisaris (DK) OJK, Mahendra Siregar juga mengakui, porsi transaksi investor ritel yang melonjak dari 38 persen di akhir 2024 menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir di 2025 mendorong terjadinya transaksi tidak wajar atau aksi penipuan di pasar saham.

“Artinya, kembali semakin meningkatkan urgency penguatan aspek pelindungan termasuk melindungi investor ritel dari praktik kemungkinan goreng-menggoreng saham, transaksi tidak wajar, serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya,” ujar dia.

Karenanya, ia mewanti-wanti BEI untuk memperkuat aspek integritas dan menjalankan perbaikan ekosistem pasar modal. Dus, diharapkan perlindungan kepada investor ritel bisa diberikan.

“Hal-hal itu menunjukkan bahwa untuk merealisasikan ruang dan potensi pertumbuhan pasar modal yang masih sangat besar terus memerlukan perbaikan ekosistem, termasuk aspek integritas pasar yang menjadi landasan utama terciptanya a well-functioning and efficient capital market,” tegas Mahendra.

Pada saat yang sama, sejak pertengahan 2025 sampai saat ini, OJK juga masih menggodok aturan tentang finfluencer. Dalam rancangan beleid yang sudah masuk proses finalisasi ini, OJK memang tidak akan mengatur finfluencer sebagai individu. Namun, yang bakal diatur adalah iklan atau promosi terkait produk investasi atau keuangan.

"Terkait dengan iklannya ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan yang dilakukan oleh industri jasa keuangan yang adalah di bawah otoritas kewenangan OJK, jadi oleh perusahaannya menjanjikan return yang sekian besar atau fakes atau apa, itu kami masuk,” kata Mahendra, dalam apat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), di gedung DPR RI, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

“Tapi ini kan sebagai orang tadi, dia tidak dibawah pengawasan kami, tetapi tindakannya membawa risiko kepada kami," lanjutnya.

Ilustrasi Influencer

Ilustrasi Influencer. FOTO/iStockphoto

Senada, Vice President Infovesta, Wawan Hendrayana, menilai seiring dengan masifnya pertumbuhan influencer, untuk memberikan informasi yang akurat dan memadai seharusnya finfluencer memiliki sertifikasi khusus.

Sama halnya dengan Singapura yang mewajibkan finfluencer yang memberikan nasihat investasi atau keuangan kepada pengikutnya (follower) harus memiliki lisensi, Indonesia juga pada dasarnya bisa menerapkan aturan serupa.

Dus, saran yang diberikan oleh para pemengaruh tersebut bisa benar-benar dipertanggungjawabkan.

“Seharusnya, influencer keuangan memiliki sertifikasi dan terdaftar (di OJK) untuk menghindari informasi-informasi yang tidak akuratdan hanya menghindari pompom saham tanpa transparansi dan analisa yang jelas,” tutur Hendrayana, kepada Tirto, Rabu (21/1/2026).

Sebagai informasi, di Singapura, influencer keuangan harus berlisensi dan teregulasi di bawah Otoritas Moneter Singapura (MAS), mengikuti Financial Advisers Act, memastikan informasi jelas, menonjolkan risiko, dan mematuhi Kode Praktik Periklanan Singapura (Singapore Code of Advertising Practice - SCAP). Aturan ini ketat untuk finfluencer, yang dianggap memberikan saran keuangan jika menerima imbalan atas rekomendasi produk investasi.

Sayangnya, di Indonesia tidak demikian. Siapapun bisa membuat konten tentang keuangan dan investasi, termasuk saham.

“Edukasi dan literasi keuangan sedini mungkin, regulasi untuk para influencer dan transparansi, BEI harus dan menyediakan semua data untuk analisa, free float saham yang akan ditingkatkan juga baik agar likuiditas saham terjaga, faktor keamanan cyber juga harus ditinjau secara berkala untuk memitigasi fraud yang bisa saja membuat masyarakat takut berinvestasi,” tegas Hendrayana.

Dari sisi bursa, untuk mencapai target pertumbuhan pasar saham di tahun ini, BEI akan terus berupaya untuk meningkatkan kegiatan edukasi kepada publik, khususnya anak muda agar literasi semakin baik. Dus, pada giliran upaya ini akan meningkatkan inklusi keuangan masyarakat.

Pada saat yang sama, partisipasi investor institusi domestik dan investor asing juga katanya akan terus didorong.

“Dengan pertumbuhan demand dan supply yang terus meningkat kita harapkan momentum pertumbuhan ini akan terus terjaga,” tutur Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, saat dihubungi Tirto, Selasa (20/1/2026).

Baca juga artikel terkait INVESTOR atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Decode
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Farida Susanty