Menuju konten utama

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus 435,6 Miliar Dolar AS di Mei

Realisasi utang luar negeri Mei  tumbuh 6,8 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan April 2025 sebesar 8,2 persen (yoy).

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus 435,6 Miliar Dolar AS di Mei
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2025 tumbuh melambat ke posisi 435,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Realisasi utang luar negeri Mei tersebut tumbuh 6,8 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2025 sebesar 8,2 persen (yoy).

"Perkembangan tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN di sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN swasta," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya, dikutip Senin (14/7/2025).

Jika dirinci, posisi utang luar negeri pemerintah pada Mei 2025 sebesar 209,6 miliar dolar AS, tumbuh sebesar 9,8 persen (yoy). Pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 10,4 persen (yoy) pada April 2025.

Kata Ramdan, perlambatan pertumbuhan utang luar negeri pemerintah tersebut dipengaruhi oleh pembayaran jatuh tempo Surat Berharga Negara (SBN) internasional, di tengah aliran masuk modal asing pada SBN domestik. Sementara tingginya minat investor asing terhadap SBN domestik terjadi seiring tetap terjaganya kepercayaan investor global terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian perekonomian global.

“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan pada program prioritas dalam mendukung stabilitas dan momentum pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan ULN,” jelas dia.

Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22,3 persen dari total utang luar negeri pemerintah; Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib dengan porsi 18,7 persen; Jasa Pendidikan sebesar 16,5 persen; Konstruksi sebesar 12,0 persen; serta Transportasi dan Pergudangan dengan porsi 8,7 persen.

Seiring dengan perlambatan pertumbuhan itu, posisi utang luar negeri pemerintah tetap terjaga karena didominasi utang jangka panjang, dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total utang luar negeri pemerintah.

Di sisi lain, utang luar negeri swasta melanjutkan kontraksi pertumbuhan, dengan pada Mei 2025 berada pada posisi 196,4 miliar dolar AS. Posisi itu mengalami pertumbuhan kontraksi sebesar 0,9 persen (yoy), lebih besar dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,4 persen (yoy).

“Perkembangan tersebut bersumber dari ULN lembaga keuangan yang mencatat perlambatan pertumbuhan dari bulan sebelumnya sebesar 2,8 persen menjadi 1,2 persen pada Mei 2025 dan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (non-financial corporation) yang mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 1,4 persen (yoy), lebih besar dibandingkan kontraksi 1,2 persen (yoy) pada April 2025,” terang Ramdan.

Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,2 persen dari total ULN swasta.

“ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,5% terhadap total ULN swasta,” imbuh Ramdan.

Dengan perlambatan pertumbuhan ini, struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga sebesar 30,6 persen, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,6 persen dari total ULN.

“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” tegas Ramdan.

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” tukasnya.

Baca juga artikel terkait UTANG LUAR NEGERI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra