tirto.id - Perusahaan perdagangan komoditas global, Trafigura, angkat bicara setelah salah satu karyawannya yang bekerja di anak usaha di Indonesia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi yang melibatkan PT Pertamina (Persero).
Pernyataan tersebut disampaikan untuk merespons penetapan sembilan tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi minyak mentah dan hasil kilang di Pertamina oleh Kejaksaan Agung pada Kamis (11/7/2025).
Penyidik menduga para tersangka, termasuk salah satunya Martin Haendra Nata selaku Business Development Manager PT Trafigura periode pada 2019-2021, terlibat dalam sejumlah penyimpangan, mulai dari impor minyak mentah dan bahan bakar yang tidak sesuai ketentuan, hingga penyewaan kapal dan terminal bahan bakar yang bermasalah.
“Trafigura memahami bahwa karyawan tersebut baru-baru ini ditetapkan sebagai tersangka dalam penyelidikan yang melibatkan PT Pertamina,” kata juru bicara Trafigura seperti dikutip Reuters, Senin (14/7/2025).
Perusahaan yang berbasis di Swiss itu juga menyatakan telah memberikan bantuan hukum kepada karyawan dimaksud. “Trafigura memberikan pendampingan hukum yang sesuai kepada karyawan tersebut. Perusahaan saat ini menunggu rincian lebih lanjut mengenai tuduhan yang spesifik,” kata juru bicara tersebut.
Sebagai informasi, kasus ini ditaksir menyebabkan kerugian negara hingga Rp285 triliun atau setara dengan sekitar 17,58 miliar dolar AS.
Dalam penetapan tersangka baru tersebut, Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Abdul Qohar, menyampaikan bahwa Martin Haendra Nata dan delapan orang lainnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi Pertamina.
Sementara delapan tersangka lainnya adalah Mohammad Riza Chalid selaku pemilik PT Orbit Terminal Merak, Alfian Nasution selaku VP Supply dan Distribusi Kantor Pusat PT Pertamina 2011-2015, Hanung Budya Yuktyanta selaku Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina tahun 2014.
Kemudian ada Toto Nugroho selaku VP Integrated Supply Chain VP Crude and Product pada kantor pusat Pertamina pada 2018-2020. Kemudian, Arief Sukmara selaku eks Direktur Gas, Petrochemical and New Business Pertamina Internasional Shiping. Lalu, Dwi Sudarsono (DS), VP Product Trading ISC Pertamina pada 2019-2020.
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































